Minggu, 17 Juni 2012

KATHOPANISHAD

BAB  -  I

 

BAGIAN  -  I

(Kisah mengenai Nachiketas dirumah kematian) 
1.                  Pada suatu saat diswargaloka, Usan, putra dari Vajasrava (Gautama), melaksanakan suatu upacara pengorbanan, dengan mengorbankan semua yang dimilikinya. Beliau berputrakan seorang anak laki-laki yang bernama Nachiketas.
2.                 Sewaktu berbagai hadiah pengorbanan dipersembahkan, kegalauan (akan masa depan ayahnya) mengusik hati sanubari Nachiketas, yang pada saat itu masih seorang bocah kecil, dan iapun berpikir.
Keterangan : Usan putra dari Vajasrava melangsungkan upacara pengorbanan yang disebut Viswajit dimana ia harus menyerahkan semua harta benda yang dimilikinya kepada para resi dan fakir miskin. Upacara ini biasanya dilakukan oleh para raja yang berhasil mengalahkan kerajaan lainnya. Upacara ini juga biasanya dilakukan oleh sang kepala rumah tangga, dalam hal ini sang orang tua yang bersiap-siap ke hutan dan berburu, sambil memasuki kehidupannya sebagai Sang Sanyasi.
Pembicaraan dengan sang cucu, Nachiketas, ini malahan penuh dengan shradha (iman), ia memahami arti upacara yang dilaksanakan oleh ayahnya, Usan.
3.                  Sapi-sapi ini telah meneguk air untuk yang terakhir kalinya, menyantap rerumputan untuk yang terakhir kalinya, telah kering seluruh susunya dan telah tua, kurus kering dan lemah. Sia-sia saja (tanpa kebahagiaan) loka-loka yang akan dicapai oleh seseorang yang menghaturkan daksina dengan cara ini demi sebuah yagna (upacara pengorbanan yang bersifat suci).
4.              Ia berkata kepada ayahnya, “Ayahanda, kepada siapa dikau akan mempersembahkan diriku ini?”, ia mengulangi pertanyaannya ini sampai tiga kali, sampai-sampai ayahnya teramat murka dan berkata, “Pada Kematian akan kupersembahkan dirimu”.
Keterangan : Nachiketas yang berkesadaran tinggi paham betul bahwa ayahnya telah melakukan yagna ini secara tidak murni, padahal upacara Viswajit ini bersifat teramat sakral dan merupakan penyerahan total terhadap yang Maha Kuasa akan kehidupan duniawi ini demi mempersiapkan jalan menuju ke Pencapaian Kebenaran. Anak kecil ini sadar bahwa karena ia milik ayahnya, maka seharusnya iapun dikorbankan. Maka ia bertanya dengan lugu sampai tiga kali, tetapi sang ayah yang merasa tersindir oleh anak ini malahan murka dan menyatakan bahwa putranya ini akan dipersembahkan kepada dewa kematian.
5.               Nachiketas berpikir, “Dari kesemuanya yang berjumlah banyak ini aku akan pergi paling awal, dari kesemuanya yang berjumlah banyak ini aku akan pergi ditengah-tengah semuanya ini ; pekerjaan apakah yang akan dilaksanakan oleh Yama, Dewa Kematian, melalui diriku ini, yang telah dipersembahkan oleh ayahku ini?”
Keterangan : Sebenarnya Nachiketas sadar bahwa ucapan ayahnya bernada kesal dan tidak sungguh-sungguh berarti, tetapi anak yang saleh dan penuh dengan Kesadaran akan prinsip-prinsip Sanathana Dharma tahu dan paham bahwasanya apapun yang sudah dikatakan tidak dapat dijilat kembali, sehingga ia yang memang merupakan jenius spiritual langsung saja mempersiapkan jiwa raganya demi yagna ayahnya ini.
Disini sidang pembaca dapat menyimpulkan sendiri tentang hakikat dari Dharma dan adharma, tentang seorang yang tulus dan yang tidak tulus.
Bagi Nachiketas selama ini ia mempelajari bahwa ayahnya adalah sekaligus gurunya, dan seorang guru itu dipercaya tidak akan melakukan hal yang salah.
6.                “Ingat bagaimana leluhur kami bertindak, pertimbangkan juga bagaimana yang lain-lainnya bertindak pada saatnya, ibarat tanaman jagung, matilah manusia-manusia ini, dan ibarat tanaman jagung terlahir (hidup) kembali. “
Keterangan : Sloka ini langsung dialamatkan oleh sang anak kepada ayahnya dan sloka ini penuh dengan intisari kebijaksanaan yang dikandung semua Sruthis dan merupakan pengejawantahan dari Sanathana Dharma itu sendiri. Didalam sloka ini juga tersirat secara nyata sekali akan filosofi kelahiran kembali (reinkarnasi) yang merupakan salah satu sendi iman kita yang paling utama.
Nachiketas yang sadar akan karma, pralabdha dan jalan kehidupannya, pada saat ini sedang memberikan “teguran” kepada ayahnya bahwa kehidupan itu harus terhenti suatu saat, lalu mengapa ayahnya melaksanakan suatu bentuk adharma yang berdasarkan ilusi duniawi, yaitu keserakahan yang sifatnya palsu.
7.               Seorang Brahmin (Brahmana) memasuki sebuah rumah ibarat api. Manusia-manusia mempersembahkan ini agar (sang tamu) ini tenang. Vaisvata! Pergi dan ambillah air.
Keterangan : Diantara sloka 6 dan 7 tercipta keheningan yang dramatis dan terdengar sebuah suara yang tak “berbentuk” membimbing Nachiketas untuk memasuki Istana Kematian. Nachiketas memaksa ayahnya agar ia dipersembahkan kepada Dewa Kematian sesuai dengan ucapan sang ayah, dan sang putra ini meninggalkan rumahnya dan memasuki alam kematian.
Ada banyak teori tentang bagaimana ia sampai kegerbangnya Yama Dewa, singkatnya ia sampai pintu gerbang Istana Kematian tetapi harus menanti tiga hari dan tiga malam karena Dewa Yama sedang tidak berada ditempat. Nachiketas menunggu kedatangan Dewa Yama sambil berpuasa (suatu puasa atau upawasa adalah salah satu bentuk tapa-brata diantara upaya-upaya disiplin yang biasanya diajarkan oleh sang guru kepada muridnya agar jalan spiritual sang murid terbuka lebar).
Tiga hari berlalu dan Dewa Yama pun kembali ke Istananya serta mendapatkan ada seorang Brahmin sejati yang sedang berpuasa dirumahnya. Kata api di sloka mantra diatas berarti seorang Brahmana yang bukan berdasarkan garis keturunannya, tetapi berdasarkan tingkat budhi dan kesadarannya yang tinggi serta suci. Api bersifat sangat murni dan suci. Disini Nachiketas diibaratkan sebagai seorang Brahmin sejati dan suci, dan bagi Dewa Yama kehadiran Nachiketas adalah suatu kehormatan sekaligus beban spiritual yang amat berat. Ia sadar bahwa tamu yang satu ini bukan manusia sembarangan.
8.             “Harapan, hasrat, bersama-sama dengan orang-orang yang berbudi luhur, diskusi-diskusi penuh rasa persahabatan, pengorbanan dan pahala dari pemberian-pemberian yang bersifat suci, putra-putra dan ternak . . . .   semua ini hancur berantakan sekiranya dirumah seorang yang kurang pengetahuan (bodoh) tinggal seorang Brahmin tanpa memakan sesuatu (tanpa disuguhi atau diberi santapan oleh yang empunya rumah tersebut).
Keterangan : Didalam ajaran Sanathana Dharma, seorang tamu yang bersifat Brahmin sejati sangatlah dihormati oleh tuan rumah yang mendapatkan kunjungan seorang guru. Bagi sang empunya rumah dan keluarganya, kunjungan seorang suci dianggap berkah yang amat besar karena kaki sang orang suci ini dianggap menyucikan lantai rumah mereka. Jadi adalah suatu perbuatan yang nista kalau sampai terjadi tamu semacam ini tidak dihormati secara layaknya. Tiba-tiba saja Yama Raja mendapatkan seorang tamu suci dengan sifat-sifat seorang Brahmin sejati dirumahnya dan betapa terkejutnya beliau mengetahui bahwa sang tamu belum mendapatkan suguhan apapun juga selama tiga hari, bahkan sambil menunggu sang tamu malahan berpuasa selama tiga hari. Sruthi menyatakan bahwa seorang yang mengabaikan Brahmin yang sejati disebut apamedhasah (seorang yang alpa, idiot, bodoh sekali). Sanathana Dharma tidak berlaku untuk manusia saja, tetapi aturan-aturan dharma ini juga harus ditaati oleh para dewa dewi, bodhisatwa dan yang lainnya karena mereka adalah panutan dan penuntun manusia.
Didalam konsep Sanathana Dharma seorang tamu disebut sebagai Athihi-Narayana (atau manifestasi dari Tuhan itu sendiri). Memberikan santapan kepada seorang suci yang berkarakter Narayana Bhav dianggap sebagai salah satu dari Pancha Maha Yagna (Lima Pengorbanan Utama). Bagi sidang pembaca harus hati-hati membedakan bahwasanya tidak semua yang berkasta Brahmana harus dihormati, tetapi hanya orang-orang budiman yang menyandang sifat-sifat mulia sajalah yang harusnya dihormati dan dijadikan panutan serta diibaratkan sebagai seorang guru sejati dan insan mulia ini dapat saja berasal dari varna apa saja. Ciri-ciri insan yang agung ini selalu sederhana pembawaannya walaupun ia berasal dari golongan apapun juga, ia selalu penuh wibawa, pesona dan cahaya spiritual.
9.                  Yama berucap : “Wahai Brahmana, dikau adalah tamu kami yang terhormat, dan telah tinggal selama tiga malam dirumah kami tanpa menyantap sesuatu apapun juga. Oleh karena itu untuk penggantinya, kami mohon dikau untuk meminta tiga hal yang berkenan dihati kepada kami, wahai Brahmana, kami bersujud dihadapanmu. Semoga Kebajikan beserta denganku senantiasa.”
Keterangan : Suatu hal yang mengejutkan tentunya bagi sidang pembaca untuk mengetahui bahwa Yama Raja yang ditakuti oleh semua mahluk dan bahkan oleh para dewa dan manusia ternyata bersujud dan memohon maaf kepada seorang anak yang baru berusia sembilan tahun. Ada suatu nilai luhur yang telah hilang dibumi kita ini, yaitu menghormati orang lain yang lebih mulia. Umumnya kita yang merasa diri berkasta tinggi harus dihormati dengan bahasa yang khusus, dengan segala tata cara yang feodalistis. Seharusnya kita lebih banyak berintrospeksi dari cara Yama Dewa menghadapi Nachiketas ini. Dewa Kematian yang memegang otoritas tertinggi dijajaran dewa dewi ternyata juga adalah seorang Brahmin sejati.
10.            Nachiketas berucap : “Wahai Kematian! Permintaanku yang pertama agar ayahku (Gautama) bersikap welas asih, bajik dan jauh dari rasa amarah terhadap diriku, dan agar ia mengenalku dan menyambutku, sewaktu aku pulang dari kediamanku ini.”
Keterangan : Sekali lagi Nachiketas memperlihatkan sifat-sifat Brahminnya yang sejati. Tanpa memikirkan dirinya pribadi, yang diminta adalah kebajikan semata-mata bagi ayahnya, suatu contoh kesaputraan yang teramat mulia, walaupun ia telah dikorbankan oleh ayahnya kepada Dewa Kematian.
11.            “Melalui kehendakku, Anddalaki, putra Aruna, akan mengenalmu kembali seperti sebelum ini. Ia akan tidur secara damai dimalam hari, sewaktu ia menyaksikan dikau terlepas dari mulut kematian, ia akan kehilangan amarahnya.”
Keterangan : Di sloka ini Yama Raja langsung saja memenuhi permintaan Nachiketas yang pertama. Ayahanda Nachiketas mempunyai empat nama, yang di Upanishad disebut-sebut sebagai Gautama, Anddalaki, Aruni dan Vajasravasah. Kata Gautama mungkin adalah kata penghormatan baginya.
12.             Di swargaloka tidak terdapat rasa khawatir. Dikau tidak berada disana ; juga disana tidak terdapat kekhawatiran akan hari tua. Setelah menyeberangi rasa lapar dan rasa haus, seseorang di swargaloka berbahagia karena telah berada diatas (melampaui) rasa kesedihan.
Keterangan : Sambil mempersiapkan permintaannya yang kedua, Nachiketas mengagungkan kehidupan di swargaloka yang jauh dari berbagai penderitaan dan kekhawatiran akan hari tua. Manusia mempunyai lima tahap kehidupan yaitu kelahiran, masa kanak-kanak, masa muda, usia tua dan kematian. Sedangkan para dewa di swargaloka hanya memiliki tiga tahap pertama. Pada masa yang silam, yaitu pada jamannya Veda-Veda, Dewa Kematian dianggap sebagai dewa pembimbing seseorang kepintu sorga, pada masa kini Beliau dianggap sebagai dewa yang menakutkan, karena persepsi manusia telah berubah dari petunjuk-petunjuk Veda yang sarat dengan nilai-nilai spiritual yang mulia ke nilai-nilai duniawi yang sarat dengan materi pada saat ini.
13.             “Wahai Kematian, Dikau faham akan api yang menuju kearah swargaloka ; terangkan kepadaku yang penuh dengan rasa keingintahuan yang amat mendalam ini, akan unsur api ini, yang digunakan oleh mereka-mereka yang menginginkan kehidupan yang di sorga, inilah permintaanku yang kedua.”
Keterangan : Banyak manusia didunia ini yang menghabiskan waktu mereka dengan melakukan berbagai upacara, upaya spiritual, dana-punia, dan berbagai bentuk kebajikan agar mendapatkan pahala yang berupa kehidupan yang abadi di swargaloka. Bagi seorang Yogi atau Brahmin seperti Nachiketas, orang-orang ini adalah insan-insan yang bodoh, karena sebenarnya kehidupan disorgapun tidak abadi dan ada masa habisnya ; demi mereka-mereka ini ia memohon suatu petunjuk rahasia yang bersifat teramat mendalam yaitu sesuatu yang berhubungan dengan karma umat manusia. Kita lihat disini bahwa Nachiketas sebenarnya ingin menuntun umat manusia agar keluar dari unsur-unsur untuk mendapatkan pahala secara spiritual ; dan untuk itu ia memohon petunjuk kepada Yama Raja agar diberi ajaran pembebasan secara spiritual dari ilusi duniawi ini (termasuk didalamnya adalah swargaloka itu sendiri) yang sebenarnya bukanlah tujuan sejati kehidupan kita sebagai manusia dibumi ini. Seorang Hindu sejati seharusnya tidak mendambakan swargaloka, tetapi ia seharusnya menyadari akan hakikat dirinya sendiri dahulu sebagai Sang Atman yang berasal dari Yang Maha Atman (Paramatman). Secara tersirat dan hanya dimengerti oleh Yama Raja, sebenarnya Nachiketas melalui permintaannya yang kedua memohon agar diberi pengajaran suatu bentuk ajaran spiritual yang teramat rahasia demi kebebasan umat manusia dari ilusi duniawi dan spiritual ini yang merupakan hambatan kita kepenyatuan dengan Sang Atman dahulu lalu ke Sang Paramatman, yang adalah sebenarnya misi kita yang sejati, yang dilahirkan sebagai manusia yang berbudi (intelek).
14.            “Akan kami terangkan kepada dikau secara baik ; wahai Nachiketas, perhatikanlah ucapan-ucapan kami ini, kami tahu akan api yang menuju ke swargaloka ; pahamilah bahwa api (agni) yang menuju ke swarga ini adalah juga api yang menunjang alam semesta dan yang bersemayam didalam relung hati sanubari.”
Keterangan : Mulailah Yama Raja mengungkapkan rahasia alam yang disebut Agni-Vidya (ilmu pengetahuan atau pemujaan kepada Dewa Agni). Bagi manusia-manusia yang kurang paham akan nilai sesungguhnya, ia akan memuja Dewa Agni dengan berbagai ritual dan mengharapkan berbagai pahala. Bagi yang paham akan rahasia Agni ini secara sesungguhnya akan terbebaskan dari dunia ini. Agni atau api adalah unsur penunjang secara makro-kosmik dialam semesta ini dan dikenal sebagai Virat. Ia juga terletak direlung sanubari manusia yang berarti bahwa api ini adalah budhi (intelek spiritual) kita yang hanya terdapat didalam nurani kita yang paling dalam ibarat sebuah gua yang gelap dan teramat dalam (nihitam guhayam).
Sloka diatas menyadarkan kita bahwa bukan ritual yang penting tetapi penghayatan akan arti dan makna dari sesuatu pengorbanan, itulah yang harus dipahami secara sadar dan benar sebagai jembatan kearah pembebasan yang hakiki sifatnya.
Yama kemudian menerangkan kepadanya mengenai tatacara pengorbanan api ini, sumber dari berbagai loka-loka, batu-batu bata jenis apa yang harus dipergunakan sebagai altar, berapa jumlah dan bagaimana menata batu-batu bata ini dan Nachiketas mengulang kembali semua itu kepada gurunya sama seperti yang dijelaskan oleh sang guru. Kemudian Dewa Yama yang sangat terkesan dan bahagia dengan muridnya berkata lagi.
15.            Yama kemudian menerangkan kepadanya mengenai tatacara pengorbanan api ini, sumber dari berbagai dunia (loka-loka); batubara jenis apa saja yang harus dipergunakan sebagai altar, kemudian berapa jumlah dan cara menata susunan batu-batu bata ini, dan Nachiketas mengulang kembali semua itu kepada gurunya tepat seperti yang dijelaskan oleh Sang Guru. Dewa Yama yang sangat terkesan dan berbahagia dengan sang murid ini, kemudian berkata lagi.
Keterangan : Tidak diterangkan dikarya ini apa saja sebenarnya yang diajarkan oleh Yama Raja kepada Nachiketas, tetapi tentunya sesuatu yang teramat rumit dan memakan waktu agar sang murid gagal mencernakannya, ternyata Nachiketas adalah seorang murid yang jenius dan berbakti secara tulus dan ia mampu menjelaskan kembali semua ajaran Dewa Yama secara tepat dan terperinci. Tentu saja sang guru merasa bangga dan teramat puas serta berbahagia mendapatkan murid berbakat semacam ini, dan langsung saja Yama Raja memberikan sebuah anugerah kepadanya.
16.            Merasa sangat puas, Kematian yang bersifat mahatma (Maha Atma) ini berucap kepadanya : “Kuberikan kepadamu sebuah anugerah yang lain ; upacara pengorbanan api ini akan menggunakan namamu; dan ambillah olehmu untaian kalung yang beraneka rupa ini.”
Keterangan : Yama Raja menganugerahkan seuntai kalung yang beraneka rupa wujudnya kepada Nachiketas. Dalam bahasa Sansekerta dikarya Upanishad ini, kalung tersebut disebut sebagai sringam yang dapat berarti :
1.                  kalungan – contoh kalungan bunga.
2.                  dapat juga berarti tindakan-tindakan yang dapat menghasilkan berbagai pahala yang bersifat mulia dan agung.
Menurut ajaran Shri Sankara Acharya, seorang maha filsuf dimasa yang lalu, kemungkinan Yama Raja telah menganugerahkan sebuah ajaran mistik teramat rahasia kepada Nachiketas, juga beliau memperkirakan mungkin saja kalungan ini dapat juga berarti “jalan”, yaitu sebuah ajaran.
17.            Barangsiapa melaksanakan upacara pengorbanan Api Nachiketas ini selama tiga kali dan telah bersatu dengan “tiga” serta telah melaksanakan tiga kewajiban, maka ia akan melampaui kelahiran dan kematian. Sewaktu seseorang memahami akan Api yang abadi dan bercahaya ini, yang lahir dari Sang Brahman dan menyadari akan hakikat keberadaan Yang Maha Esa, ia akan mendapatkan kedamaian yang abadi.
Keterangan : Kata “tiga” diatas berarti tiga kali atau rangkap tiga. Pengorbanan api gaya Nachiketas rangkap tiga dapat diartikan seseorang yang mempelajari, memahami dan melaksanakan Agni-Hotra. Juga dapat diartikan seseorang yang sudah tiga kali melaksanakan upacara ini dapat juga ditafsirkan sebagai tiga jenis Agni-Hotra yaitu Garhapatya-Agni, Ahavantya-Agni dan Daksina-Agni.
Tetapi  pendapat ahli Upanishad yang lain mengatakan rangkap tiga disini dapat berarti :
a.       seseorang yang telah mendapatkan berkah dari orang tua atau guru ;
b.      seseorang yang telah mendapatkan saripati dari tiga bentuk ilmu pengetahuan, contohnya pathyaksha pramana (persepsi langsung), anumana pramana (sabda para kaum bijak, atau agama) ;
c.       menurut Shankara dapat juga berarti Veda, Smritis dan Shastras.
Tiga bentuk kewajiban yang disebutkan dalam sloka diatas adalah kewajiban seorang Brahmana sehari-hari yaitu pengorbanan, membaca (japa) mantra-mantra Veda tertentu dan berdana-punia. Mereka-mereka yang memenuhi ketiga kriteria tersebut diatas akan terlepas dari siklus (kematian dan kelahiran) yang berulang-ulang dikerajaannya Dewa Indra, sewaktu mereka ini menyadari akan hakikat Sang Jati Diri (Api) ini.
18.             Barangsiapa yang memahami tiga Api Nachiketas berdasarkan ilmu pengetahuan ini, membebaskan dirinya dari belenggu kematian dan pergi jauh melampaui berbagai penderitaan, ia berbahagia disorga.
Keterangan : Upanishad ini menerangkan, bahwa barangsiapa melaksanakan bentuk Agni-Hotra Nachiketas ini dengan mengagungkan jalan karma dengan disertai meditasi (upasana) akan menyadari Sang Jati Dirinya sebagai Virat (Makrokosmik, buana agung). Yama Raja di sloka mantra ini menyimpulkan nasehat-nasehatnya mengenai upacara api Nachiketas ini dengan mengagungkan Karma (pekerjaan sehari-hari sebagai pahalanya). Beliau menyatakan barangsiapa paham akan tiga bentuk api Nachiketas ini  akan terbebaskan dari belenggu kematian. Dan ketiga bentuk Agni-Vidya ini adalah :
a.       batu bata ;
b.      jumlah batu-batu
c.       tatacara pelaksanaan upacara.
Ketiga faktor ini sebenarnya adalah symbol-simbol dari berbagai upaya pelaksanaan demi mencapai kesadaran Sang Atman didalam diri kita; seseorang yang telah menyadari akan hakikat Sang Atman didalam dirinya akan mencapai tahap Hiranyagarbha (Brahmaloka) setelah kematiannya.

19.         Ini adalah tri-agni wahai Nachiketas, yang menuju ke swargaloka yang dikau dambakan, melalui permintaanmu yang kedua, insan-insan (didunia) akan menyebut Api ini sebagai milikmu semata-mata. Wahai Nachiketas, mintalah permintaan yang ketiga.
Keterangan : Dewa kematian sangat berbahagia dan puas akan daya intelegensia sang murid dan juga akan keluhuran budinya dan sang dewa ini segera menganugerahkan berkahnya berkali-kali bahkan Yama menyatakan semenjak saat itu ritual pengorbanan tersebut akan dikenal sebagai Agni-Hotra Nachiketas.
Lebih dari itu, sebelum sang murid lupa, Dewa Kematian mengingatkannya bahwa permintaan ketiga belum juga diajukan walaupun Yama telah memberikan anugerah yang lainnya, Dewa Yama tetap bersikap sportif dan ingin menganugerahkan berkah yang ketiga.

20.         Ada semacam keragu-raguan bahwasanya sewaktu seseorang meninggal dunia . . . . . . ada yang mengatakan ia sudah tidak eksis dan ada yang mengatakan ia masih eksis . . . . daku ingin mengetahui tentang hal ini sebagaimana yang diajarkan olehmu. Ini permintaanku yang ketiga.
Keterangan : Menurut berbagai kalangan peneliti spiritual di India, dari berbagai kurun waktu yang berlainan, Nachiketas adalah seorang jenius spiritual.
Pertama ia memohon kebajikan untuk orang tuanya, kemudian ia memohon ilmu pengetahuan mengenai kebebasan spiritual bagi umat manusia, ketiga pada saat kesempatan ini ia memohon penerangan yang terperinci mengenai keberadaan seseorang setelah orang tersebut meninggalkan raga yang fana ini dan bertransmigrasi ke loka-loka yang lainnya. Apakah manusia yang telah tiada lagi didunia ini, masih dapat disebut eksis (ada) atau sudah tidak eksis (tiada) lagi?
Dengan pertanyaan ini sekali lagi umat manusia diuntungkan oleh Nachiketas khususnya pengikut Sanathana Dharma. Manusia modern boleh bertanya kepada dirinya yang selama hidupnya secara mati-matian menumpuk harta kekayaan bagi diri dan keluarganya, apa saja yang telah mereka lakukan demi kemanusiaan. Seharusnya kita malu kepada Nachiketas yang baru berusia sembilan tahun, tetapi telah memikirkan nasib umat manusia ini. Yama Dewa sangat terkejut karena sekali ini mau tidak mau ia harus mengungkapkan sesuatu yang seharusnya tidak boleh “diketahui” umat manusia. Ia berusaha sedapat mungkin mengelak dari pertanyaan ini.

21.        Dari sudut titik ini bahkan para dewa yang diciptakan pada masa yang lalu masih terselubung oleh keragu-raguan akan arti dan hakikat kematian. Amat sukar untuk memahami kematian ini yang begitu lembut sifatnya. Wahai Nachiketas, pilihlah sebuah pertanyaan yang lain saja; jangan menekanku dengan pertanyaan yang satu ini, biarkan hal itu diserahkan kepadaku saja.
Keterangan : Sebenarnya Yama Dewa bukan tidak mau membuka rahasia tentang kematian kepada Nachiketas, tetapi sebagai lazimnya seorang guru yang baik dan bertanggung jawab, beliau ingin memastikan diri dulu apakah betul-betul sang murid sudah siap jiwa raganya dan juga bathinnya untuk menerima ajaran agung ini. Bukan seperti dizaman edan dewasa ini, siap atau belum siapnya seseorang, ia dapat menyuap sang guru dan segera lulus. Seorang guru adalah seorang Brahmin yang sejati, yang bertanggung jawab bukan saja pada dirinya pribadi tetapi juga terhadap masyarakat luas dan kepada Sang Pencipta itu sendiri. Tidak mudah mendapatkan guru berkarakter sedemikian mulia dizaman yang serba cepat dan materialistis ini.

22.         Dikau mengatakan, wahai kematian, bahwa bahkan para dewa ragu-ragu akan hal ini dan sukar sekali untuk memahami akan hakikat kematian ini. Tidak ada seorang yang lain selain dikau, yang dapat aku temukan, yang mampu menjawab pertanyaanku ini. Tidak ada permintaan yang dapat menyamai permintaan yang satu ini.
Keterangan : Kalau para dewa saja tidak paham akan hakikat kematian, apalagi kita manusia dan mahluk-mahluk lainnya, demikian pikir Nachiketas. Tetapi Dewa Kematian adalah seorang dewa yang lain daripada yang lain, beliau bahkan lebih berkuasa dan mengetahui segala sesuatu tentang kematian karena itu adalah tugasnya sehari-hari.
Beliau pasti memahami akan Sang Jati Diri, pikir Nachiketas, karena beliaulah otoritas tertinggi dibidang ini, jadi tidak mungkin ada guru yang lebih piawai selain Dewa Kematian.

23.         “Ambillah olehmu, putra-putra dan cucu-cucu laki-laki yang dapat berusia ratusan tahun, dan atau ternak, gajah, emas, dan kuda-kuda dalam jumlah yang tak terbatas. Ambillah harta benda seluas bumi ini, dan hiduplah sepanjang masa yang dikau kehendaki.”
Keterangan : Inilah jalan Sidhi yang selalu diberikan oleh seorang guru, dewa atau oleh Yang Maha Kuasa kepada seseorang yang sedang meniti jalan kebenaran. Begitu bhakta tergiur oleh harta benda atau kekuatan-kekuatan (bhal) tertentu, maka melencenglah ia dari tujuan meditasi atau jalan dharmanya. Sudah menjadi suatu bentuk pengujian sang guru akan menyesatkan murid-muridnya, sang guru juga sebenarnya sudah tahu kekuatan sang murid dan sudah yakin siapa yang lulus dan yang tidak lulus ujiannya.

24.         Adalagi yang dapat kau pilih yang tidak kalah dari anugerah yang diatas, sekiranya pantas dan layak untukmu yaitu kekayaan dan usia yang panjang ; sebagai raja diatas bumi yang luas ini, Nachiketas, aku akan membuatmu menikmati seluruh hasrat-hasratmu.
Keterangan : Tetapi Nachiketas tetap tidak bergeming dari pendiriannya, walaupun ia ditawari dengan berbagai kenikmatan dan harta benda duniawi ini. Dalam sejarah Sanathana Dharma sudah beberapa resi dan raja yang jatuh dalam ujian-ujian semacam ini.

25.         Apapun yang sulit dicapai didunia yang serba fana ini, dapat kau minta sesuai dengan kehendakmu. Bagaimana kalau kuberikan bidadari-bidadari nan cantik jelita lengkap dengan perangkat musik sorgawi dan kereta-kereta kencana yang tidak mungkin dapat dinikmati oleh manusia, ambillah mereka, wahai Nachiketas! Tetapi jangan dikau bertanya akan keadaan Sang Jiwa seseorang yang telah meninggal dunia.
Keterangan : Sekali lagi Yama Dewa menguji ketegaran sang murid yang masih berusia sangat muda ini, tetapi tetap saja Nachiketas tak tergiur oleh semua tawaran duniawi dan sorgawi ini. Sebenarnya para dewa dewi pantang untuk berhubungan dengan manusia secara perkawinan, Yama Dewa melanggar ketentuan ini demi lestarinya ajaran rahasia ini, tetapi tetap saja sang murid tidak mundur dari pendiriannya.
Banyak yang berpendapat seorang anak kecil yang masih ingusan tentu saja tidak tahu akan soal sex dan sebagainya. Tetapi rupanya Nachiketas adalah seorang yang berjiwa mulia yang sudah sempurna, sehingga umur tidak menjadi penghalang lagi karena ia adalah seorang Brahmin dalam arti yang hakiki.

26.         Semua ini tidak abadi sifatnya, wahai Kematian, semua ini akan layu, begitupun apa yang memanasi indra manusia. Bahkan usia yang terpanjang adalah pendek. Dan semua kereta kencana, musik dan tari-tarian sorgawi ini sebenarnya adalah milikmu semata-mata.
Keterangan : Nachiketas walau masih sangat muda usianya sadar sekali bahwa semua pemberian ini hanya manis pada mulanya, tetapi lama kelamaan setiap kenikmatan inipun menimbulkan kejenuhan dan penderitaan pada setiap insan ; apa gunanya umur panjang, kalau selalu sakit-sakitan dan anak cucu saling berkelahi memperebutkan warisan. Semua ini malahan menjadi beban dimasa kemudian. Nachiketas malahan terkesan jijik dengan semua tawaran ini.

27.         Seorang manusia tidak dapat terpuaskan dengan harta benda belaka. Seandainya diperlukan harta benda dapat kami peroleh dari dharsanamu. Kamipun dapat hidup sepanjang yang Dikau kehendaki. Jadi hanya permohonan yang kuajukan saja yang sebenarnya pantas kudapat.
Keterangan : Tidak lebih dan tidak kurang secara tegas anak ini menuntut haknya semata dan semua itu ia haturkan dengan penuh hormat kepada gurunya. Padahal setiap hari manusia ini memuja ditempat-tempat suci dan meminta ini-itu kepada para dewa dan Yang Maha Kuasa tanpa ada habis-habisnya, seakan-akan Yang Maha Esa itu adalah pegawai kita yang harus melayani kita. Jarang kita sadar apa yang menjadi hak kita dan apa yang bukan hak kita sesungguhnya, karena terliput oleh berbagai nafsu dan hasrat duniawi yang tidak ada habis-habisnya.
Hanya dengan menghaturkan sebatang dupa dan sedikit bunga kita sering sekali meminta hal-hal yang bersifat fantastis kepada Tuhan Yang Maha Esa. Nachiketas ternyata malahan tidak tertarik akan semua pesona duniawi karena dibalik pesona ini hanya terdapat penderitaan yang menyakitkan.

28.         Apakah yang dapat diperoleh oleh seseorang yang berusia lanjut dan telah menikmati berbagai kenikmatan dunia ini (tetapi akhirnya harus mati juga), setelah ia menghadap seseorang yang bersifat abadi.
Keterangan : Nachiketas sangat sadar bahwa dihadapannya hadir seorang yang bersifat abadi, dan pertemuan ini mungkin tidak akan terulang lagi bagi manusia yang lain, jadi selain ilmu pengetahuan tentang keabadian itu sendiri tidak ada lagi hal lain yang lebih penting dan berguna baginya dan bagi umat manusia itu sendiri.
Kata orang-orang Jawa yang bijak, dunia ini hanya tempat persinggahan yang bersifat sementara dan hanya untuk menumpang minum saja. Kata minum walau terkesan kiasan yang sederhana sebenarnya juga dapat berarti menimba ilmu pengetahuan. Sayang manusia malahan menjadikan semua sarana duniawi ini untuk menyesatkan dirinya dari pada memanjat lebih jauh dengan ilmu pengetahuan.

29.         “Wahai Kematian, beritahukanlah kepada Kami tentang kematian ini, karena manusia penuh dengan keragu-raguan akan hal ini, yang merupakan jalan kedunia yang lain. Aku tidak memilih yang lain, selain ilmu pengetahuan Sang Jiwa ini."
  
Dengan demikian berakhirlah Vali pertama dari Bab Pertama
 
BAGIAN – 2
(Ajaran Dewa Kematian akan Keabadian …….
Pengertian dan Kekhawatiran akan Realitas Nan Abadi)

1.            Yama berucap : “ Yang satu penuh dengan kebajikan, dan yang satunya lagi penuh dengan kenikmatan. Kedua factor ini memiliki tujuan-tujuan yang berlainan tetapi kedua-duanya membelenggu setiap manusia. Barangsiapa diberkati maka ia akan memilih kebajikan semata-mata diantara kedua sifat tersebut, tetapi barangsiapa memilih kenikmatan, maka ia akan kehilangan ujung (jalan) kebenaran.
Keterangan : Sudah menjadi sifat dasar setiap manusia untuk selalu mencapai kebahagiaan dan menikmatinya dari segala sisi. Sifat kebahagiaan ini adalah salah satu kenikmatan duniawi dan manusia cenderung sedih atau menderita kalau kekurangan atau kehilangan sedikit saja. Sesuatu yang penuh dengan kebajikan belum tentu memberikan kenikmatan, malahan mungkin penuh dengan penderitaan, walaupun kadang-kadang ada sifat-sifat kebajikan yang menghasilkan kenikmatan. Seseorang yang meniti jalan kebajikan dengan susah payah, pada suatu masa akan mencapai ujung jalan tersebut yang disebut Ujung Kebenaran yang hakiki, tetapi karena manusia cenderung berbuat kebajikan oleh motif-motif penuh pamrih, maka sering sekali ia tersesat diujung jalan yang penuh dengan kebahagiaan yang bersifat duniawi. Dipihak lain dalam kenikmatan adalah jalan yang penuh dengan dosa dan kebatilan. Kedua jalan tersebut tanpa penalaran yang sejati dan tulus sebenarnya adalah belenggu bagi setiap manusia.

2.            Kebajikan dan kenikmatan, kedua-duanya mendekati setiap manusia ; seseorang yang cerdas meneliti dan memilih satu diantara kedua factor ini ; bagi seorang yang cerdas, ia akan memilih kebajikan dan bagi yang kurang pengetahuannya, ia akan memilih kenikmatan demi kepuasan raganya.
Keterangan : Manusia secara duniawi (karmanya) adalah perencana masa depannya sendiri. Yang Maha Kuasa telah menyediakan kedua jalan tersebut bagi kita dan Beliaupun telah memberikan kebebasan terbatas kepada manusia untuk memilih jalan mana saja yang kita kehendaki.

3.            Wahai Nachiketas, dikau telah menanggalkan berbagai nafsu dan hasrat akan objek-objek duniawi yang manis ini, dikau telah mempelajari hasil yang sebenarnya dari setiap objek duniawi ini, dikau tidak menghendaki “jalan kekayaan” ini, dijalan mana telah banyak manusia yang tenggelam.

4.            Kedua factor, kekurang-pengetahuan (kebodohan) dan ilmu pengetahuan mempunyai jarak yang amat luas (diantara mereka) dan menuju ke tujuan-tujuan yang berbeda. Aku yakin Nachiketas telah memilih jalan ilmu pengetahuan, karena berbagai ragam nafsu dan hasrat tidak sanggup menggoncangmu.

5.           Orang-orang yang bodoh, yang hidup ditengah-tengah kegelapan tetapi berkhayal seakan-akan bijaksana dan berilmu tinggi, jalan berkeliling melalui berbagai jalan yang berkelok-kelok, ibarat seorang buta yang dituntun oleh orang buta yang lainnya.
Keterangan : Janganlah mentang-mentang menyandang kasta Brahmana atau merasa sangat paham akan Ved-Shastra dan lain sebagainya, lalu seseorang merasa dirinya atau golongannya saja yang benar. Pandita atau Brahmana semacam ini diibaratkan dengan orang-orang yang buta, bayangkan kalau mereka menuntun umat yang juga buta.

6.            Jalan ke Dunia setelah ini tidak terlihat oleh seseorang yang bodoh yang bersifat kekanak-kanakn, karena terbius oleh harta bendanya. Ia berpikir, “Hanya inilah dunia ini “, dan tidak ada dunia yang lain, dengan demikian ia tersandung lagi dan lagi dibawah pengaruhku.

7.             Ia (Sang Jati Diri, Atman) tidak mampu didengarkan oleh banyak manusia di dunia ini, dan kalau ada yang pernah mendengarkan tentang Dirinya, belum tentu sadar dan menghayati akan keberadaanNya ; menakjubkan sekali (kalau demikian halnya), sekiranya kita dapat menemukan seseorang yang mampu mengajari dirinya akan Sang Atman ini; menakjubkan sekali sekiranya ada yang sadar dan paham akan Sang Jati Diri ini, begitu ia diajarkan oleh gurunya.
Keterangan : Ilmu pengetahuan tentang Sang Jati Diri (Atman) disebut juga sebagai Brahman-Vidya (ilmu pengetahuan tentang Sang Pencipta). Menurut beberapa orang ahli, Resi Vyasa mungkin mendapatkan ilham dan inspirasi dari karya Kathopanishad ini sewaktu beliau mengarang Shrimad Bhagavatham. Juga diduga Bhagavat Gita pun terpengaruh oleh ajaran-ajaran yang ada dikarya agung dan suci ini. Secara teoritis kita mungkin sudah banyak membaca dan mengetahui tentang Sang Atman, tetapi yang sudah merealisasikannya ada berapa orang? Bagaimana merealisasikannya didalam kehidupan duniawi dewasa ini, dimana manusia cenderung bersifat economic-animal (binatang-ekonomi). Tujuan kehidupan dewasa ini sudah bergeser dari realisasi akan nilai-nilai Ketuhanan kenilai-nilai ekonomi dimanapun juga ; dari negara adidaya ke Indonesia ini, kesemuanya terkena imbas ekonomi ini. Setiap manusia dari yang paling miskin sampai ke negarawan, telah terjerat dan terbius oleh nilai-nilai ekonomi Barat yang ternyata sangat menyengsarakan manusia dan menjauhkannya dari dunia spiritual dan penghayatan akan Tuhan Yang Maha Esa. Akibatnya hakikat akan Sang Jati Diri telah kabur dari diri manusia modern dewasa ini. Tuhan itu sebenarnya teramat dekat dengan kita semua, tetapi kita malahan menjauhkanNya dari diri kita akibat kebodohan atau kekurang pengetahuan spiritual kita. Dewasa ini jalan itu telah dipilih oleh sebagian besar umat manusia.
Nachiketas dan visinya memperingatkan kita bahwa Yang Maha Esa sebenarnya masih sayang kepada kita, tetapi sayangkah kita sebenar-benarnya pada diri kita sendiri?

8.            “Sang Jati Diri itu, sewaktu diajarkan oleh seseorang yang rendah budinya, akan sukar untuk dipahami karena cara mengajarnya berbelit-belit. Tetapi seandainya diajarkan oleh seorang guru sejati yang telah manunggal (menyatu dengan Sang Brahman), maka tiada keragu-raguan lagi bagi sang murid untuk memahami Sang Jati Diri ini, yang bersifat lebih lembut dari yang terlembut dan yang tak dapat dicapai melalui perdebatan”.
Keterangan : Guru yang baik memerlukan murid yang setara, demikian juga sebaliknya, baru Brahma-Vidya ini akan dapat diterangkan secara sempurna tanpa keragu-raguan akan hakikat Sang Jati Diri. Ilmu ini tidak dapat diperoleh melalui perdebatan yang kosong dan berkepanjangan, tetapi melalui penalaran yang bersifat teramat lembut, karena Sang Atman itu sendiri adalah unsur terlembut diantara semuanya yang lembut. Hanya yang lembut yang sanggup mengenal sifat lembut lainnya dan kemudian lambat laun menyatu denganNya.

9.            Ilmu pengetahuan ini tidak dapat diperoleh melalui pertentangan, tetapi sebenarnya mudah dimengerti, wahai yang kusayangi, sewaktu diajarkan oleh seseorang yang tidak memiliki rasa dualisme ; dikau telah mendapatkannya sekarang ini; dikau telah bersatu dengan Kebenaran Hakiki. Semoga kita semua, wahai Nachiketas, mendapatkan murid seperti dikau.
Keterangan : Dapatkah mata kita melihat mata kita sendiri, tidak mungkin, kecuali melalui pantulan dicermin, itupun selalu merupakan pantulan yang terbalik. Demikian juga jiwa kita tidak mungkin menyaksikan Sang Atman melalui diskusi, perdebatan ataupun pertentangan kecuali melalui pantulan intuisi dan nurani kita yang sejati.
Seorang guru setaraf Yama Raja memerlukan seorang murid setaraf Nachiketas, barulah Brahma-Vidya ini layak untuk disebarluaskan dan untuk dipelajari. Dan hal ini tidak terjadi setiap hari, oleh karena itu Yama Raja menguji sang murid dengan mengatakan semoga para guru dapat memperoleh murid-murid setaraf Nachiketas, baru sang murid dan sang guru tersebut beruntung.

10.         Ketahuilah bahwa harta ini bersifat tidak abadi (Karma dan pahalanya) karena lazimnya sesuatu yang bersifat abadi tidak dapat dicapai oleh sesuatu yang tidak abadi. Oleh karena itu pada masa lalu upacara Agni-Hotra Nachiketas telah dilaksanakan olehKu melalui factor-faktor yang bersifat tidak abadi, walaupun begitu aku telah mendapatkan yang Abadi.
Keterangan :  Yama Raja yang teramat kagum akan kecerdasan dan sifat-sifat Nachiketas, menerangkan kepada sang muridnya bahwa dimasa lalu iapun pernah melakukan pencaharian spiritual seperti yang sedang dilakukan oleh Nachiketas, dan pada waktu itu Yama Raja telah melaksanakan Agni-Hotra Nachiketas yang sebenarnya adalah suatu bentuk ritual yang tidak bersifat abadi, tetapi walaupun begitu ternyata Yama Raja akhirnya menemukan Keabadian yang Hakiki, bahkan dari Yang Maha Esa beliau mendapatkan tugas sebagai Dewa Kematian.

11.         Akhir dari semua hasrat, basis dunia, pahala tanpa akhir hasil pengorbanan, dunia lain dimana tidak terdapat kekhawatiran, hal-hal yang pantas dibanggakan, Brahmaloka (semua aspek ini adalah ciri-ciri dari Brahmaloka yang juga dikenal dengan nama Hiranyagarha di Rig Veda, yang juga disebut tujuan moksha yang merupakan idaman semua pemeluk agama Hindu), semua aspek ini didambakan oleh kaum yang bijak, wahai Nachiketas, tetapi secara tegar dan penuh dengan budhi dikau menolak semuanya itu.
Keterangan : Yama Raja sangat tergetar dan kagum melihat Nachiketas secara tegar menolak bahkan Hiranyagarbha yang selalu didamba-dambakan oleh umat Hindu sedunia, bukankah setiap manusia mendambakan moksha dan ingin tinggal di Brahmaloka, sorga tertinggi. Tetapi Nachiketas lebih mendambakan ilmu pengetahuan akan Realitas yang Maha Kuasa, dan ia yakin bahwa dihadapannya hadir seorang guru agung (Yama Dewa) yang tanpa tandingannya dijajaran para dewa dewi. Sang gurupun sebaliknya amat bangga mendapatkan murid yang penuh dedikasi dan tingkat kesadaran spiritual (Vairagya) yang teramat tinggi dan mulia ini, padahal baru berusia sembilan tahun. Nachiketas yakin bahwa semua upacara ritual yang kosong dan untuk pertunjukan belaka tidak akan mungkin menandingi ilmu tentang Sang Jati Diri bagi umat manusia sepanjang masa.

12.        “Seorang Resi yang bijak, melalui jalan meditasi dan pengarahan semadinya ke sang Jati Diri akan menemukan Yang Maha Kuna (Puranam), yang sulit untuk disaksikan, yang tersembunyi didalam relung hati sanubari, yang bersemayam dijurang yang paling dalam, yang berastana didalam budhi dan yang sebenar-benarnya duduk ditengah-tengah berbagai kegalauan pikiran dan nafsu, Resi ini jauh dari kebahagiaan dan penderitaan (karena telah melepaskan semua itu).”
Keterangan : Yama Raja secara tersirat tetapi langsung menerangkan kepada Nachiketas bahwa ada Kebenaran Abadi yang lebih lembut dari totalitas pikiran dan seorang pencari kebenaran mampu mencapainya serta menyadari akan Hakikatnya yang disebut, “Inilah Aku” (Ayam Aham Asmi) suatu bentuk kemanunggalan yang begitu intim dan penuh karunia dengan Sang Jati Diri. Yang Maha Kuna (Puranam) adalah salah satu sebutan untuk Yang Maha Kuasa, yang telah hadir dari masa-masa teramat silam (Kuna).
Sang Atman yang merupakan manifestasi dari Yang Maha Kuasa (Paramatman) disebut juga sebagai Yang Maha Kuna. Seseorang tidak begitu saja dapat menyaksikan Ishwara Dharsana (menyaksikan Sang Jati Diri), ibarat kita pergi menonton film tetapi haruslah melalui upaya samadi yang dilandasi faktor-faktor non-ego, non-nafsu dan lain sebagainya.
Nachiketas oleh Yama Dewa dianggap sangat pantas untuk dibimbing dengan Brahma-Vidya ini ; tetapi barangsiapa membaca, mempelajari, menghayati dan melaksanakan yang tersirat di Upanishad ini seharusnyapun berkeuntungan sama dengan Nachiketas.

13.         Setelah mendengar dan menyadari Sang Jati Diri secara benar, seseorang yang telah mencapai Hakikat Sang Atman yang lembut dan abstrak ini (karena tidak dapat diraba) menjadi teramat bahagia, karena insan ini telah mendapatkan sumber dari segala kebahagiaan. Kupikir tempat bersemayam Sang Brahman (Kebenaran) telah terbuka luas untuk Nachiketas.

14.         Nachiketas berucap : “Sesuatu (Itu) yang dikau saksikan (berciri lain) berbeda dengan Kebajikan dan sebaliknya, dengan Kebenaran dan sebaliknya, yang berbeda dari hukum karma (sebab dan akibat) yang berbeda dari masa yang akan datang, terangkanlah sesuatu tersebut kepadaku.
Keterangan : Langsung saja, tanpa basa basi Nachiketas bertanya akan Hakikat Yang Maha Esa yang “seakan-akan” sudah disadari olehnya sendiri sebagai suatu unsur yang berbeda dan berada diatas Kebajikan dan Kebathilan, diatas hukum karma, bahkan jauh dari masa lampau, saat ini ataupun masa-masa yang akan datang. (Para ahli menerangkan bahwa sloka mantra diatas sebagai suatu protes halus oleh Nachiketas kepada gurunya. Ia minta langsung saja diajarkan penjabaran akan Hakikat Yang Maha Esa tanpa embel-embel agama).

15.         Yama berucap : “Tujuan (Kata) yang disebut-sebut selalu oleh semua Veda (yang dipuja puji), yang menjadi tujuan semua ritual dan tapa-brata, yang didambakan oleh para Brahmacharin (mereka-mereka yang tidak melakukan hubungan seksual), langsung saja kuberitahukan kepadamu. Ia adalah OM.”
Keterangan : Langsung saja Yama Dewa menyatakan dengan tegas dan jujur bahwa tujuan kebenaran tersebut yang berada jauh diatas dharma dan adharma adalah OM. Semua Veda diatas berarti juga seluruh Upanishad yang berjumlah 108 buah (tasbih Hindu berjumlah 108 butir yang melambangkan 108 Upanishad), kekosongan yang hadir ditengah-tengah untaian tasbih adalah OM yang selalu tersirat didalam setiap ajaran Veda, Upanishad atau karya-karya sastra suci lainnya. Dimasa yang lalu para Resi telah mensimbolkan Tuhan Yang Maha Esa dengan symbol Omkara agar Beliau dapat dipuja sebagai Saguna Brahman (Tuhan yang berwujud). Tetapi kata OM tidak terdapat di Rig atau Atharva Veda, melainkan didapatkan di Aittireya Samhita yang terdapat di Yajur Veda. Pada saat ini symbol Omkara adalah symbol penyatu umat Hindu dimana saja, tidak ada pemujaan atau mantra yang tidak dimulai dengan OM. Seharusnya faktor ini menyadarkan kita agar tidak bersengketa satu dengan yang lainnya karena merasa Tuhan, atau dewa atau Junjungan yang kita puja lebih suci atau superior dari yang lainnya. OM sendiri sudah ditentukan sebagai symbol atau lambang tertinggi dari Hindu Dharma darimana semua berasal dan akan kembali.

16.         Kata ini adalah Brahman itu sendiri, kata ini adalah hakikat tertinggi, barangsiapa yang sadar akan arti kata ini, secara benar, akan mencapai apapun yang dihasratkannya.
Keterangan : Dimasa yang silam di Veda, OM juga dipergunakan sebagai puja puji kepada Tuhan yang Maha esa dan dapat juga berarti “Yah, terjadilah (KehendakMu)”.
Disloka mantra diatas, kata OM berarti Realitas. Dewasa ini setelah melalui berbagai penalaran spiritual dimasa-masa yang lalu, symbol OM tidak saja diartikan sebagai suatu lambang tertinggi tetapi OM dihormati sebagai pengejawantahan dari Realitas yang berciri Relatif. Seseorang dapat dan boleh bermeditasi ke symbol ini sebagai tujuan semadinya. Dia pasti akan mecapai tahap, “ini adalah Aku” (Ayam Aham Asmi). Sedangkan kata diatas, “mendapatkan apapun yang dihasratkannya”, tidak berarti Nachiketas harus mengikuti semua hawa nafsunya, tetapi pada tahap ini ia menyatu dengan Sang Jati Diri, apapun yang terpercik disanubarinya akan segera terealisir, dan kalau yang dihasratkannya adalah penyatuan dengan sang Atman, maka ia akan langsung terserap kedalamNya. Juga seandainya seseorang menghasratkan Brahma-Loka, maka ia akan mencapainya, dan seandainya tanpa pamrih ia bermeditasi dengan tujuan mencari dan menghayati yang Maha Esa, maka ia akan berubah menjadi “Itu” (Yang Maha Esa itu sendiri dengan melebur kedalamNya).

17.         Sandaran ini teramat agung dan luhur. Sandaran ini adalah Yang Maha Tinggi. Barangsiapa memahami sandaran ini akan bersuka ria di Brahma-Loka.
Keterangan : Sloka diatas agak membingungkan bagi kita semua, yang dimaksud sebenarnya adalah sebagai berikut. Dalam bahasa Sansekerta, Brahma-Loka dapat berarti ganda, yang pertama adalah Brahma-Rupi Loka (Lokanya Sang Atman, Jati Diri) dan yang kedua adalah Lokanya Sang Brahma, Sang Pencipta. Seorang upasaka (pemuja) melalui jalan karmanya pada akhirnya akan masuk ke Lokanya Sang Brahma. Sedangkan yang berkontemplasi ke OM dan menyadari akan Kebenaran yang Hakiki akan terserap ke Beliau yang bersifat Absolut. Dengan kata lain para ahli menyimpulkan bahwa Yama Raja secara tegas menyatakan ada dua Brahma-Loka, yang pertama dapat dicapai melalui karma (pemujaan) dan yang kedua melalui jalan Gyana (ilmu pengetahuan).

18.         Sang Atman yang penuh dengan kecerdasan tidak dilahirkan, tidak juga Beliau meninggal dunia ; Beliau tidak timbul dari apapun juga dan tiada suatu apapun juga yang timbul dariNya ; Tak terlahirkan, Abadi, hadir selamanya, Kuna (sudah ada semenjak masa yang amat silam). Beliau ini tidak dapat dibantai walaupun raga ini dapat dibinasakan.
Keterangan : Resi Vyasa sebagai pengarang karya suci Bhagavat Gita telah mengkristalkan arti Atman dalam dialog-dialog suci antara Khrisna dan Arjuna. Berkali-kali, dari satu kurun waktu ke kurun waktu yang lainnya ajaran mengenai Sang Atman selalu diturunkan oleh Yang Maha Esa, tetapi manusia cenderung menyukai ritual dan upacara-upacara daripada berkontemplasi ke Yang Maha Esa.

19.         Seandainya seorang pembantai berpikir, “aku telah membantai”, dan seandainya yang telah dibantai berpikir, “aku telah dibantai”, maka kedua-duanya tidak paham akan arti sesungguhnya. Sang Atman tidak membantai dan tidak juga terbantai.

20.         Sang Atman yang lebih lembut dari yang terlembut, lebih agung daripada yang teragung, bersemayam didalam hati sanubari setiap mahluk hidup. Barangsiapa bebas dari berbagai hasrat dan keinginan dengan pikiran dan indera-inderanya yang terkendali, akan mendapatkan (menyaksikan) Kebesaran Sang Jati Diri dan terbebas dari penderitaan.
Keterangan : Mungkin membingungkan untuk membayangkan mengapa Sang Atman disebut lebih lembut dari yang terlembut. Beliau disebut terlembut karena Beliau bersemayam didalam relung hati sanubari kita yang paling dalam dan terselubung oleh sang jiwa. Beliau juga disebut sebagai yang terbesar diantara yang paling besar karena tidak ada mahluk hidup dan benda yang tidak berintikan Sang Atman ini, dan coba membayangkan seluas apakah alam semesta ini, jadi seluas apakah Sang Jati Diri ini (Yang Maha Esa ini).
Dengan  kata lain coba simak, Sang Atman = Paramatman = Alam Semesta = Tuhan Yang Maha Kuasa ; lalu dibalik urutannya menjadi Tuhan Yang Maha Kuasa = Alam Semesta (Bhur-Bwah-Swah) = Paramatman = Sang Atman (yang hadir disetiap benda dan mahluk hidup). Faktor (pengetahuan ini) disebut Atma-Tatva.

21.         Sewaktu ia duduk ia pergi jauh, sewaktu ia berbaring ia pergi kemana-mana. Siapa lagi, oleh karena itu, selain aku yang dapat memahami keberadaan Tuhan Yang Maha Esa yang berbahagia dan tidak berbahagia.
Keterangan : Sang Atman hadir seakan-akan satu disetiap raga, padahal Beliau pada saat yang bersamaan hadir dimana-mana memenuhi seluruh rongga-rongga alam semesta melalui yoganya. Diatas terkesan Yama Dewa bersifat arogan dengan mengatakan bahwa hanya ia sendiri yang dapat memahami akan hakikatNya. Sebenarnya para ahli menyimpulkan bahwa kata-kata tersebut tercetus begitu saja secara spontan dari seorang guru sejati yang telah manunggal dengan Sang Atman.

22.         Seseorang yang bijak tidak akan bersedih hati seandainya ia paham akan Sang Atman sebagai yang tak memiliki raga, yang bersemayam secara tegar diraganya para mahluk yang luar biasa, Yang Maha Agung dan Yang Maha Hadir dimanapun juga.

23.         Sang Atman ini tidak dapat dicapai dengan mempelajari berbagai Veda, tidak juga dengan kecerdasan ataupun dengan banyak mendengarkan (ceramah-ceramah spiritual misalnya). Sang Atman hanya dapat dicapai oleh seseorang yang telah memilikinya semata-mata sebagai tujuan hidup dan tujuan dedikasinya. Kepada seseorang pemuja ini Sang Atman mengungkapkan sifatNya Yang Sejati (Sang Jati Dirinya).
Keterangan : Banyak pemuja di India yang memiliki kecerdasan spiritual yang amat mengagumkan seperti misalnya ada yang mampu menghafal seluruh teks Bhagavatam dengan sempurna. Ada yang mempunyai ingatan (memori) dan memampu menyanyikan seluruh mantra-mantra diberbagai Upanishad. Bunda Sruthi mengajarkan kepada kita bahwa semua aktivitas ini hanya membuang-buang waktu saja dan merupakan penghamburan energi secara sia-sia dan tidak akan menghasilkan suatu Atman-Dharsana. Adalagi manusia-manusia yang gemar bertirta-yatra, mandi ditempat-tempat suci, melakukan berbagai upacara, Sat-Sangh dan sering sekali semua ini dilakukan secara megah dan besar-besaran sekedar pertunjukan belaka. Menurut Sruthi inipun sia-sia saja, lalu apa gunanya semua ritual dan upacara. Sruthi menjawab, jadikan para resi (dari masa-masa yang telah lalu) sebagai pedoman, mereka ini selalu memfokuskan diri mereka ke Yang Maha Esa dan upacara yang mereka lakukan selalu bersifat sederhana dan penuh dengan itikad yang benar. Bagi yang tulus ini Sang Atman akan menunjukkan Jati Dirinya. Guru Nanak mengatakan bahwa barangsiapa disayangi olehNya, maka ia akan mendapatkan DharsanaNya. Lalu bagaimana caranya agar kita dapat menjadi hamba kesayanganNya?

24.         Tetapi barangsiapa belum menjauhi perbuatan-perbuatan yang buruk, yang indera-inderanya belum dikendalikan, yang jalan pikirannya belum terkonsentrasi, yang pikirannya belum bersifat Ahimsa (non-kekerasan), tidak akan mencapai Sang Atman ini melalui ilmu pengetahuan.
Keterangan : Hampir  seluruh ajaran Sanathana-Dharma berpedoman pada tiga prinsip utama : Bramacharya, Satyam dan Ahimsa. Tanpa ketiga factor ini sebuah upacara, ritual meditasi dan yagna ataupun pelaksanaan spiritual lainnya akan sia-sia saja, karena akan terjerumus kepelaksanaan yang bersifat adharma.
Ketiga faktor tersebut tanpa ditunjang kendali diri dan kontemplasi samadi ke Yang Maha Kuasa tidak akan menghasilkan Atma-Dharsana.

25.         Bahkan golongan Brahmana dan Keshatriya yang dianggap manusia-manusia unggul diantara jajaran manusia, hanyalah ibarat sesuap nasi yang dengan mudah dapat ditelan dan dicernakan oleh Yang Maha Kuasa!
  
Dengan ini berakhirlah Vali kedua dari Bab – 1
Keterangan : Mantra sloka diatas ingin menegaskan sekali lagi, bahwa manusia ini tidak perlu bersikap sombong atau terlalu membanggakan diri seakan-akan hanya dia dan golongannya saja yang mulia. Bahkan mereka yang menganggap dirinya golongan mulia seperti kasta Brahmana atau Keshatriya tidak lain dan tidak bukan ibarat sesuap nasi bagi Tuhan Yang Maha Kuasa, dan kematian mereka diibaratkan sambal (acar berupa sambal).
Mereka- mereka yang mengagungkan wangsanya adalah mereka yang tidak mungkin mampu menghayati Sang Jati Diri. Dengan kata lain setiap insan tanpa memandang statusnya adalah ibarat santapan bagi kematian itu sendiri. Jadi sia-sialah semua upaya ritual, kecerdasan dan lain sebagainya kalau tidak disertai kemurnian pikiran, ketenangan, kendali diri, dan unsur-unsur Dharma lainnya yang berpedoman kepada kebenaran.


BAGIAN   –   3
Sebuah perumpamaan (amsal) dari sebuah kereta (gerobak) yang mengajarkan Adiatma-yoga (ilmu pengetahuan tentang Sang Jati Diri), yang mengikat setiap jiwa (ibarat sapi yang terikat pada sebuah gerobak) dengan Jiwa yang maha utama.

1.            Kedua-duanya yang menikmati pahala dari kebajikan-kebajikan mereka, yang bersemayam direlung hati (seseorang) yang merupakan singgasanaNya Yang Maha Kuasa, yang oleh yang mengetahui (memahami) akan sang Brahman disebutkan sebagai sang bayangan dan sang cahaya ; begitu juga hal ini dipahami oleh mereka-mereka yang melaksanakan agni-hotra yang berangkap lima dan juga yang dipahami oleh mereka-mereka yang bersujud tiga kali ke agni-hotra Nachiketas.
Keterangan : Sloka mantra diatas pastilah membingungkan para pembaca pada umumnya. Dibawah ini kami coba untuk menerangkannya secara sederhana.
Kata kereta atau gerobak adalah sebuah metaphor/amsal atau sebuah perumpamaan yang sangat terkenal dikalangan masyarakat India. Raga manusia diibaratkan dengan gerobak penarik beban, disebuah gerobak biasanya duduk seorang kusir yang tentunya adalah si pemilik gerobak. Yang dimaksudkan kusir disini adalah Paramatman, Sang Jati Diri dan “si pemilik” adalah Sang Jiwa (Jiwatman),yang melingkupi ego, ilmu pengetahuan dan semua aspek-aspek kehidupan duniawi.
Dengan ini dimulailah ajaran Yama Dewa mengenai Adiatma-Yoga. Para ahli menyimpulkan kedua faktor diatas, Atma (Jati Diri) dan Jiwa (ego) adalah faktor-faktor pengendali dan pelaksana berbagai tindakan sang raga, walaupun begitu Sang Jiwa adalah replika atau bayangan dari Sang Atman. Sang bayangan tidak akan eksis tanpa subjek utamanya juga eksis. Sumber utama ini disebut sebagai Paramatman (Atman Utama) dan sang replika/bayangan adalah Sang Jiwa (Jiwatman).
Berbagai pahala sebagai akibat dari berbagai pelaksanaan dan karma manusia dirasakan dan dinikmati oleh Sang Jiwa. Kata “kedua-duanya” disloka mantra diatas berarti Sang Jiwa dan Sang Atman adalah dua faktor yang bekerja sama didalam kereta (raga). Kedua faktor tersebut bekerja sama tetapi Sang Jati Diri hadir sebagai Saksi Utama dari setiap pelaksanaan Sang Jiwa. Oleh karena itu tidak dapat dipahami oleh kaum awam, maka sering dianggap kedua-duanya menikmati pahala perbuatan mereka selama keduanya hadir didalam raga setiap insan. Padahal Sang Jiwa disebut juga aku yang palsu (duniawi dan ilusif), dan Sang Atman adalah Aku yang sejati. Aku yang sejati menuntun aku yang palsu. Kedua-duanya hadir didalam relung hati manusia yang paling dalam. Sang Atman adalah Sang Cahaya, Sang Budhi (intelegensia) utama, Ia dapat dicapai dengan jalan meditasi ; sedangkan Sang Jiwa adalah pelaksana semua raga. Kathopanishad mengagungkan jalan meditasi dan sekaligus juga tidak menentang kehidupan manusia sehari-hari. Melalui Sang Jiwa, Sang Atman bekerja secara misterius meniti jalan penyatuannya dengan Sang Paramatman.

2.             Pengorbanan (Nachiketas Agni-Hotra) adalah ibarat sebuah jembatan bagi mereka yang melaksanakan pengorbanan ini, dan juga merupakan jembatan ke Brahman Yang Abadi, Yang Maha Tinggi dan Yang Maha Pemberani, dan juga merupakan jembatan keloka-loka lainnya bagi mereka-mereka yang ingin menyeberangi Samudra Samsara ini . . . “Nachiketas ini seharusnya kita pahami (kuasai)”.
Keterangan :  Pengorbanan dalam bentuk Agni-Hotra Nachiketas adalah jembatan yang menghubungkan manusia dengan berbagai loka-loka, juga kearah kesadaran spiritual dan ke keabadian. Nachiketas harus dipahami, berarti fenomena Nachiketas, perjuangan dan baktinya yang merupakan inti tujuan kehidupan inilah yang harus kita kuasai (dipahami dan dilaksanakan dengan baik).

3.            Pahamilah bahwa Sang Atman sebagai Penguasa (pengendali kereta), dan raga ini sebagai kereta; pahamilah bahwa budhi (intelek) sebagai kusir dan pikiran (manusia) sebagai tali kekang (sang kuda).
Keterangan : Sloka diatas merupakan sebuah analogi terkenal didalam berbagai literatur Hindu Dharma khususnya di Bhagavat Gita dan Swataswatara Upanishad.

4.            Berbagai indera (instink) disebutkan sebagai kuda-kuda (yang menarik kereta), dan jalan-jalan yang dilalui kereta ini adalah tujuan-tujuan indera-indera ini. Para kaum bijak menyebutNya sebagai Sang Penikmat (sewaktu Beliau) bersatu dengan sang raga, berbagai indera dan sang pikiran.
Keterangan : Yang disebut sebagai indera-indera atau indrias adalah mata, telinga, hidung, anus, kemaluan, mulut dan sang pikiran. Secara kolektif indrias ini tidak saja berarti organ-organ sensual tetapi juga organ-organ pelaksanaan pekerjaan kita sehari-hari, oleh karena itu disebut juga organ sensual dan instink. Pemahaman ini didasarkan pada ajaran-ajaran philosofi Sankhya dari Vedanta.
Ada suatu hal yang menarik mengenai organ-organ sensual ini, misalnya mata tidak dapat mendengar, dan telinga tidak dapat melihat. Secara keseluruhan ini berarti setiap indera ini mempunyai area eksplorasi yang terbatas, tetapi kerja sama semua indrias ini dapat menghasilkan sesuatu yang luar biasa bagi manusia si penyandang semua organ sensual ini. Para ahli menyatakan hasil kerja indera-indera sensual ini dirasakan dan dinikmati oleh Sang Jiwa dan disaksikan serta dimonitor oleh Sang Atman. Kedua-duanya bekerja sama demi tercapainya tujuan spiritual manusia itu sendiri yaitu penyatuannya dengan Sang Pencipta.

5.            “Seseorang yang senantiasa tidak terkendalikan jalan pikirannya, yang tidak memiliki pengetahuan yang benar, maka organ-organ sensualnya berubah menjadi tak terkendalikan ibarat kuda-kuda liar yang terikat pada sebuah kereta.”
Keterangan : Bayangkan sebuah kereta dengan begitu banyak kuda yang berlarian kian kemari tanpa koordinasi dan liar, begitupun raga ini tanpa kendali. Andaikan seseorang menyadari bahwa diatas kuda-kuda ini ada sang pengendali yaitu Sang Jati Diri, maka jalan meniti Kebenaran akan lebih jelas.

6.            Tetapi barangsiapa yang mengetahui (sadar akan) Beliau (Sang Jati Diri) dan yang jalan pikirannya terkendali, maka berbagai indera-inderanya terkendali ibarat kuda-kuda yang jinak.
Keterangan : Oleh karena itu setiap manusia sebaiknya menjadi seorang kusir yang bertanggung jawab, dan dengan demikian raga ini akan dapat dikendalikan dengan baik. Orang semacam ini disebut sebagai Sadhaka (pencari kebenaran), ia juga disebut sebagai Yukta, karena ia mampu mengendalikan indera-indera sensualnya dengan baik. Orang-orang bijak bahkan menyebutnya sebagai Vignawan (yang memiliki budi pekerti dan ilmu yang tinggi).

7.            Dan barangsiapa jauh dari pengertian yang seharusnya (pantas), tiada memiliki pikiran yang wajar dan selalu bersikap kotor, maka orang ini tidak akan pernah mencapai tujuan tersebut (dan selalu) akan masuk kedalam putaran-putaran kematian dan kehidupan yang berulang-ulang.

8.            Tetapi barangsiapa memiliki sifat yang cerdas dan selalu bersih perilakunya, dengan pikirannya yang terkendali akan mencapai tujuan tersebut , dimana ia tidak akan terlahir kembali.

9.            Seseorang yang memiliki budhi (intelegensia spiritual) bagi kendali dirinya dan yang jalan pikirannya terkendali dengan baik, orang ini akan bertahan (dalam pencariannya), ia akan mencapai ujung perjalanannya yaitu Atananya Sang Hyang Vishnu, Yang Maha Kuasa.
Keterangan : Astana Sang Hyang Vishnu disloka diatas bukan berarti Vaikunta-Loka, tempat bersemayamnya Dewa Vishnu, tetapi lebih mengungkapkan Vasudeva (Krishna) Sang Paramatman. Disloka-sloka diatas, perumpamaan raga manusia, jiwa dan Atman telah diibaratkan sebagai kereta, kuda-kuda liar, pengendali (kusir) dan pengamat. Melalui pengetahuan yang sebenarnya sangat sederhana ini saja, seseorang pada hakikatnya sudah mendapatkan ajaran Brahma-Vidya (ilmu pengetahuan mengenai Brahman) secara mudah dan sekaligus mendapatkan petunjuk kearah keselamatan dan pembebasan yang sekaligus menyatukan Sang Jiwa, Sang Atman dengan asal usulnya yaitu Sang Paramatman (Para Brahman atau Vasudewa).

10.         Diatas organ-organ indrias terdapat objek-objek (tujuan) indrias ; diatas objek-objek indrias ini terdapat sang pikiran; dan diatas sang pikiran terdapat intelek (budhi) dan diatas budhi terdapat (bersemayam) Sang Jati Diri yang maha agung.
Keterangan : Kata “diatas” dalam sloka mantra ini sering juga diartikan sebagai “didalam”  atau “lebih lembut dari”.
Contoh : lebih lembut dari berbagai indrias adalah dsb.
Diajaran Bhagavat Gita terdapat sloka yang amat mirip dengan sloka diatas dan oleh Sang Krishna diajarkan bahwa barangsiapa sadar akan Sang Jati Diri ini ia akan secara otomatis mengendalikan unsur-unsur yang berada dibawahnya dan begitulah seterusnya, sehingga pada suatu saat seluruh jiwa raganya terkendali dengan sempurna.

11.         Diatas Yang Maha Agung (Mahat) terdapat Avyaktam (Yang Tak Termanifestasikan). Diatas Avyaktam terdapat Purusha ; diatas Purusha terdapat kekosongan; kekosongan ini adalah ujung jalan; ujung jalan ini adalah tujuan terakhir.
Keterangan : Menurut para peneliti dan ahli Hindu-Dharma, Yang Maha Esa selalu bersemayam didalam Keadaan Yang Sempurna. Tetapi sesuai dengan kehendak Beliau sebagai Sang Pencipta, Beliau menciptakan Sang Maya (Ilusi duniawi, prakriti) dan dari Sang Maya ini lahir jajaran jagat raya ini beserta seluruh fenomena dan manifestasinya yang disebut sebagai Avyaktam yang tak dapat dijabarkan luas atau kebesarannya. Harap diperhatikan berbagai istilah seperti Avyaktam, Pradhana, Mula-Prakriti, Avyakrii dan Maya berarti sama. Dan diatas semua faktor ini hadir Sang Purusha (Yang Maha Kuasa) yang merupakan tujuan akhir dari semua bentuk kehidupan didunia ini (yang termanifestasi). Lalu apa yang eksis diatas Sang Purusha? Sruthi mengatakan secara tegas yang eksis adalah kekosongan, dan kekosongan ini adalah yang paling atas atau akhir (Sa Kasta).

12.         Atman (Sang Jati Diri) ini tersembunyi didalam setiap mahluk hidup dan tidak bercahaya keluar tetapi Beliau dapat terlihat oleh mereka-mereka yang memiliki penglihatan yang lembut melalui budhi (intelek), mereka yang tajam dan halus.
Keterangan : Menakjubkan sekali Sang Atman ini, Beliau sebenarnya hadir didalam diri kita dari masa ke masa, dari kita masih berbentuk sperma, kemudian menyatu dengan indung telur ibu kita dan kemudian berubah diri menjadi janin dan seterusnya lahir sebagai jabang bayi yang polos dan seterusnya tumbuh dewasa dan menjadi tua. Beliau selalu hadir dan menuntun kita ke kematian kita dan terus mengikuti kita dalam kelahiran dan kematian kita yang berulang-ulang. Karena “kebodohan” kita, maka Beliau (Sang Atman) ini tidak terlihat wujud dan hakikatnya oleh kita yang sehari-hari tenggelam dalam jalannya Sang Maya. Dunia materi dari semasa kanak-kanak telah membenamkan kita kedalam lumpur kegelapan, tetapi mereka-mereka yang menjalani kehidupan ini secara eling (sadar), yang hidupnya didedikasikan senantiasa kepada Yang Maha Esa secara utuh, akan menyaksikan Sang Jati Diri didalam diri mereka (Atma-Tattwa). Berdedikasi kepadaNya bukan berarti lalu kita harus menjadi Pandita, Resi, Brahmana dan lain sebagainya. Seseorang dapat mendedikasikan dirinya sesuai dengan hati nuraninya karena ia memiliki sifat-sifat seperti yang diutarakan disloka mantra 8, 9 dan 12 diatas.

13.         Sebaiknya seorang yang bijak membenamkan (menyatukan) kata-katanya kedalam jalan pikirannya, dan membenamkan pikirannya kedalam budhinya dan membenamkan budhinya kedalam Sang Atman Yang Maha Agung, dan membenamkan Sang Atman Yang Maha Agung kedalam Sang Atman Yang Maha Damai (tenang).
Keterangan : Kata membenamkan diatas berarti “menyatukan dengan kesadaran”. Jadi sehari-hari sebaiknya kita membiasakan diri kita berkata-kata identik dengan jalan pikiran kita, dan sang pikiran sebaiknya menjauhi hal-hal yang bersifat munafik, dan harus bersatu dengan sang budhi. Dengan demikian setiap bentuk pikiran kita seperti keragu-raguan, rasa terombang-ambing, berbagai nafsu yang menggoda, emosi dan lain sebagainya sebaiknya dipasrahkan kepada sang budhi untuk dikendalikannya. Lalu budhi yang sudah tegar ini menyatu dengan penuh kesadaran dan terserap dalam meditasi yang berkesinambungan dan dalam yang disebut sebagai tahap Thuriya Avastha. Ditahap ini sang pemuja dan yang dipuja menyatu (manunggal) dan sadarlah seorang pemuja tersebut akan Sang Jati Diri yaitu Sang Purusha itu sendiri. Tahap meditasi ini disebut juga sebagai tahap penyatuan, ditahap ini semakin lama ego kita semakin sirna dan cahaya Sang Atman memasuki jiwa dan budhi kita, dan selanjutnya dari budhi ke pikiran dan ke perilaku kita sehari-hari yang tentu saja sudah tidak bermotifkan kepentingan pribadi lagi, tetapi semata-mata adalah demi Yang Maha Esa semata.

14.         Bangkitlah, sadarlah; Para Resi-resi agung setelah mencapainya sadar akan Sang Atman. Para kaum bijak mengatakan : jalan ini ibarat ujung pisau yang teramat tajam, jalan ini sulit untuk diseberangi apa lagi untuk dilintasi.
Keterangan : Sloka diatas seakan-akan ingin menyatakan kepada kita semua, bahwa jalan menuju kearah Kebenaran, kearah penyatuan dengan Sang Atman bukanlah jalan yang mudah, dan para guru-guru agung dan suci dimasa-masa yang lampau, begitu mencapainya bersukaria dalam karuniaNya, dan karena itikad mereka sangat bersih, maka ilmu pengetahuan akan Sang Jati Diri ini dijabarkan oleh mereka melalui berbagai ajaran yang pada saat ini dikenal dengan berbagai sebutan seperti Sruthis, Shastras, Upanishads, Vedas, Bhagavat Gita dan lain sebagainya.
Tetapi walaupun semua jalan ini sudah dibuka luas, tetap saja setiap jalan yang menuju ke Maha Kuasa ini sulit dijalani oleh manusia, dan diibaratkan sebagai ujung pisau yang amat tajam dan bahkan mampu melukai kita setiap saat.
Para guru (disloka mantra diatas) berseru, bangkitlah dan sadarlah, tetapi aduh, manusia tidak sadar juga akan ajakan yang tanpa pamrih ini. Untuk dapat sadar dan bangkit, kita semuanya memerlukan guru penuntun yang tanpa pamrih. Di Indonesia jenis guru atau resi semacam ini sudah langka sekali dan umat yang sehari –hari berhubungan dengan para pendeta yang mungkin “korup” malahan bertambah galau jalan pikirannya daripada mendapatkan tuntunan yang semestinya sesuai dengan jalan dharma. Lalu untuk para pencari kebenaran dharma ini, kalau guru-guru yang baik langka, apakah kita harus ke India mencarinya? Haruskan kita memaksakan diri kita? Sebenarnya semua ini tidak perlu, dengan mempelajari karya-karya suci dan selalu mohon tuntunan ke hadiratNya, dipastikan Yang Maha Esa akan memberikan jalan keluar terbaik kepada setiap individu. Setiap hal akan terwujud pada saat yang tepat, dikesempatan yang tepat, untuk seseorang yang tepat, sesuai dengan kehendak dan karuniaNya.  Yang maha penting adalah agar bangkit, melangkah dan secara sadar menuju kearah kebenaran tanpa suatu target atau pamrih. Yama Dewa adalah seorang guru sejati sifatnya, Beliau selalu mengutip ajaran-ajaran para resi, walaupun Beliau sendiri sudah menyatu dengan Yang Maha Esa.

15.         Barangsiapa yang telah mengenal itu yang tanpa suara, tanpa sentuhan, tanpa bentuk, tanpa kematian, tanpa tersia-sia, abadi, tanpa penciuman, tanpa permulaan, tanpa akhir, diatas (luar) Mahat (Yang Agung), yang tak berubah-ubah, maka seseorang ini akan dibebaskan dari cengkeraman kematian.
Keterangan : Tentu para pembaca masih ingat akan pertanyaan Nachiketas kepada Yama Dewa, apakah ada kehidupan setelah kematian, dan jawabannya ternyata kesana dan kemari, malahan bisa-bisa membingungkan kaum awam. Sebenarnya sebagai seorang guru yang agung, Beliau tidak mau berbohong sedikitpun. Seandainya Beliau berkata bahwa tidak ada kehidupan, berarti Beliau membohong, karena eksistensi Yang Maha Kuasa selalu hadir dimana-mana, dan sebaliknya kalau Beliau berkata bahwa ada kehidupan setelah kematian, itupun tidak sesuai dengan kehidupan didunia ini. Walaupun demikian, semua jawaban Yama Dewa ini secara langsung atau tidak langsung sedang menggambarkan situasi yang sebenarnya setelah seseorang melewati kematiannya. Dan bagi kaum yang bijak serta sadar, intuisi mereka langsung menangkap makna yang tersembunyi didalam setiap kata-kata Yama Dewa.
Dunia materi dan dunia spiritual (alam sana) berbeda jauh situasi dan kondisinya. Di dunia ini manusia memakai berbagai bahasa untuk saling berkomunikasi, sedangkan menurut Sruthis, di dunia sana tidak ada sabda, tidak ada rasa, tidak ada bentuk dan lain sebagainya. Oleh karena itu, dialam sana organ-organ indrias kita tidak dapat berfungsi karena badan kasar sudah mati dan sudah ditinggalkan di bumi ini, jadi yang eksis disana adalah kebenaran yang hakiki. Dan seandainya seseorang sudah menyatu dengan Atman Yang Agung, maka penalaran spiritualnya tentu tidak mengenal lagi akan kelahiran dan kematian, ia berubah menjadi abadi seperti Maha Keabadian itu sendiri, karena telah menyatu kembali denganNya.

16.         Seseorang yang berbudhi (yang memiliki intelek spiritual) setelah mendengarkan dan mengulang-ulang kisah yang berasal dari masa yang teramat silam ini, yaitu kisah Nachiketas yang berguru ke Dewa Kematian, akan dimuliakan di dunianya Sang Brahman.

17.         Barangsiapa penuh dengan bakti mengulang-ulang rahasia tertinggi (ajaran ini) dihadapan para Brahmin, atau sewaktu seseorang menghaturkan sradha kepada para leluhurnya, maka ia akan mencapai keabadian (tidak akan pernah mati).
  
Dengan ini berakhirlah Vali ketiga dari Bab – 1 ini

Anantyaya Kalpathe (mencapai keabadian) yang disebutkan diatas jangan langsung diartikan secara harafiah. Keabadian tidak dapat dicapai hanya dengan mengulang-ulang isi buku atau mantra atau sloka dibuku ini, tetapi seseorang harus mencari, berdedikasi penuh bakti dan tanpa pamrih sehari-harinya penuh dengan usaha dhyana (semadi) yang berkesinambungan, sampai ia mencapai dharsana akan Swarupa (Sang Atman) nya yang sejati.
Dibagian satu Upanishad ini kita melihat sifat-sifat agung sang guru dan sang murid serta pernyataan akan fenomena-fenomena spiritual tentang masalah setelah kematian.
Dibagian kedua akan diterangkan secara filosofis mengenai sifat-sifat dari Sang Jati Diri. Bagian satu ini ditutup dengan mantra yang berikut :
“Semoga Beliau melindungi kita berdua.
Semoga Beliau memberkati kita berdua
dengan karunia ilmu pengetahuan,
semoga kita berhasil bersama-sama.
Semoga kita tidak bersengketa
satu dengan yang lainnya.”
 
OM Shanti Shanti Shanti

BAB – II
Bagian  -  4
(Panggilan akan visi didalam sanubari kita, yang menentukan arah
pemahaman dan pencapaian kesatuan denganNya)
                
1.            Sang Jati Diri Yang Maha Hadir didalam dirinya sendiri (Brahma) menciptakan indria-indria sensual dengan tendensi kearah luar; oleh karena hal tersebut manusia hanya mampu melihat (menganalisa) hal-hal yang bersifat eksternal saja dan bukan yang bersifat internal yaitu Sang Atman. Tetapi beberapa orang yang bijak dengan matanya yang memandang kearah dalam (karena telah menolak faktor-faktor yang eksternal), yang berhasrat untuk menyatu dengan Sang Keabadian akan menyaksikan Sang Atman didalam sanubarinya.
Keterangan : Yang Maha Kuasa telah menentukan manusia berpersepsi naluri eksternal yang luar biasa. Manusia dengan seluruh kemampuan pancaindra dan ditambah pikiran serta imajinasinya mampu melaksanakan berbagai inovasi dalam ilmu pengetahuan dan menghasilkan berbagai kemajuan-kemajuan teknologi yang menakjubkan saat ini, tetapi belum ada satupun hasil teknologi yang mampu mencapai Yang Maha Kuasa dalam bentuk Sang Jati Diri, apalagi dalam bentuk para Brahman.
Kemampuan yang satu ini oleh Yang Maha Kuasa disimpan khusus bagi manusia-manusia tertentu yang mata hatinya (mata ketiga = mata kebijaksanaan) telah terbuka lebar karena manusia-manusia ini menutup penglihatan eksternalnya dan lebih memfokuskan diri mereka ke Yang Maha Hadir didalam relung paling dalam dihati sanubari mereka.

2.            Seseorang yang kurang pengetahuannya (Avidya) ibarat seorang anak kecil yang mengejar kenikmatan-kenikmatan eksternal dan dengan demikian jatuh kedalam perangkap kematian. Tetapi orang-orang yang bijak tidak menghasratkan apapun juga didunia ini, setelah paham apa yang bersifat abadi diantara yang tidak abadi.
Keterangan : Dikedua sloka permulaan diatas kita semua seyogyanya sudah memahami dua buah halangan yang selalu akan menghadang perjalanan spiritual kita kearah Yang Maha Esa.
Yang pertama : Kecenderungan alami milik organ-organ sensual (indrias) kita yang selalu lari kesana kemari ibarat kuda-kuda liar yang sulit untuk dikendalikan.
Yang kedua : Berbagai hasrat akan objek-objek tujuan kenikmatan duniawi dimasa ini dan dimasa-masa atau diloka-loka yang akan datang.
Berdasarkan kedua hal ini, para Resi mengibaratkan manusia yang kehilangan pedoman sejati ibarat anak-anak kecil yang berlari kesana kemari tanpa pernah tumbuh dewasa secara spiritual. Orang-orang semacam ini gagal untuk sadar, bahwa semua objek-objek duniawi ini hanya alat semata demi tercapainya tujuan kebenaran yang hakiki. Karena kekurang-pengetahuannya, orang-orang ini malah mengejar-ngejar alat-alat tersebut sebagai tujuan kehidupan ini dan akhirnya terperangkap oleh karma mereka sendiri.

3.            Apalagi yang perlu diketahui oleh Sang Atman di dunia ini, yaitu Sang Atman yang berada didalam manusia yang dengannya mampu mengenali bentuk, mampu merasakan, mencium, mendengar dan menikmati kenikmatan-kenikmatan seksual. Inilah Itu (Atman yang selalu dikau dambakan).
Keterangan : Di Upanishad ini, disloka mantra diatas tersebut, Yama Dewa sekali lagi secara tegas menyatakan bahwa Yang Maha Kuasa itu tidak lain dan tidak bukan juga adalah Sang Atman (Jati Diri) yang hadir didalam diri kita sendiri (Ini adalah Itu). Beliau itu sebenarnya dekat sekali kehadirannya dengan kita semua, tetapi manusia yang ingin tahu siapa dan apa Beliau itu malahan cenderung mencarinya kemana-mana, bahkan ketempat-tempat yang jauh dan menyembah yang bukan-bukan, ada yang berganti-ganti agama dan melakukan hal-hal yang aneh dan sebagainya.

4.            Seseorang yang bijak, sewaktu ia paham dan sadar bahwa Itu yang hadir didalam dirinya yang menyebabkan ia mampu menikmati semua objek, baik dikala ia sedang bermimpi (tertidur) atau dikala ia sedang terjaga (sadar), adalah Yang Maha Hadir Atman, maka orang bijaksana ini tidak akan bersedih hati lagi.
Keterangan : Di era teknologi dan ekonomi ini setiap insan didunia oleh keadaan lingkungan dan gaya hidupnya diarahkan untuk mengejar kesuksesan materi dan kemashyuran belaka, baik itu di India maupun Eropa atau Afrika dan Indonesia. Hidup ala kebarat-baratan adalah status symbol bagi semua orang, tujuan kehidupan bukan menuju kehakikat Yang Maha Kuasa. Tragisnya di dunia Barat manusia modern cenderung kembali ke Timur, karena semua kemajuan adalah semu dan serba imitasi, didunia Barat sudah tidak berarti lagi bagi penduduknya yang sadar akan sesuatu yang hakiki dan sejati yang hilang dari tengah-tengah masyarakat mereka.
Para Resi dimasa-masa yang lampau dan para manusia eling dijaman modern ini, yang jumlahnya tidak banyak sadar bahwa Sang Atman sebenarnya hadir didalam diri kita sendiri. Beliau yang disebut Itu adalah penyebab dari kehidupan didalam raga kita dan yang juga menyebabkan kita merasakan, menikmati, menderita, berintuisi dan lain sebagainya. Oleh karena itu, mereka-mereka yang sudah sadar budi pekertinya lalu berkata untuk apa bersedih atau bergembira kalau semua fenomena kehidupan sehari-hari sebenarnya adalah interaksi pikiran kita dengan Sang Maya dan manifestasinya. Tanpa Sang Atman kita semua tidak eksis, tanpa Brahman Sang Maya tidak hadir, Sang Atman dan Sang Maya adalah bagian dari para Brahman itu sendiri yang diciptakan untuk berinteraksi dalam berbagai manifestasi mereka. Dari Dia untuk Dia oleh Dia juga. Mungkinkah seseorang mampu menjadi Mahatma Gandhi atau Einstein. Menjadi Gautama Budha atau Bunda Theresa seandainya Sang Atman tidak hadir dan tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Sang Atman selalu hadir dalam diri kita, baik kita dalam keadaan tertidur, terjaga dan bahkan dalam keadaan bermimpi.  Pekerjaan siapakah semua ini kalau bukan Sang Atman yang bersifat cahaya Ketuhanan Yang Maha Esa yang hadir sebagai suatu bentuk energi, zat dan intelegensia yang maha tinggi sifatnya.

5.            Barangsiapa yang paham akan Sang Atman ini, yang menikmati sari madu, pengayom kehidupan dan penguasa yang hadir dimasa lalu, dan dimasa yang akan datang, bahwa Beliau itu sebenarnya hadir dekat sekali (didalam diri kita sendiri) . . . orang semacam ini tidak mengenal rasa takut lagi setelah pengetahuan ini datang kepadanya. Inilah yang sebenar-benarnya yang disebut Itu.
Keterangan : Kata “sari madu” (madhwadam) diatas berarti karma (pahala), baik yang dilaksanakan, juga yang dirasakan oleh Sang Jiwa. Diibaratkan diatas bahwa Sang Atman adalah penikmat pahala-pahala baik tersebut (padahal diajaran Vedanta dan seluruh ajaran di Sanathana Dharma, Beliau Sang Atman adalah kesadaran murni yang jauh dari nuansa kenikmatan duniawi ini). Sang Jati Diri yang bersifat teramat murni (Atma-Chaitanya) ini adalah sumber dari seluruh fenomena dan pelaksanaan ego maupun non-ego dari sari Sang Jiwa. Dan kalau seseorang sudah sadar akan zat tertinggi yang hadir didalam raganya dan yang juga adalah pelaksana dari semua tindakan-tindakannya, maka insan ini akan segera kehilangan hasrat-hasrat duniawinya, dan lenyaplah aspek-aspek kekhawatiran dan ketakutannya seketika itu juga; ia bahkan merasa raga yang disandangnya bukan miliknya tetapi adalah milik Sang Pencipta, dan Sang Pencipta ini dalam bentuk Sang Atman sedang bekerja dan menikmati dirinya sendiri melalui berbagai ciptaan-ciptaannya.
Manusia jenis langka ini akan terserap kembali dan menyatu kedalam kesadaran dan hakikat Yang Maha Kuasa. Inilah Sang Brahman yang dikau cari dan dambakan selama ini, wahai manusia pencari hakikat Yang Maha Esa.

6.            Barangsiapa menyaksikanNya bersemayam didalam Maha Panca Butha Beliau yang lahir akibat tapanya (Brahmaji) yang diciptakan sebelum berbagai elemen air diciptakan, yang memasuki relung sanubari dan bersemayam didalamnya (maka orang bijak ini secara pasti telah menyaksikan Sang Brahman). Inilah Brahman yang hakiki yang dikau cari dan dambakan.
Keterangan : Sang Brahman sebagai realitas Yang Maha Kuasa (Samashti) didalam aspek makrokosmisnya (buana agung) disebut Hiranyagarbha dan didalam aspek mikrokosmisnya (Vyasthi) disebut Sang Jiwa. Barangsiapa menyadari akan kedua aspek dari Sang Brahman ini, maka orang ini adalah seorang yang disebut bijaksana yang sadar akan realitas.
Adhyapurwam (sebelum berbagai elemen air) Hiranyagarbha atau pikiran absolut telah hadir sebelum Maha Panca Butha. Disloka mantra diatas berbagai elemen air adalah sebutan bagi Maha Panca Butha yang dipercayai berasal dari air. Akasha (ether, kekosongan, Sang Jiwa) adalah manifestasi yang timbul dari pikiran absolut yang lahir dari tapa (Brahmaji). Keterangan yang terdapat diberbagai Upanishad menyatakan bahwa Brahmaji, Yang Maha Kuasa sewaktu Beliau pada suatu saat dimasa lampau berhasrat menciptakan seluruh alam semesta dan isinya, maka dari dirinya sendiri Beliau menciptakan dan menghadirkan seluruh alam raya ini melalui proses tapashyaNya. Secara singkat sloka mantra diatas berusaha menerangkan bahwa sewaktu sang mikrokosmis (buana alit) sadar akan sang makrokosmis (buana agung) maka terciptalah kesatuan. Sewaktu Sang Jiwa menyadari akan hakikat Sang Brahman (Vyasthi bergabung dengan Samasthi) maka sirnalah pengaruh dari ilusi Sang Maya, dan Hiranyagarbha dan jiwapun menyatulah (manunggal).
Inilah yang disebut sebagai Itu, yang selama ini dikau cari dan dambakan, wahai manusia!

7.            Beliau yang dilahirkan bersama-sama dengan Prana dalam bentuk semua Dewata, yang sewaktu memasuki relung hati, bersemayam didalamnya, yang lahir bersama berbagai elemen. (Barangsiapa mengenaliNya, sebenar-benarnya mengenali Sang Brahman). Ini sebenar-benarnya adalah Itu.
Keterangan : Kata “Prana” diatas oleh para ahli disamakan dengan Hiranyagarbha (buana agung) dan bukan Prana (tubuh halus) yang berada didalam diri kita (buana alit).
 Semua Dewata berarti elemen-elemen Cahaya dibuana agung, tetapi juga hadir didalam organ-organ sensual kita diraga dan jiwa kita (buana alit). Hiranyagarbha juga disebut Aditi (yang melahap, memakan) . . . karena Beliau itu juga menikmati seluruh alam semesta, kehidupan makrokosmis dan sekaligus intelegensia kosmis. Semua bentuk kenikmatan yang dirasakan oleh para mahluk hidup “dicatat” dipikiran kosmis atau “didaftar” oleh pikiran total (absolut). Inilah Brahman Itu yang senantiasa dikau dambakan dan cari-cari selama hidupmu!

8.             Ibarat janin didalam rahim yang terpelihara dengan baik oleh sang ibu yang mengandungnya, ibarat api yang tersembunyi diantara gesekan dua batang kayu, maka (Yang Maha Esa) pun dipuja setiap hari oleh mereka-mereka yang telah “sadar” dan yang berkorban kepadaNya. Ini sebenar-benarnya adalah Itu.
Keterangan : Di India dari masa yang lalu sampai masa ini api pengorbanan dinyalakan dengan menggesekkan dua batang kayu (ada juga alat khusus yang terbuat dari dua batang kayu). Batang yang pertama dan berada diatas disebut Utararani dan yang kedua dan berada dibagian bawah disebut Adharani. Didekat ujung Adharani diletakkan sedikit kapas dan api yang keluar dari gesekan kedua batang kayu ini akan segara menyambar kapas ini, yang selanjutnya api yang didapatkan secara murni ini disimpan disebuah tempat yang disebut havan-kund (tempat api suci pengorbanan). Api suci yang sudah diberikan mantra-mantra ini dijaga agar tidak sampai padam sampai dengan akhir yagna (agni-hotra) dan ini disebut pengorbanan lengkap (Puranakuti).
Bentuk api kedua yang selalu dijaga dengan baik disetiap rumah tangga adalah api pawon (api dapur), dan pada malam hari sewaktu tidak terpakai lagi sisanya akan dijaga dengan baik sedemikian rupa sehingga dapat dipergunakan lagi keesokan harinya dan begitu seterusnya.
Semenjak masa silam api juga disembah sebagai salah satu wujud Yang Maha Kuasa (Agni Dewa). Mereka-mereka yang khusus bertugas menjaga agar api tidak padam disebut Ritvik.
Dengan sangat manis dan penuh makna sloka diatas menggambarkan perumpamaan orang-orang yang telah sadar yang memelihara api kehidupan (Sang Atman) didalam diri mereka dan memeliharanya secara lestari dan hati-hati ibarat dua golongan manusia yaitu para Brahmana dan para penjaga dapur, yang sama-sama menjaga agar api tidak padam. Juga dengan sangat manis hal tersebut diibaratkan bagaimana penjagaan api itu dilaksanakan, yaitu ibarat seorang ibu yang menjaga janinnya dengan penuh kehati-hatian, tanggung jawab sesuai naluri keibuannya. Cukup satu sloka ini saja bagi Nachiketas dan bagi kita semuanya untuk dijadikan pedoman, bagaimana kita seharusnya memelihara, menjaga dan melestarikan, agar Beliau senantiasa bersemayam secara damai dan penuh karunia didalam raga kita ini, yang diibaratkan sebagai berbagai Upanishad, sebagai kuil atau pura dimana Yang Maha Esa itu sendiri bersemayam didalam relung sanubari yang paling dalam.
Kalau kuil ini kita rusak dengan merokok, minum alkohol dan obat-obat terlarang, dengan mentato badan kita, dengan memakan hewan, darah dan sebagainya apalagi daging sapi yang disucikan, dan berbagai hal-hal lainnya yang merusak raga ini, maka sesuai dengan sabda di Bhagavat Gita, Sang Atman ini menjadi teman bagi yang menghormatinya dan menjadi musuh bagi yang mengabaikan dan mengotori kuilnya ini. Ingat, ibarat api sewaktu kecil dan terjaga dengan baik akan bermanfaat bagi penerangan dan rumah tangga; dan kalau besar serta tidak terkendali lagi, apalagi dekat dengan bahan bakar yang mudah menyala, maka api itu akan memusnahkan semuanya. Semoga kita sebagai insan didunia ini khususnya yang mengaku dirinya berdharma secara Hindu sebaiknya bersikap eling dan waspada setiap detik, setiap menit, setiap menghembuskan nafas kita dan sepanjang hidup kita sehari-hari.
Api ini sebenarnya adalah symbol dari OM (Omkara) itu sendiri, sewaktu symbol ini kita hilangkan, maka yang hadir adalah eksistensi Yang Maha Murni yaitu kebenaran Yang Maha Esa yang bersifat total atau absolut. Kebenaran hakiki inilah yang harus dilestarikan oleh kita semua ibarat para Brahmana dan para penjaga dapur yang sehari-harinya menjaga api miliknya. Dan hal ini sebenar-benarnya adalah Itu, yang selalu dikau cari dan dambakan sepanjang hidupmu, wahai manusia.

9.            Dan Itu yang daripadaNya sang mentari timbul, dan didalamNya sang mentari tenggelam, disana semua para Dewata bersandar dan tak seorangpun pergi lebih jauh dari tempat tersebut.  Ini sebenar-benarnya adalah Itu.
Keterangan : Para ahli spiritual di India sering berargumentasi satu dengan yang lain. Ada yang menjabarkan bahwa para Dewata sebagai unsur-unsur cahaya yang menjaga dan mempunyai fungsi-fungsi khusus diseluruh alam semesta beserta segala isinya, seperti : Dewa Brahma sebagai Sang Pencipta, Dewa Vishnu sebagai Sang Pemelihara, Dewa Shiva sebagai Sang Pendaur Ulang semua jiwa dan bentuk mahluk-mahluk hidup dan lain sebagainya.
Tetapi ada juga para ahli spiritual lainnya yang menyatakan bahwasanya para dewa adalah manifestasi dari Yang Maha Esa dalam bentuk sakara (berwujud), oleh karena itu kita sering menyaksikan berbagai lukisan dan figur dewa dewi yang unik dan berwarna warni serta penuh dengan berbagai simbol yang menyandang arti.
Disamping dua pendapat tersebut, ada pendapat lain yaitu para Dewata ini adalah manifestasi dari Maha Panca Butha yang hadir dengan berbagai manifestasi penunjang lainnya dan tersebar diseluruh alam semesta sesuai dengan tugas-tugasnya masing-masing, mereka ini kabarnya berjumlah 4 milyar dewa dewi (buana agung), dan sekaligus para dewa dewi ini hadir pula diraga manusia sebagai buana alit.
Dimasa lampau sewaktu peradaban Eropah masih bersifat barbarik, para Aryan di India telah mampu menjabarkan fenomena-fenomena astronomi dengan sangat baik, dan mereka ini telah sadar akan rotasi bumi, bulan, matahari dan planet-planet lainnya disekitar bumi, mereka bahkan sadar sekali akan Sang Pencipta dan berbagai fenomena jagat raya yang dicatat dengan sangat baik.
Tidak mengherankan kalau fenomena-fenomena ini disebut sebagai kebesaran Yang Maha Esa di sloka diatas. Diatas disebutkan bahwa apa yang hadir dibuana agung hadir juga dibuana alit yaitu raga kita yang merupakan duplikat dari semesta itu sendiri. Jadi seharusnya kita eling bahwasanya kita adalah ciptaan yang mulia dan sederajat dengan ciptaan-ciptaan lainnya dijajaran alam semesta dan Yang Maha Esa hadir diraga kita sama seperti Beliau diraga-raga lainnya dialam semesta ini. Sebenar-benarnya Ini adalah Itu yang kau dambakan dan cari-cari selama ini.  Bukankah adalah suatu karunia yang luar biasa dan kehormatan yang besar sekali dilahirkan sebagai manusia ini?

10.         Apa yang kasat mata didunia ini, maka hal yang sama hadir tetapi tidak kasat sebagai Sang Brahma dialam sana; apa pun yang terdapat dialam sana semuanya terdapat dialam sini. Barangsiapa didunia ini mampu menyaksikan perbedaan antara Sang Brahman dan dunia ini, maka ia akan melampaui kematian demi kematian.
Keterangan : Mantra atau sloka diatas ingin menjabarkan kepada setiap insan yang selalu berpikir bahwa alam sana berbeda dengan alam sini, ibarat air yang ada di samudra luas dan air yang ada di pantai Kuta adalah air yang sama, yang juga sama dengan air laut yang ada di Hawaii; gelombang, buih, riak-riak berbeda nama dan bentuknya tetapi tetap saja mereka ini semuanya adalah air.
Demikian juga intisari Yang Maha Kuasa yang hadir didunia ini dan diberbagai manifestasiNya. Jadi setiap perbedaan dialam semesta dan isinya adalah sebenarnya berasal dari Yang Maha Tunggal maka ia telah menyatu denganNya secara seketika. Baginya kematian dan kelahiran sudah tidak eksis lagi, ibarat air dilautan luas adakalanya ia bernama gelombang, adakalanya ia disebut buih, adakalanya juga ia dinamakan riak-riak, padahal sehari-harinya adalah air semata-mata dihamparan yang disebut samudra atau lautan yang juga air adanya.

11.         Melalui pikiran semata-mata maka Sang Brahman ini dapat dicapai, dengan demikian tidak ada perbedaan sama sekali di dunia ini. Barangsiapa mampu menyaksikan perbedaan ini, maka ia akan berhasil melampaui kematian demi kematian.
Keterangan : Didalam berbagai karya-karya para Resi agung dimasa yang lalu banyak terdapat kontradiksi antara satu pernyataan dengan yang lainnya. Ini sudah menjadi logika spiritual karena secara duniawi logika tersebut sulit untuk dijabarkan apalagi untuk kaum awam.
Saat ini para ilmuwan Barat, bahkan telah menemukan fuzzy-logic, logika yang tidak beraturan tetapi sebenarnya dalam pola yang teratur. Para Resi semenjak masa yang silam menjabarkan Yang Maha Esa secara paradoks (berlawanan).
Sejauh ini para pembaca yang budiman tentu sudah terbiasa membaca pernyataan-pernyataan bahwa sang pikiran perlu dikendalikan, karena pikiran adalah sumber utama kegalauan manusia dalam meniti jalan kearah kebenaran absolut. Tetapi disloka diatas, sebaliknya disebut bahwa hanya melalui pikiran semata-mata Sang Brahman dapat dicapai oleh seseorang manusia. Bagaimana logika ini dapat dijabarkan, karena kita sudah terbiasa memahami bahwa pikiran adalah sumber dari kekacauan manusia itu sendiri karena sifatnya yang teramat liar ibarat kuda-kuda yang sulit untuk dikendalikan.
Sebenarnya tidak ada kontradiksi sama sekali dengan pernyataan diatas. Yang dimaksud di Upanishad ini adalah sewaktu sang pikiran sudah terkendali dengan baik, maka ia akan mencapai hakikat kebenaran dan menyaksikan hadirnya Sang Jati Diri didalam dirinya, seperti juga didalam diri dan manifestasi-manifestasi yang lainnya. Semua upaya ini tentunya tidak mudah, diperlukan sedemikian banyak kelahiran dan kematian, diperlukan juga sedemikan banyak bakti, pemujaan, meditasi dan samadi sampai suatu saat Yang Maha Esa berkenan hadir didalam diri kita. Pada saat itulah seseorang akan paham bahwa tidak ada perbedaan baik disini maupun disana. Yang hadir hanya Ia semata-mata.
  
12.         Sang Purusha, yang berukuran ibu jari bersemayam ditengah-tengah raga kita, sebagai Yang Maha Kuasa, baik dimasa-masa yang lampau maupun dimasa-masa yang akan datang; bermula dari ini (selanjutnya) setelah paham akan Beliau ini janganlah takut atau khawatir lagi. Ini sebenarnya adalah Itu.
Keterangan : Sruthi menyatakan bahwa kehidupan manusia ini dapat mekar adalah dengan memelihara jalan pikiran milik sang pikiran itu sendiri dengan berbagai upaya kendali diri. Manusia diciptakan dalam berbagai kategori guna dan bahwa setiap individu telah menyandang sifat-sifat kodratinya sendiri yang alami sekali sesuai dengan misi dan pembawaannya. Bagi seorang yogi sebenarnya ia sadar akan pengendalian pikirannya sesuai dengan jalan yang diambilnya. Seandainya ia mengambil jalan bakti, maka ia memerlukan nama dan bentuk Yang Maha Esa sebagai symbol utama meditasi dan konsentrasinya.
Seandainya ia adalah seorang hathayogin, maka ia memiliki Kundalini Shakti yang harus dikendalikan dan diarahkan kepadaNya secara baik dan bertanggung jawab.
Seandainya ia adalah seorang karma-yogin, maka ia diharuskan mengingat selalu melalui japa, ritual dan dedikasinya kepada Yang Maha Kuasa; dalam banyak hal pemujaan insan karma yogi ini, biasanya ke Yang Maha Esa dalam wujud Sri Narayana dan berbagai manifestasi Beliau dari waktu ke waktu. Diluar semuanya itu ada beberapa insan yang langka, yang memuja Sang Atman (Sang Jati Diri) didalam dirinya sendiri yang sebenarnya teramat sukar untuk diterangkan.
Upanishad yang satu ini sedang berusaha menjabarkan Yang Maha Esa melalui sloka-sloka dan mantra-mantra yang sarat akan makna. Tiba-tiba disloka mantra diatas, sesuatu yang sulit diterangkan ini (Sang Atman) digambarkan sebagai seorang Purusha yang berukuran sebesar ibu jari kita dan bersemayam ditengah-tengah hati sanubari kita. Bukankah hal ini sekali lagi berkontradiksi dengan ajaran spiritual Upanishad ini sendiri? Bagaimana mungkin yang diterangkan dapat digambarkan sebagai seorang Purusha sebesar ibu jari?
Tetapi menurut para resi-resi yang agung, bunda Sruthi yang sayang pada putra-putranya, yaitu kita semua insan dimayapada ini, selalu mencari jalan keluar bagi pemula yang sedang meniti jalan ke Yang Maha Kuasa. Bagi seorang pemula sebaiknya ia menvisualisasikan Sang Atman dalam bentuk dalam Sang Purusha ini dulu. Dari yang berbentuk, baru secara perlahan dan pasti masuk ke yang tidak berbentuk, yang tidak dapat dijabarkan bahkan oleh semua pancaindera kita yang utama.

13.         Purusha tersebut yang berukuran sebesar ibu jari dikatakan ibarat api yang tidak berasap, Beliau adalah wujud Yang Maha Esa yang hadir dimasa-masa yang lampau dan akan selalu hadir dari masa ke masa. Ini sebenarnya adalah Itu.
Keterangan : Purusha atau Sang Atman atau Sang Jati Diri yang hadir disetiap insan ini juga dikenal sebagai Sang Cahaya atau Jyoti yang selalu hadir dari semenjak masa yang teramat silam, pada saat ini dan masa-masa yang akan datang. Ia berada dalam setiap mahluk dan setiap manifestasi, baik itu yang berasal dari masa lalu maupun sekarang dan yang akan datang. Sambil berkonsentrasi kepada Yang Maha Esa (Atman), janganlah seorang sadhaka (pencari kebenaran) tertipu oleh gambaran sebesar ibu jari ini yang sebenarnya tidak ada dan hanya bersifat imajinasi belaka. Patung Dewa Shiva bukanlah Shiva Sri Parameshvara itu sendiri, begitu juga Sang Jyoti atau Cahaya Yang Maha Esa ini bukan Sang Atman itu sendiri, jadi jangan mengeluh kalau sudah puluhan tahun bermeditasi dan berkonsentrasi, mengapa Sang Atman Dharsana tidak menampakkan diri juga. Suatu upaya konsentrasi kearah Yang Maha Esa tanpa pamrih, tanpa target, dan tanpa hasrat serta berbagai nafsu dan keinginan, tanpa mengharapkan pahala akan mengantar kita keberbagai fenomena dan ilmu pengetahuan yang pada akhirnya akan menuntun kita ke hakikat Sang Atman, Yang Maha Kuasa yang hadir didalam relung sanubari kita yang teramat dalam. Para pemuja yang masih dalam tahap pemula boleh saja menvisualisasikan Atman dalam wujud ibu jari ini, ataupun gambaran (Istha) lainnya pada permulaan meditasi mereka, tetapi secara perlahan dan pasti masukilah hakikatNya daripada terpaku pada gambaran yang sebenarnya adalah imajinasi manusia itu sendiri.

14.         Ibarat air yang mengalir melalui lereng-lereng sebuah gunung terpencar menjatuhi batu-batuan yang berserakan disana sini, demikian juga ia yang menyaksikan berbagai tujuan kehidupan (objek-objek kehidupan), seakan-akan yang satu berbeda dengan yang lainnya, berlari-lari mengalir kearah objek-objek ini dan kemudian tercerai berai kesetiap arah setiap saat.
Keterangan : Pikiran manusia sebenarnya adalah suatu ciptaan Yang Maha Esa yang berdimensi kekuatan itu sendiri. Tetapi sehari-hari karena kekurang pengetahuan kita, maka manusia malahan menjadi budak dan hamba sahaya dari pemikirannya sendiri, daripada mempergunakannya sebagai alat atau perangkat pemberianNya agar kita mampu menggunakannya demi mencapai hakikatNya Yang Maha Esa dan abadi ini. Mantra atau sloka diatas menggambarkan jalan pikiran manusia ibarat air hujan yang turun disebuah puncak gunung, akhirnya ada yang tercerai berai menghantam bebatuan dan muncrat kesana kemari dan malahan tidak mengalir secara berkesinambungan ibarat aliran sebuah sungai. Lalu adakah jalan keluar bagi sang pikiran yang tercerai berai ini? Para ahli menyatakan karena pikiran manusia terdiri dari dua bagian yaitu yang positif dan negatif (Im dan Yang), maka sebaiknya yang positif ini penuh dengan kesadaran berupaya untuk mengendalikan sisi yang negatif, agar jalan pikiran menjadi berimbang. Ada ahli yang menyatakan bahwa sang pikiran itu sendiri bertendensi menjadi hamba dari jalan pikirannya sendiri, dan ada yang berasumsi bahwa setengah jalan pikiran selalu ke kanan dan setengah jalan lagi ke kiri, yang setengah mau kesana (liar) dan setengahnya lagi kesini (intelegensi / budhi). Sebaiknya hal ini diselaraskan, dikendalikan. Sebenarnya inti dan tujuan karya suci ini bukankah mengarah ke Itu juga?

15.         Ibarat air yang jernih mengalir masuk ke air yang jernih lainnya dan menjadi sama jernihnya, demikian juga Sang Atman dari seorang pemikir akan menyadari akan hakikat ini, wahai Gautama.
  
Dengan ini berakhirlah Vali ke empat dari Bab kedua ini.
  
Keterangan : Mantra ini adalah kesimpulan dari Bagian ke empat diatas dari Bab – 2 ini yang sekali lagi melihat aspek kesatuan dari kehadiran Yang Maha Esa didalam setiap manusia dan totalitas dari Yang Maha Esa yang tersebar dimana-mana diseluruh jajaran alam semesta ini.
Dikatakan oleh seorang guru resi diabad ini yang tidak kami sebutkan namanya bahwa : manusia minus (tanpa) ego adalah Tuhan, Tuhan ditambah (plus) ego adalah manusia. Dengan menghapus ego didalam diri kita akan tercipta perwujudan dan hakikat Yang Maha Esa disanubari kita. Sewaktu kita menanggalkan semua persepsi yang salah, dari kekurang pengetahuan kita, juga dari khayalan-khayalan duniawi yang menyesatkan dan menambatkan diri ke ilmu pengetahuan akan kebenaran dan akan Yang Maha Abadi, maka sang ego pun lalu menguap ke permukaan yang selama ini diselimuti oleh ego ini, yaitu Sang Jati Diri (Kebenaran Absolut), yang bercahaya penuh kesejahteraan dan kemuliaan yang hakiki.
Pada saat itu seseorang manusia lalu sadar akan sifat aslinya yaitu kesadaran hakiki, dan dengan kesadaran ini ia menyatu dengan Yang Maha Hadir dan Yang Maha Benar.
Ibarat air jernih kemudian sang manusia ini bersatu kembali dengan sumber air jernihnya sendiri, setelah kotor sementara waktu yaitu sewaktu ia berubah fungsi. Tetapi setelah melampaui proses penyulingan spiritual, ia menjadi jernih kembali dan kembali ke sumbernya yang jernih dari mana ia berasal dahulunya, dan semua hal ini adalah air jernih belaka, tidak ada hal yang lainnya. Dan kalau semua pengetahuan dalam berbagai analog ini sudah disampaikan kepada kita, bukankah kita sebagai insan sedharma seharusnya bersyukur kepada Yang Maha Kuasa untuk semua pengetahuan hakiki yang bersifat adiluhung dan suci ini. Dan kalau diantara kita masih ada yang menyalahkan berbagai ajaran dan tuntunan dalam berbagai Veda-Veda, Upanishad dan karya-karya suci lainnya, dan kalau ada yang masih berkasta tinggi dan rendah, dan berdiskriminasi atas nama ras, warna kulit, bangsa, kedudukan, keturunan ataupun kekayaan dan posisi kita, bukankah pada hakikatnya itu sebenarnya merupakan pelecehan akan hakikat dan martabat kita sebagai buana alit itu sendiri?
 Dan sekaligus hal tersebut juga merupakan pelecehan terhadap Sang Pencipta dan ini bertentangan dengan prinsip-prinsip Sanathana Dharma itu sendiri.
Tidak mengherankan kalau kehidupan keagamaan Hindu Dharma dinegara kita pada saat ini ditulis berada dalam posisi yang teramat lemah, baik dalam penghayatan maupun aplikasinya, karena kekurang pengetahuan akan hakikat sejati dari ajaran Dharma yang serba kabur dan tidak jelas dari mereka-mereka yang selama ini merasakan dirinya sebagai agen-agen Yang Maha Kuasa, mereka-mereka ini menyesatkan umat dengan berbagai ritual yang aduhai dan bersifat tamasik, yang gemerlapan dan lebih dicondongkan untuk konsumsi turis daripada untuk pengabdian yang sebenarnya kepada Sang Pencipta.
Hal ini terjadi di India dan juga di Indonesia, sehingga generasi penerus mulai bimbang dan ragu-ragu akan Hindu Dharma dan terombang ambinglah mereka karenanya. Syukurlah Sang Maha Dharma pada saat ini telah melahirkan generasi penerus yang sebagian besar masih berusia muda belia, terdidik dan berwawasan luas, ditambah batas-batas negara sudah tidak berarti lagi dikarenakan kemajuan teknologi yang luar biasa, maka kita semua tahu sendiri akan perbedaan dan persamaan persepsi agama Hindu yang berlaku dimanca negara dan di tanah air.
Para muda belia ini berupaya dengan berbagai jalan mendalami hakikat Dharma yang sesungguhnya. Untuk mereka inilah karya agung ini dipersembahkan dan bukan untuk mereka-mereka yang selama ini menyesatkan umat atas nama Dharma. Tanpa berbagai Upanishad, Hindu (Sanathana  Dharma)  tidak akan eksis dan tak dapat disebut sebagai dharma!


Bagian  -  5
(Sang jiwa didalam . . . . . .  yang bersifat imanen dan juga bersifat transcendental)
1.            Kota (pura) tempat bersemayam Sang Brahma Yang Tak Dilahirkan, yang ilmu pengetahuannya bersifat permanen (tetap) berpintu gerbang sebanyak sebelas buah. Barangsiapa memuja Beliau maka ia tidak akan bersedih hati dan akan terbebaskan dari semua ikatan-ikatan kebodohan dan berubah menjadi bebas. Ini sebenarnya adalah Itu.
Keterangan : Kata Pura atau Puram diatas dalam bahasa Sansekerta berarti sebuah kota dengan sebelas pintu gerbang yang disebut Puramekadasadvaram, yang tidak lain dan tidak bukan adalah raga kita sendiri. Ada tujuh pintu dibagian kepala / wajah kita, dan tiga buah pintu lagi dibagian tengah tubuh kita (wanita memiliki dua pintu di kemaluannya dan satu di anus, pria satu di penis dan satu di anus) dan yang ke sebelas adalah suatu celah yang teramat lembut dan sulit dideteksi yang disebut sebagai Brahma-randhra di cakra mahkota kita yang selalu dibicarakan diberbagai yoga-shahtra. Kalau raga ini diibaratkan sebagai kota yang berpintu gerbang sebelas, maka seharusnya pintu-pintu gerbang ini dijaga oleh para penjaga pintu gerbang, yang memeriksa setiap insan yang masuk dan keluar; secara logika duniawi maka kota inipun memiliki istana dan raja sebagai penguasanya, memiliki juga para pelayan dan abdi dalam yang melakukan kewajiban mereka sehari-hari secara sistematik dan teratur dengan baik didalam maupun diluar kota ini.
Berbagai lubang di bagian atas dan tengah kita (dua dihidung, dua ditelinga, dua dimata, satu dimulut, dua divagina, satu dianus) adalah pintu-pintu gerbang kita, dan para dewa dewi yang bersemayam di setiap organ-organ indera ini, adalah para pengayom dan penjaganya; sang pikiran adalah petugas pengendali dan tragisnya sering kehilangan kendali diri dan Sang Purusha adalah Penguasa seluruh aparat-aparat.
Seseorang yang memuja Purusha ini akan menyaksikan keagungan dan hakikat Sang Atman, penguasa raga ini dan akan dibebaskan dari berbagai kehidupan dan kematiannya berulang-ulang. Inilah yang disebut Itu dan yang dicari serta didambakan oleh Nachiketas dan akhirnya diterangkan secara terperinci, baik secara duniawi maupun secara hakiki oleh gurunya sang Dewa Kematian, sang Yama Raja.
Manfaatnya diperoleh kita semua, semoga kita berterima kasih kepada kedua unsur sejati yaitu guru dan murid diatas ini. Om Shanti Shanti Shanti.

2.            Sebagai Hamsa (sang surya) Beliau bersemayam diruang angkasa; sebagai Vayu (udara) Beliau bersemayam dilangit; sebagai Agni (api) Beliau bersemayam dibumi; sebagai seorang tamu Beliau hadir disebuah rumah; Beliau hadir dan bersemayam disetiap insan, dewa dewi, didalam setiap pengorbanan (yang mengandung kebenaran), dilangit. Beliau dilahirkan diberbagai wujud yagna (pengorbanan), Beliau dilahirkan diberbagai pegunungan; Beliau benar dan teramat mulia serta agung adanya.
Keterangan : Sebagai yang hadir disetiap organisme dan bentuk diseluruh jagat raya ini, Beliau dilahirkan sebagai Sang Atman didalam setiap mahluk yang berasal dari air (Abja) sebagai Gojah yang dilahirkan dalam bentuk tumbuh-tumbuhan dan berbagai flora serta tanaman dimuka bumi ini.
Sebagai Adrijah yang dilahirkan oleh / diberbagai pegunungan seperti sungai, air terjun dan lain sebagainya.

3.            Beliau (Sang Brahman) yang menaikkan Prana keatas dan menurunkan Apana kebawah. Yang Maha Mulia ini, yang bersemayam ditengah-tengah, dipuja oleh para dewa semuanya.
Keterangan : Seandainya Sang Atman tidak hadir didalam diri kita, maka sang raga tidak akan mampu bernapas. Adalah Sang Atman yang menyebabkan udara vital (napas) kita berfungsi dengan baik yaitu dengan menarik napas Prana dan menghembuskan kembali Apana, tanpa itu raga langsung berhenti berfungsi. Ada lima bentuk energi utama dan vital didalam tubuh kita yang berfungsi secara teratur dan sistematis; walaupun mempunyai tugas yang berlainan, mereka semuanya ini adalah eksistensi tunggal dan berprinsip sama.
Ke lima bentuk Pranas ini diterdiri dari :
1.      Prana, kekuatan kosmis yang bermanifestasi didalam tugas-tugas organ tubuh yang disebut paru-paru serta organ-organ lainnya yang berhubungan dengan sistim pernapasan kita.
2.      Apana, yang berfungsi diusus dan saluran urine.
3.      Samana, yang berfungsi disistim pencernaan.
4.      Udana, yang berfungsi didalam pita suara dan sistim-sistim tubuh lainnya yang memproduksi suara.
5.      Vyana, yang aktif bekerja dan berfungsi disirkulasi darah didalam tubuh.
Jadi harap diperhatikan, yang disebut Prana bukan hanya napas. Prana adalah energi vital, dan pernapasan adalah salah satu dari berbagai fungsi serta manifestasinya.
Para dewa yang bersemayam diberbagai organ tubuh (buana alit) yang jumlahnya sama dengan yang bersemayam disetiap penjuru jagat raya (buana agung), semuanya memuja kesatu arah dipusat tubuh ini, yaitu Sang Jati Diri (Sang Atman).

4.            Apakah yang tersisa sewaktu Sang Atman ini yang bersemayam didalam raga, meninggalkan raga tersebut? Ini sebenar-benarnya adalah Itu.

5.            Tidak dengan Prana, tidak juga dengan Apana, seseorang itu mampu hidup; tetapi ada sesuatu yang lain, yang menunjang Prana dan Apana, yang memungkinkan manusia mampu untuk bertahan hidup.
Keterangan : Sesuatu yang lain, yang menunjang Prana dan Apana adalah Sang Atman, Sang Jati Diri itu sendiri. Tanpa Beliau seluruh fungsi Prana dan Apana terhenti, dan selanjutnya seluruh indrias menjadi layu dan raga mulai membusuk secara total.

6.            Oleh karena itu, wahai Gautama, akan kuterangkan mengenai Sang Brahman yang misterius dan berasal dari masa yang teramat silam, dan juga apa yang terjadi kepada Sang Jiwa setelah kematian.

7.             Ada jiwa yang menitis ke raga manusia, dan ada yang lainnya ke pepohonan dan bebatuan, sesuai dengan pekerjaan dan pengetahuannya dimasa-masa yang lalu.

8.            Sang Purusha yang selalu terjaga (tidak pernah tidur), membentuk semua objek-objek keinginan; bahkan sewaktu kita berada dalam keadaan tertidur, objek-objek keinginan ini divisualisasikan kedalam mimpi . . . sebenar-benarnya Beliau itulah Sang Brahman yang disebut Yang Maha Abadi. Didalam Itu bersandarlah seluruh dunia ini dan tak seorangpun yang mampu melampaui Itu. Ini sebenarnya adalah Itu (yang dikau cari dan dambakan).
Keterangan : Kehidupan manusia didasarkan (dibagi) dalam tiga kategori yang disebut terjaga (tidak tidur), dalam keadaan mimpi dan dalam keadaan tertidur lelap.
Sebuah karya agung Mandukya-Upanishad menerangkan secara terperinci dan fantastis mengenai ketiga keadaan tersebut diatas.

9.            Ibarat seunggun api sesudah memasuki dunia, walaupun seunggun, berupa-rupa wujudnya sesuai benda yang terbakar olehnya; demikian juga dengan Sang Atman, yang mengambil wujud sesuai dengan berupa-rupa manifestasi yang dimasukinya, Beliau juga hadir diluar bentuk dan berbagai manifestasi ini.
Keterangan : Disalah satu sloka Bhagavat Gita tertulis bahwa seluruh alam semesta ini hanya sepercik dari Yang Maha Esa itu sendiri, dan bayangkan Sang Atman yang merupakan pancaran-pancaran Beliau yang memenuhi seisi jagat raya ini.

10.         Ibarat udara (Bayu) yang berbentuk satu, setelah memasuki dunia ini, walaupun sebenarnya masih beresensi satu, tetapi terbagi dalam berbagai jenis sesuai dengan bentuk yang diambilnya; demikian juga dengan Sang Atman didalam setiap mahluk hidup walaupun tunggal keberadaannya, tetapi mengambil berbagai bentuk sesuai dengan yang dipilihnya dan Beliau juga hadir diluar semua ciptaan-ciptaan ini.
Keterangan : Udara dapat juga disebut napas, oksigen, udara yang mengandung gas, angin, Bayu dan lain sebagainya. Pada hakikatnya semua itu berasal dari satu unsur juga.

11.         Ibarat sang surya, yang merupakan mata dunia ini, tidak terkontaminasi oleh berbagai cacat mata eksternal, demikian juga dengan Intisari direlung yang paling dalam (Sang Atman) yang hadir disetiap mahluk, tidak akan terkontaminasi oleh berbagai penderitaan eksternal di dunia ini.
Keterangan : Sarva-lokasya chaksuh (mata seisi dunia), sang surya adalah sumber dari daya penglihatan kita semua, demikian kesimpulan para resi Upanishad di jaman Vedik. Tanpa penerangan dari sang surya, mata kita ibarat mata cacat yang buta dan tidak dapat melihat (merefleksi kembali) sinar surya ini.
Sang surya bersinar sama ke kotoran manusia ataupun ke arah seseorang yang merasa dirinya suci, tanpa sedikitpun tercemar atau menjadi suci karenanya. Demikian juga Sang Atman tidak akan terkontaminasi oleh berbagai bentuk karma dan karma manusia berdasarkan sifat-sifat egosentris setiap individu yang berlainan perilaku dan karakternya.
Ada dua pendapat diantara para pemikir dan cendekiawan Hindu, yang mencoba menerangkan status relatif dari Kebenaran itu sendiri.
Yang satu berpendapat, Yang Maha Kuasa (Kebenaran) merubah diriNya sendiri, ibarat susu yang menjadi mentega atau yoghurt.
Kaum Vedantin tidak setuju dengan teori ini, karena dengan demikian Tuhan tidak eksis lagi, yang ada hanya seluruh alam semesta ini sebagai perwujudannya, jadi tidak bersifat abadi. Nonsens, kata mereka.
Para Vedantins berpendapat bahwa Yang Maha Kuasa menciptakan Sang Maya (ilusi duniawi), dari Sang Maya inilah seluruh ciptaan yang berbentuk seisi alam semesta dengan segala fenomena, bentuk dan kehidupan ini diproyeksikan. Teori ini disebut Vivartavada. Dengan demikian walau mencipta, Yang Maha Kuasa tetap bersifat jauh dan abadi, diluar seluruh ciptaan-ciptaan dan berbagai manifestasinya ini.

12.         (Itu) Penguasa Yang Maha Tunggal, yang merupakan jiwa didalam setiap mahluk, yang memanifestasikan diriNya yang tunggal keberbagai bentuk . . . . . para kaum bijak, yang menyadari akan hakikatNya sebagai Sang Jati Diri didalam diri mereka sendiri (Ishwar-dharsana), kepada mereka datang kebahagiaan yang abadi dan tidak kepada yang lain-lainnya.

13.         Beliau, Yang Maha Abadi diantara yang tidak abadi, yang maha intelligent (cetana-cetanam) didalam berbagai intelegensia, yang walaupun tunggal, memenuhi berbagai hasrat manusia . . . . mereka-mereka, kaum bijak yang telah mencapai hakikatnya, yang menyadariNya sebagai Sang Jati Diri, yang bersemayam didalam diri mereka sendiri; kepada orang-orang bijak inilah datang Shanti (kedamaian) yang abadi dan tidak kepada yang lain-lainnya.
Keterangan : Cetana-cetanam (Yang Maha Intelligent) didalam intelegensia. Di Barat  para ilmuwan dianggap sebagai manusia yang jenius, apalagi yang memenangkan hadiah Nobel. Di India semua jenius ini tidak akan berarti kalau Sang Atman Yang Maha Inteligent tidak berkenan membagi daya intelegensiaNya demi tujuan duniawi dan manusia banyak. Einstein yang bijak pernah berkata : “Wahai Tuhan, aku ini ibarat sebutir pasir dipantai yang maha luas ini.”

14.         Para resi mengamati (menyaksikan) bahwa karunia tertinggi (Ini) diibaratkan sebagai, “Ini adalah Itu”, bagaimana mungkin aku mengenalNya (Itu)? Apakah Ia bercahaya dari diriNya, ataukah Ia bercahaya dikarenakan cahaya yang lainnya?
Keterangan : Tad etad iti (Ini adalah Itu). Sewaktu seorang yang suci sanggup menarik unsur-unsur persepsi, rasa dan tekad dari jalan pikirannya, sewaktu ia sudah tidak terikat lagi akan perilakunya sehari-hari yang datang dan pergi sesuai dengan kodratnya, ia akan “disentuh” oleh Sang Atman yang senantiasa hadir didalam dirinya. Kehadiran Sang Atman yang gilang gemilang ini dipertanyakan oleh Yama Dewa itu sendiri, yang kemudian disloka berikutnya akan dijawabnya secara cemerlang olehnya sendiri juga.

15.         Sang surya tidak bersinar disana, tidak juga sang chandra, tidak juga bintang-bintang, tidak juga halilintar apalagi agni. Sewaktu Beliau bersinar, semuanya bersinar mengikutiNya; berkat cahayaNya, semua ini bercahaya.
Dengan ini berakhirlah Bagian ke lima dari Bab – 2
  
Keterangan : Di India, sloka diatas ini dianggap sebagai mantra yang suci, yang selalu dikumandangkan diberbagai Arathi (Puja dengan memakai pelita dan berbagai ragam bunga diatas penampan yang diayunkan secara berputar dengan perlahan-lahan). Karena begitu seringnya mantra ini dilagukan, hampir semua pemuja dan pendeta menganggapnya sebagai suatu tradisi yang harus dilakukan, tanpa banyak yang paham bahwasanya mantra ini adalah kesimpulan yang amat menakjubkan dari Katopanishad, dan sebenarnya merupakan inspirasi dan tujuan bagi yang mengambil jalan dhyana (semadi).
Kami tulis mantra aslinya seperti berikut, agar dapat diucapkan oleh anda yang ingin bermeditasi ke Sang Jati Diri dalam bentuk Sinar Yang Maha Esa (Jyoti) yang terletak ditengah-tengah kedua alis mata.
Baca Bab – 6, Bhagavat Gita, jalan meditasi, sebagai petunjuk melakukan dhyana ini. Dibawah ini kami sertakan mantra diatas :

Na tatra suryo bhati, na chandra-tarakam,
nima vidyuto bhanti, kuto “yam agnih”
Tameva bhantamanubathi sarvam,
tasya bhasa, sarvamidam vibhati.
BAGIAN  -  6
(Jalan Adhiatma-Yoga diterangkan lebih lanjut secara terperinci)

1.            Ini adalah pohon Aswatha yang berasal dari masa yang silam, yang akar-akarnya tumbuh keatas dan yang cabang-cabangnya tersebar kebawah. Itu sebenar-benarnya sejati, Itu adalah Brahman, yang juga disebut Yang Maha Abadi. Didalam Itu terletak dengan baik seluruh isi dunia ini, dan tak seorangpun yang melampauiNya. Secara hakiki (sebenar-benarnya) Ini adalah Itu.
Keterangan : Pohon Aswatha (pohon kehidupan) adalah perumpamaan dari kehidupan ini (Samsara) yang seperti di Bhagavat Gita, XV.3, dijabarkan sebagai bermula (berakar) diatas, di Vishnu Paramam Padam (tempat bersemayam Sang Vishnu, Sang Atman Yang Maha Hadir). Kata Aswatha sendiri dalam bahasa Sansekerta dapat berarti “sesuatu yang tidak akan berubah menjadi esok hari”. Jadi kehidupan ini tidak bersifat abadi. Walaupun demikian Upanishad ini berusaha memberitahukan kepada kita bahwa kehidupan didunia ini sebagai Aswatha walaupun tidak abadi sifatnya, berakar pada Kebenaran Absolut . Menurut Bhagavat Gita dengan berpedoman pada kesadaran dan pengetahuan (viveka), pohon kehidupan ini dapat ditebas habis.

2.            Seluruh alam semesta ini secara lambat laun bermula dari Sang Brahman, bergerak (bergetar) didalam Prana (dalam bentuk Brahman yang tinggi sifatNya). Sang Brahman ini adalah sebuah teror yang dahsyat, ibarat halilintar yang terangkat. Barangsiapa paham akan hal ini akan menjadi abadi.
Keterangan : Kata Prana diatas ditafsirkan sebagai Sang Brahman itu sendiri, darimana semua ini berasal dan akan berakhir, dan seisi dunia ini bergerak didalam Prana itu sendiri yang maha hadir setiap saat. Para ilmuwan Barat mengetahui bahwa unit-unit energi dialam semesta bergerak dengan kecepatan yang amat dahsyat. Sewaktu sebuah atom terbelah, maka didapatkan elektron dan proton yang bergerak dengan velositas yang tinggi mengitari neutron yang tidak bergerak dan lain sebagainya.
Dengan kata lain, para ilmuwan Hindu dengan mudah menerima fakta bahwa penciptaan adalah gerakan, vibrasi dari unsur-unsur energi, dan memungkinkan bagi vibrasi tadi untuk berfungsi seandainya ada medium stabil yang tidak bergerak terikat dipusatnya, dan para resi menyebut unsur ini sebagai Realitas Absolut.
Kata Mahadbhayam (terror yang dahsyat) menggambarkan kedahsyatan Yang Maha Esa (Brahman) yang tentunya bagi kaum awam sangatlah menakutkan ibarat terror menyaksikan gerak kerja dari alam semesta, dari permulaannya sampai dewasa ini. Semua fenomena alam semesta ini begitu dahsyat dan menakjubkan sehingga diibaratkan seakan-akan sebuah terror yang maha menggentarkan. Didalam Bhagavat Gita digambarkan bagaimana tergetarnya sang Arjuna sewaktu menyaksikan fenomena alam ini sehingga ia mohon kepada Sang Krishna agar diperlihatkan wujudNya yang lembut yaitu Vishnu, karena Arjuna sudah tidak sanggup menyaksikan kerja alam yang begitu menakjubkan ini sehingga seluruh sendi-sendi tubuhnya serasa hancur. Dengan demikian mantra sloka diatas berupaya untuk menerangkan bahwa Yang Maha Kuasa itu sendiri sebagai sesuatu kekuatan yang aktif dan dinamik, dan pada saat yang bersamaan merupakan Intelegensia Murni yang bersifat non-aksi. Barangsiapa paham akan hakikat Sang Brahman Yang Maha Tinggi ini, sumber dari segala kehidupan diseluruh jagat raya, sebagai elemen vital yang juga hadir didalam diri kita masing-masing, maka insan yang paham akan hakikat ini segera akan dituntun kearah Keabadian.

3.            Karena gentar akan Yang Maha Kuasa, Sang Agni pun menyalakan dirinya, karena gentar akan Yang Maha Kuasa, sang surya pun bersinar, karena gentar akan Yang Maha Kuasa, sang Dewa Indra, Bayu dan Dewa Kematian, berfungsi sesuai tugas mereka masing-masing.
Keterangan : Kata gentar akan Yang Maha Kuasa juga didapatkan di Taittereya Upanishad. Dengan kata lain gentar diibaratkan sebagai kepatuhan seluruh unsur alam semesta ini akan keberadaan Yang Maha Kuasa dan semua unsur ini lalu berfungsi secara harmonis, sempurna dan sistematis sehingga alam semesta lestari dan hadir bekerja sesuai dengan hukum-hukum alam itu sendiri yang sulit untuk dijabarkan.

4.            Seandainya didalam kehidupan ini seseorang mampu menemukan hakikatNya (Brahman) sebelum ia meninggalkan raganya, maka insan ini akan terbebaskan dari ikatan-ikatan duniawi ini; seandainya seseorang tidak mampu mencapaiNya, maka ia harus lahir kembali didunia ini.

5.            Ibarat sebuah cermin, demikian juga Sang Brahman dapat terlihat dengan jelas dikehidupan ini oleh seseorang didalam Sang Jati Dirinya sendiri; seperti didalam mimpi begitu juga di pitraloka; seperti di air begitupun di lokanya para Ghandarvas; seperti ditempat yang terang dan ditempat yang teduh, begitu juga di dunianya Sang Brahman.
Keterangan : Dimana mantra sloka diatas, Dewa Kematian sedang berusaha untuk menerangkan kepada Nachiketas bahwa realisasi akan Sang Jati Diri didalam kehidupan sebagai manusia ini lebih suci sifatnya dari pada realisasi akan hakikatNya distrata-strata lainnya.
Itulah sebabnya, sering disebutkan bahwa manusia adalah mahluk yang mulia. Tragisnya, kita lebih merendahkan diri kita sendiri dari pada sadar akan hakikat yang mulia ini.
Sebagai manusia kita ini hidup didalam strata kesadaran, dan mengalami berbagai pengalaman kehidupan melalui raga, indera-indera sensual kita, pikiran dan daya intelek kita. Juga pengalaman kehidupan kita terbagi dalam keadaan terjaga, tidur, mimpi dan sebagainya.
Selain strata duniawi ini, terdapat strata (loka-loka) kehidupan lainnya seperti Pitraloka (lokanya para leluhur yang telah meninggalkan dunia ini) dimana dikatakan tidak ada raga, tetapi yang hadir hanyalah pikiran budhi saja. Jadi pengalaman hidup sehari-hari di Pitraloka pasti berlainan coraknya dengan kehidupan manusia didunia ini. Begitupun pengalaman kehidupan di Ghandarvaloka (lokanya para bidadari yang sehari-harinya bermain musik, menari dan melaksanakan berbagai kegiatan seni budaya sorgawi).
Sedangkan di Hiranyagarbha (Brahmaloka), totalitas kehidupan masih merupakan teka teki dan misteri. Apakah disana seseorang menjadi satu dengan Yang Maha Esa? Apakah dan seperti apakah sebenarnya moksha itu, dan bagaimana kelanjutannya?
Ada teori yang mengatakan bahwa mereka-mereka yang telah mencapai Brahmaloka akan menikmati kehidupannya diloka tersebut sampai suatu saat Sang Pencipta menghendaki orang suci tersebut menjadi abadi disaat pralaya (kiamat) tiba. Tahap ini disebut Karma-Mukti didalam istilah Vedanta.
Kesimpulan mantra sloka diatas :
Melalui ilmu pengetahuan tentang Sang Jati Diri, seseorang akan diangkat ke strata yang paling tinggi. Tahap ini dapat dicapai seseorang walaupun ia hadir diloka manapun juga, tetapi tidak sesempurna seperti dibumi ini. Dalam wujud manusia yang bahkan konon didambakan sekali oleh para dewa ini terdapat pelajaran akan hakikat Yang Maha Kuasa dengan baik.
Bumi atau mayapada ini adalah jalan yang diberikan kepada kita semua untuk merealisasikannya.

6.            Seorang yang bijak . . . . . . setelah memahami bahwa indera-indera sensual sebenarnya diciptakan secara terpisah jauh dari Sang Atman, begitupun semua pengalaman-pengalaman indera-indera sensual ini . . . . .  orang yang bijaksana ini tidak bersedih hati lagi.
Keterangan : Mungkin kita pada saat ini mulai bertanya-tanya lagi untuk apa kita harus sadar akan Sang Jati Diri. Mungkin sloka diatas sedang berupaya untuk menjawabnya secara Sruthi Bhagawathi (skripsi-skripsi kuno). Menurut para resi, organ (indera) sensual diciptakan sesuai dengan hukum sebab dan akibat (karma) seseorang itu sendiri, bahkan berbagai cara kerja, cacat ataupun kelebihan indera-indera sensual ini berbeda satu dengan yang lainnya, karena telah diatur oleh kodratnya masing-masing. Sedangkan Sang Atman yang hadir didalam raga kita, walaupun adalah sumber atau motor dari berbagai aspek kegiatan indera-indera sensual ini, tidak tercemar atau tersentuh oleh kegiatan ini. Barangsiapa mampu menyeberangi ilusi duniawi ini (dalam bentuk indera-indera dan kegiatannya masing-masing) akan menemui Sang Jati Diri yang bersemayam dekat sekali didalam relung sanubari kita yang paling dalam tetapi sekaligus.

7.            Diatas indera-indera hadir sang pikiran, diatas sang pikiran hadir sang budhi, diatas sang budhi hadir Sang Atman Yang Agung. Yang lebih Maha dibanding Sang Atman adalah Yang Tak Terterangkan.

8.            Dan sebenar-benarnya diatas Yang Tak Termanifestasikan hadir Sang Purusha yang serba hadir dimanapun juga, yang tak ada cela ataupun cacatnya, dimana setelah memahamiNya, seseorang yang paham akan hal ini akan dibebaskan dari kehidupan ini dan akan mencapai status keabadian.
Keterangan : Sang Purusha, unsur yang paling lembut didalam raga kita disebut sebagai Vyapaka (yang serba hadir dimanapun juga), juga Beliau disebut sebagai Alinga (tanpa karakter, pemikiran, cacat cela dan lain sebagainya). Dengan kata lain, seorang pencari hakikat kebenaran didunia ini harus mengalahkan dulu berbagai hasrat, instink , pikiran dan lain-lain faktor duniawi untuk mencapai Sang Purusha (Sang Jati Diri). Dan jalan ini tidaklah mudah sama sekali.
Ujung jalan (tujuan) ini disebut tahap tanpa kematian dari eksistensi nan abadi (Brahmavith Brahmaiva Bhavathi).

9.            BentukNya tak boleh disaksikan. Tak seorangpun pernah menyaksikanNya dengan mata biasa. Dengan mengendalikan sang pikiran, dengan budhi dan dengan meditasi yang berkesinambungan, Ia akan memperlihatkan diriNya. Mereka-mereka yang mengenali (Brahman) Ini, berubah menjadi seseorang yang abadi.

10.        Sewaktu kelima organ ilmu pengetahuan beristirahat secara bersama-sama dengan sang pikiran, dan sewaktu sang budhi berhenti berfungsi (menjadi tenang), hal tersebut oleh mereka disebut sebagai tahap yang tertinggi.
Keterangan : Sewaktu seseorang sehari-harinya berhasil mengendalikan kelima organ sensualnya dengan baik, maka sang pikiran berubah tenang dan tidak penuh dengan riak-riak kegalauan, dan dengan hadirnya ketenangan ini terjadi domino effek terhadap sang budhi yang pada gilirannya sekarang tidak perlu banyak menetralisir unsur-unsur sang pikiran dan indera-indera sensualnya; akibatnya sang jiwa jadi sangat hening dan lepas dari unsur-unsur duniawi yang selalu menggodanya dengan berbagai kegalauan, hasrat dan berbagai kontradiksi kehidupan dan lain sebagainya.
Kekosongan atau keheningan ini adalah jalan yang menyatukan sang jiwa dan Sang Jati Diri. Tahap ini sulit dicapai, bahkan oleh para guru. Oleh para resi yang suci sebagaimana diterangkan dalam berbagai Sruthi, maka tahap ini disebut sebagai Tahap Keselamatan Abadi. Tahap tertinggi dalam samadi ini sulit untuk dijabarkan, walaupun diterangkan secara terperinci tetap saja sulit dimengerti oleh yang bukan merasakannya secara pribadi dan langsung.

11.         Pengendalian yang ketat atas organ-organ sensual disebut sebagai yoga. Sesudah itu seorang Yogin bebas dari segala tingkah laku sang pikiran, karena yoganya telah tercapai dan kemudian yoga ini menghilang.
Keterangan : Seperti juga di Bhagavat Gita, disloka mantra diatas disebutkan bahwa pengendalian yang ketat (bukan penghentian fungsi-fungsi indrias, tetapi ingat pengendalian yang ketat) akan menghasilkan suatu tahap yang disebut Yoga yang bersifat abadi. Yoga ini menghantarkan kita ketahap Sang Jati Diri.
Pada masa kejayaan spiritual Sanathana Dharma banyak manusia yang telah berhasil mencapai tahap ini. Ada juga para ahli yang menyebutkan tahap ini sebagai “Param Dristhwa Nivarthathoe”, ditahap ini berkat realisasi total akan Sang Jati Diri, seseorang secara pasti dapat mengendalikan organ-organ sensualnya dengan penuh kendali. Tapa sang yogi dalam bentuk pengendalian indrias ini dianggap yang tertinggi sifatnya (Eikagryam Paramam Tapah). Dan pada tahap ini seluruh keberhasilan yoga ini dapat hilang dalam sekejap kalau sang yogin yang berhasil mencapainya tiba-tiba bersikap kurang hati-hati akan karunia Yang Maha Esa ini, dan sang yogin dapat tersesat ke jalan Siddhi dan menyalah gunakan kekuatan-kekuatan spiritual yang didapatnya. Ingat, semakin tinggi gunung yang didaki, semakin dingin dan buruk cuacanya, apalagi angin topan siap menghantam kapan saja.
Jalan ilmu pengetahuan (yoga) ini begitu terjal dan suramnya sehingga disebut tajam ibarat pisau cukur, begitu tersandung, sang yogin akan langsung terjerumus kekehancuran spiritualnya. Sebaiknya seseorang selalu berpasrah diri secara total kepada Sang Pencipta dan mohon untuk selalu dituntun olehNya.
Dengan kehendakNya, seseorang akan terjerumus atau terselamatkan; pujalah Ia siang dan malam dari mana kita semua ini berasal dan sedang meniti misteriNya yang menakjubkan. OM Tat Sat.

12.         Sang Jati Diri tidak dapat dicapai dengan kata-kata, dengan pikiran ataupun dengan mata. Bagaimana mungkin Ia dapat dicapai dengan jalan lain, selain jalan yang telah dinyatakan oleh para resi yang mensabdakan “keberadaan Tuhan Yang Maha Esa”.
Keterangan : Sang Atman adalah sebenar-benarnya pengendali, motor dan penguasa seluruh jiwa raga manusia dan tidak ada unsur lainnya. Dan tidak ada jalan lainnya, selain jalan spiritual yang ada di Vedanta (Kathopanishad ini termasuk didalam jajaran besar Vedanta) yang mampu mengantarkan seseorang kepenemuannya dengan Sang Jati Dirinya sendiri.
Sabda-sabda suci yang sama ini juga dikumandangkan diberbagai Upanishad lainnya dan juga di Veda-Veda, di Bhagavat Gita dan karya-karya sastra suci lainnya yang kita kenal dengan sebutan Sabda Pramanam yang merupakan hasil berbagai ajaran para resi dari masa ke masa yang berasaskan Sanathana Dharma. Sejauh ini belum ada ajaran lain selain dari Sanathana Dharma.
Sang Budha, Guru Nanak, bahkan Sai Baba dan berbagai guru resi dewasa ini masih berpedoman pada sabda-sabda dan petunjuk-petunjuk yang ada dijajaran Vedanta, tidak seorangpun mengingkari hakikat ini. Setiap pencari jalan ini akan menapak jalan ini sesuai dengan karuniaNya dan menemukan Sang Tujuan sesuai dengan kehendakNya juga, para guru suci yang sadar akan hakikat dan tujuan Yang Maha Esa, secara ihklas membagi-bagikan pengetahuan ini kepada semua insan didunia agar terbuka jalan kepada Tuhan Yang Maha Esa dalam berbagai bentuk petunjuk seperti Veda, Upanishad, Puranas dan lain sebagainya.

13.         Beliau seharusnya dikenal sebagai Yang Maha Hadir (Asti) dan juga sebagai Apa hakikat Beliau itu sebenarnya. Diantara keduanya, bagi seseorang yang mengenalNya (memahamiNya) sebagai Yang Maha Hadir, maka sifat Beliau yang sejati akan bermanifestasi kepada orang tersebut.
Keterangan : Sloka mantra diatas hadir ibarat sebuah teka teki bagi kita semuanya. Ada ahli yang berpendapat bahwa Atma-chaitanya (penyatuan dengan Sang Atman) dapat direalisasikan dalam bentuk manifestasi seperti bentuk-bentuk Avatara, atau tanpa bentuk dan atribut, sebagai Kesadaran Sejati, sebagai Kebenaran yang Absolut dan lain sebagainya.
Didalam beberapa sloka di Kathopanishad ini, Dewa Yama mengajarkan kepada Nachiketas bahwa seseorang yang bermeditasi ke sumber OM dengan menyimbolkanNya sebagai Sang Brahman, akan mencapai Hiranyagarbha; dan bagi yang ingin menyimbolkan OM sebagai Kesadaran Sejati akan merealisasikannya dalam bentuk realitas yang maha Hadir.
Sri Kreshna di Bhagavat Gita bahkan sangat liberal dengan menyatakan bahwa barangsiapapun yang datang kearahNya melalui jalan apapun juga akan Beliau sambut secara pribadi. Barangsiapa melangkah kearahNya satu langkah saja, maka Beliau akan melangkah kearah pemuja tersebut seribu langkah.
Oleh karena itu sebaiknya seorang bhakta (pemuja yang baik) mengikuti bisikan nuraninya saja yang tidak akan pernah kalah. Sruthi dijadikan petunjuk, tujuan diserahkan kepada Sang Pencipta, karena Beliau ini yang punya gawe diseluruh alam semesta ini.
Apakah dipuja sebagai Yang Berbentuk (Sakara Brahman)  atau Yang Tidak Berbentuk (Nirguna Brahman) sebenarnya hanyalah merupakan kembang-kembang pemujaan itu sendiri. Pada akhirnya bhakta yang penuh dengan ketulusan akan mencapaiNya karena Beliau memiliki langkah yang lebih besar, lebih banyak dan lebih cepat dari manusia. Penyatuan dengan Yang Maha Esa bukanlah laba dari suatu pemujaan tetapi lebih merupakan sebuah Karunia yang tidak terhingga nilainya hasil dari keheningan yang hadir di diri kita .

14.         Sewaktu semua hasrat yang ada didalam hati kita hancur berantakan, pada saat itu manusia yang seharusnya dapat mati, malahan berubah menjadi abadi, dan iapun mencapai Sang Brahman bahkan semasa ia disini (dibumi ini, bahkan semasa ia masih hidup).
Keterangan : Banyak orang percaya bahwa moksha atau mukti hanya dapat diperoleh setelah seseorang suci meninggal dunia. Mukti type ini disebut Videha Mukti (kebebasan setelah meninggalkan raga). Banyak juga yang beranggapan lain, misalnya seperti di Bhagavat Gita, bahwa kebebasan dapat juga dicapai semasa seseorang masih hidup didunia ini, dan type ini disebut Jivam (Jivan) Mukti.

15.         Sewaktu simpul-simpul dihati diluluhlantakkan semasa seseorang masih hidup dibumi ini, maka seseorang manusia yang dapat mati ini akan berubah menjadi abadi, demikianlah sabda-sabda yang ada didalam semua Vedanta.
Keterangan : Simpul-simpul dihati (Hridayagrandhi) . . . . ini adalah filosofi Vedantin (penganut Vedanta) yang menyatakan bahwa Avidya (kekurang pengetahuan) adalah sifat manusia yang menjerumuskan manusia itu kealam kegelapan spiritualnya sendiri. Didalam kegelapan (ilusi duniawi) ini manusia tersesat dan tertambat kepada yang lebih kuat lagi, karena kebodohannya, dan akhirnya lupa akan eksistensi sejati yang seharusnya menjadi tujuannya semula ia dilahirkan sebagai manusia. Ikatan-ikatan atau berbagai simpul yang terdiri dari Avidya, Kama dan Karma disebut sebagai Hridayagrandhi. Berpedangkan ilmu pengetahuan, pangkaslah unsur-unsur kebodohan spiritual yang mengikat ini, demikian kira-kira sabda Sri Kreshna di Bhagavat Gita.
Dengan demikian sebenarnya seseorang dapat berubah menjadi “Tuhan kecil” itu sendiri semasa ia masih hidup didunia ini dengan bekal ilmu pengetahuan yang sejati. Seseorang kemudian akan sadar dan memahami bahwa Yang Maha Esa bukan saja hadir didalam dirinya sendiri tetapi juga sebagai seisi jagad raya ini dan Itu adalah sifatNya yang paling hakiki.

16.         Terdapat seratus dan satu urat-urat syaraf jantung; diantara semua itu salah satu urat syaraf ini memasuki cakra mahkota di kepala. Menuju keatas melalui syaraf ini, tetapi banyak yang meniti jalan ini secara berbeda.
Keterangan : Dalam tahap ini kita akan sampai ke suatu teka teki lainnya yang sulit untuk diterangkan bagi mereka-mereka yang tidak paham akan jalan meditasi (dhyana) secara filosofi yoga.
Ada sebuah Upanishad khusus yang menjabarkan tentang cakra-cakra (pusat-pusat) energi ditubuh kita ini. Yama Raja hanya mengisyaratkan cakra utama yang terbuka karena upaya yoga seseorang. Terbukanya cakra mahkota ini merupakan suatu fenomena yang teramat menakjubkan bagi seseorang yang menjalankan upaya meditasi (syaraf ini disebut shushumna), yang terdapat disepanjang tulang punggung sampai bagian atas yang disebut Apex dalam dunia medis, yang kemudian masuk ke bagian cakra mahkota di kepala.

17.         Sang Purusha yang berukuran sebesar ibu jari, Sang Jati Diri, senantiasa bersemayam didalam hati setiap mahluk, seseorang harus menariknya keluar dari raganya dengan tegar, ibarat seseorang mencabut isi sumsum dari buluhnya, seseorang seharusnya mengenaliNya sebagai Yang Maha Sejati dan Abadi.
Keterangan : Sebuah analogi yang penuh dengan misteri yang terkesan mudah tetapi sulit dilaksanakan. Yama Dewa sudah akan mengakhiri wejangannya. Ia menyimpulkan kepada Nachiketas (dan tentunya kepada kita semua juga) agar Sang Atman yang merupakan Hakikat Absolut (bagi yang telah sadar akan Sang Atman) harus ditarik keluar secara begitu hati-hati ibarat mengeluarkan cairan lembut yang ada di dalam suatu batang (buluh), tanpa merusak batangnya.
Seyogyanya kita juga mampu merealisasikan Sang Atman (Jati Diri) didalam diri kita dengan mengesampingkan berbagai halangan duniawi seperti Kama (Nafsu), krodah (Kemarahan) dan lobha (Keserakahan) dan lain sebagainya.

18.         Nachiketas, setelah mendengarkan semua ajaran dari Yama Raja dan setelah mengalami seluruh proses Yoga ini, berubah menjadi bersih abadi dan bebas dari segala kekotoran (duniawi) dan iapun mencapai Sang Brahman; demikian juga mereka-mereka yang menghayati dan memahami akan Sang Jati Diri.
  
Dengan ini berakhirlah Vali ke enam dari Bab – 2
Keterangan : Setelah mendengarkan dengan penuh perhatian semua wejangan dari Dewa Kematian, Nachiketas mengundurkan dirinya dari dunia yang penuh dengan hiruk pikuk ini dan mempelajari Brahma Vidya yang agung ini dan secara lambat laun iapun mencapai Sang Atman yang bersemayam didalam dirinya sendiri. Menurut Sruthi, hal yang sama dapat dicapai oleh setiap insan, bahkan di era Kaliyuga ini seandainya ia telah bebas dari Virajah (dari dosa-dosa, kekotoran-kekotoran duniawi), dari penalarannya akan baik dan buruk dan lain sebagainya yang menjadi penghalang spiritualnya.
Semoga karya ini bermanfaat bagi kita semua.
                        Om Saha Navavathu
                        Saha Nau Bhunakthu
                        Saha Viryam Karavavahai
                        Tejavi Nav Adhitam Astu
                        Ma Vidvisavahai
                        (Om Santihi - Santihi - Santihi)
                        Ithi Kathopanishad Samaptah
                        Semoga Ia melindungi kita berdua
                        Semoga Ia memberkati kita dengan berkat ilmu pengetahuan
                        Semoga kita menggunakannya secara bersama-sama
                        Semoga apa yang telah kita pelajari dipelajari oleh yang lainnya
                        Semoga kita tidak bertengkar satu dengan yang lainnya.
 
                                    ( Om Santihi - Santihi – Santihi )

Dimasa lalu seorang guru amat menghormati murid-muridnya dan begitupun sebaliknya, rasa hormat didasari oleh pengetahuan, bahwa guru yang baik sulit untuk didapatkan, begitu juga murid yang baik.
Itulah sebabnya mantra diatas diucapkan agar ilmu pengetahuan yang hakiki dapat bermanfaat bagi yang mengajar dan yang mendapat pelajaran. Sia-sia saja pelajaran seorang guru yang baik tanpa murid yang baik dan begitupun sebaliknya. Dalam Brahma Vidya tidak akan ada kemajuan tanpa kerja sama yang baik antara sang murid dan sang guru.
Setiap hari seorang guru spiritual dan para sishynya, sebelum memulai pelajaran mengucapkan mantra tersebut diatas. Semoga sidang pembacapun memanfaatkan karya ini sebagai penuntun (guru) dan dengan merendahkan diri mencoba merenung dan mempelajari secara hening.
Semoga karya para resi yang agung dimasa yang silam ini berguna bagi kita semua. Rasa syukur dan terima kasih bagi Nachiketas dan gurunya Yama Dewa, bagi semua dimasa yang lalu dan masa kini sehingga memungkinkan karya ini ditulis lagi dan lagi disepanjang zaman.
Dengan ini berakhirlah Kathopanishad ini.
HARI  OM  TAT  SAT
 OM SHANTIHI – SHANTIHI – SHANTIHI

Disarikan dalam bahasa Indonesia yang sederhana oleh  mohan m . s. 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar