Minggu, 17 Juni 2012

MANDUKYA UPANISHAD


BAB I
 Kehidupan seseorang manusia dibagi-bagi dalam tiga keadaan (tahap) yaitu masing-masing alam-sadar, alam-mimpi dan alam-tidur tanpa mimpi. Namun di atas ketiga tahap ini masih ada sebuah alam lain yang bersifat kesadaran yang tertinggi . . . alam ini disebut sebagai yang Keempat.”
Mandukya Upanishad

 MANDUKYA  &  KARIKA
 “Wahai para dewata, semoga kami senantiasa mendengarkan apapun yang bersifat suci dan murni: wahai para dewata yang kami puja-puji, semoga kami senantiasa melihat apapun yang bersifat suci dan murni. Semoga kami senantiasa menjalani kehidupan kami secara sehat dan sejahtera, sambil senantiasa memanjatkan doa-doa kami ke arahMu semua. Semoga Indra yang Kuna dan terkenal, Pooshan (Surya) yang serba mengetahui; Bayu, dewata yang berkecepatan tinggi yang senantiasa menyelamatkan kita dari segala bencana, dan Brihaspati yang menjaga kekayaan spiritual  kita semua dengan kekuatan  budhi agar kita dapat memahami skripsi suci ini, dan semoga kami dapat mengikuti ajaran ini.”
 Om Santhi-Santhi-Santhi
Keterangan : Demikianlah caranya dimasa lampau, para resi memulai ajaran mereka, dengan melantunkan shanti-mantra di atas, bersama-sama para sishya mereka sebelum memulai sesuatu ajaran Upanishad yang dianggap suci. Mantra ini juga disebut Shantipat. Upanishad yang satu ini dianggap  yang tertinggi diantara 108 Upanishad lainnya, walaupun hanya berisikan 12 sloka mantra saja, namun Karika (tafsir ditambah berbagai keterangan dan ajaran lain-lainnya) cukup panjang dan melelahkan bagi kaum awam.
Kata kita dan kami di mantra tersebut di atas, dapat diartikan sebagai berikut di dalam bahasa Inggris. We all = kita; we = kami. Demikian agar tidak rancu dalam pemahamannya.
Sebelum memulai dengan ajaran ini, sebaiknya kita menyimak dulu Upanishad yang satu ini, yang terkesan sangat khusus, yang selain berisikan 12 mantra inti, juga Karika yang sulit dipahami oleh kaum awam dan sebagian para resi sekalipun.  Karika ditulis dan diajarkan oleh seorang resi agung bernama Sri Gaudapada, dari aliran Sri Shankara Acharya, Bapak agama Hindhu modern. Ajaran Karika ini telah diterima umat Hindhu sebagai pedoman yang handal untuk Upanishad yang satu ini.
Karika ini sendiri bukan sembarang ulasan yang bersifat biasa, tetapi lebih bersifat ulasan memorial dalam bentuk metrikal agar mudah dipahami oleh sishya. Berbagai mantra dan sutra-sutra juga ditambahkan agar lebih mudah pemahamannya. Agar memori para murid dan pembaca terjaga  dengan agak baik, banyak sekali mantra seloka terkesan diulang-ulang, dan agak membosankan, namun sangat bermanfaat dikala kita lupa akan intisari ajaran ini, yang seharusnya dihayati sedikit demi sedikit dan tidak perlu dibaca sekaligus. Yang seharusnya diperhatikan adalah mempelajari ilmu pengetahuan yang sarat filosofi ini, yang dicetuskan sewaktu bangsa Barat belum mengenal peradaban dunia ini.
Sejauh ini belum ada seorangpun yang mampu menjabarkan siapa gerangan penulis ajaran Upanishad ini, dan juga berbagai Upanishad yang lainnya.  Para ahli hanya bisa menduga-duga bahwasanya nama depan resi penulis setiap Upanishad dipergunakan oleh para sishyanya, sebagai judul kitab-kitab Upanishad ini.  Sebagai contoh :  Kathaka diduga adalah pencetus Kathopanishad; Kena mungkin adalah penulis Kanopanishad dan seterusnya. Namun untuk Upanishad yang satu ini, dugaan tersebut bisa saja tidak berlaku, karena kata Mandukya dalam bahasa  Sansekerta berarti kodok, Upanishad ini bisa berarti ajaran Ajaran Sang Kodok (Katak). Konon ada seorang resi yang menyatakan, bahwasanya penulis Upanishad ini begitu merendahkan dirinya sehingga mengibaratkan dirinya sebagai seekor kodok yang terkungkung di dalam sebuah tempurung, dan merasakan  apa yang diajarkan ini masih jauh dari sempurna, jadi beliau tidak mau namanya dicantumkan.  Namun orang suci ini juga berkomentar bahwasanya seekor katak biasanya menyisihkan sekitar 9 atau 10 bulan setahunnya untuk berhibernasi di kolam atau genangan lumpur pekat, seakan-akan bermeditasi dalam suatu kesatuan kelompok, dan seakan-akan menjauhi seluruh keaktifan duniawi dan hanya terserap di alam hibernasinya saja, yang berkepanjangan namun hening ini. Pada musim hujan mereka keluar dari keheningan ini dan mulailah orkes katak yang mempesona itu. Orkes katak ini sudah tidak bisa dinikmati lagi oleh  manusia yang tinggal di kota-kota besar!
Bukankah para resi yang menyepikan diri mereka ke hutan dan gua (para Sanyasi) melakukan hal serupa juga? Dengan pakaian yang sangat minim, bahkan ada yang bertelanjang bulat; para resi  di India ini turun ke sungai Gangga setahun sekali pada hari raya Kumba Mela atau hari-hari khusus lainnya, untuk mengumandangkan ajaran kebenaran mereka.
Kata Upanishad ini sendiri bisa berarti : Upa + ni + shad yang berarti duduk didataran rendah (level yang ama). Maksudnya guru dan murid duduk di level yang sama di lapangan terbuka, yang satu menghadap ke yang lainnya.  Inilah sistim sekolah tertua di dunia dan masih dipraktekkan di Shantiniketan, sebuah universitas yang didirikan oleh Sri Rabindranath Tagore di tahun empat puluhan.
Kembali ke Mandukya Upanishad ini, konon menurut ajaran Muktiko Upanishad, adalah tepat untuk mengantarkan seseorang  ke arah pembebasan  duniawi yang disebut mukti atau moksha. Di dalam bahasa Sansekertanya dikatakan, “Mandukya ekam kevalan mumukshunam vimuktaye”.
Kedua-belas sloka mantra di Upanishad ini berbicara mengenai sebuah topik utama kehidupan yang tidak lekang dari segala jaman, dan masih merupakan misteri bagi dunia Barat yang serba sakit akibat kelebihan duniawi mereka.  Mandukya berbicara akan tiga tahap kehidupan manusia sehari-harinya disamping menyiratkan ajaran akan “Non-dualisme”. Juga yang terkenal dari ajaran ini adalah “Maha Vakya” yang merupakan ajaran untuk meditasi tingkat tinggi.
Menurut ajaran Sanathana Dharma, ada empat maha-vakya yang diperuntukkan bagi Vedanta Shadana yang masing-masing diambil dari setiap Veda. Contoh : Yang diambil dari Atharvana Veda yang terkenal adalah:
“Ayam Atma Brahma” yang berarti “Atman ini adalah Sang Brahman”.
Kata Aku (Atman) yang bersifat universal di atas juga hadir di Upanishad ini secara dominan.
Sekarang marilah membahas Karika , yang rumit dan panjang ini. Ada bab yang memuat 215 sloka, masing-masing disebut Agama Prakarana (bersifat skriptual) … bab 29. Kemudian Vaithathya Prakarana (Ilusi) … bab 38, kemudian Adwaita Prakarana (Non-dualisme, bab 48) dan Alatha Santi Prakarana (memenangkan kobaran api).
Agama Prakarana memuat 12 sloka inti Uphanisad ini, dengan tambahan Karika disana-sini sesuai dengan ajaran Sruthi.
Selanjutnya mari kita ikuti bagian yang satu ini: 

AGAMA PRAKARANA
(SKRIPTUAL) 
Pembukaan Mandukya Uphanisad ini disebut sebagai “Perjanjian Skiptual (Penjelasan Skriptual) karena isinya dan karena berbentuk metrikal yang disusun oleh Sri Gaudapadiya, sehingga sering juga disebut sebagai Sri Gaudapadiya Karika oleh peneliti asing. Disebut skriptual karena sloka-sloka mantra Uphanisad ini juga pada teks aslinya memuat stanza-stanza Karika di titik-titik yang dianggap penting. Pada prinsipnya dengan metodenya sendiri, Sri Gaudapadiya ingin mengarahkan ajaran ini ke tahap paling penting, yang di Upanishad ini disebut sebagai tahap Thuriya, yaitu Realitas Absolut yang bersifat Non-Dual. Itulah sebabnya dalam bahasa Sanekerta, bab ini disebut Agama Prakarana.
Dalam bahasa Sansekerta aslinya, agama berarti: bukti-bukti tradisional akan keberadaan (Hakikat) dari Tuhan Yang Maha Esa, sedangkan Prakarana berarti ajaran-ajaran  yang bersifat permulaan atau dasar. Sri Gaudapadiya dalam ajarannya, mencoba untuk membimbing kita melampaui tiga tahap yang kita tempuh sehari-hari dalam kehidupan kita yaitu:
Tahap Kesadaran,
Tahap Mimpi,
Dan tahap Tidur Lelap (tanpa mimpi)
Kata tahap bisa juga berarti alam, contoh: alam sadar, alam mimpi dsb. Beliau, sang guru ini ingin membimbing kita melalui ketiga tahap ini untuk mencapai alam atau tahap Thuriya. Bagi sishya modern disajikan maket di halaman berikut ini.
Bagi yang tidak mementingkan maket, maka ajaran selanjutnya akan sangat berguna dalam peningkatan daya spiritual dan pemahaman akan misteri dan kehidupan ini, yang ternyata dibahas oleh Sri Gaudapadiya pada suatu level seminar di India kuna, bersama-sama dengan berbagai utusan resi-resi agung dari berbagai aliran agama (ajaran) Hindhu Dharma. Bayangkan mereka semua ini duduk berhari-hari dalam suatu lingkaran untuk mencapai suatu persamaan konsep akan Hakikat  Yang Maha Kuasa, demi lestarinya umat manusia ini.  Om Shanti Shanti  Shanti. 
MANDUKYA UPANISHAD 
Sloka - 1      “Harihi Om, Om, seluruhnya, hanya terdiri dari satu patah kata ini saja. Penjelasannya adalah seperti berikut ini.  Semuanya dimasa lalu, dimasa kini, dan dimasa yang akan datang, sebenar-benarnya adalah Om. Semua yang diluar ketiga masa tersebut juga sebenar-benarnya adalah Om”.
Keterangan: Bagi seorang siswa atau sishya pemula, sloka pembukaan ini bisa mengacaukan persepsi spiritual yang dianutnya selama ini. Sebaiknya ia mempelajari dahulu berbagai Upanishad yang lainnya agar memaklumi arti kata dan intisari Om.  Om adalah Nama, obyek yang dituju oleh nama ini, Om juga adanya, sebenarnya yang terlihat, terasakan dan terpikirkan oleh umat manusia dari masa ke masa adalah Om itu sendiri, demikian sabda dari Sri Shankara Acharya, seorang filsuf muda yang dianggap sebagai pembaharu agama Hindhu. Beliau lahir  kira-kira pada zamannya Sang Sidharta Gautama. Semua benda dan makhluk, apa saja, baik yang kasat mata maupun yang tidak kasat mata adalah juga Om. Tanpa kecuali semua berasal dariNya, untukNya dan kembali kepadaNya juga. Beliau ini adalah Om.

Sloka - 2      “Semua ini secara hakiki adalah Brahman. Sang Atman adalah Sang Brahman.  Sang Atman ini memiliki empat bagian”.
Keterangan: Sloka ini dikategorikan sebagai sloka maha-vakya, karena kandungan intisarinya yang amat dalam secara spiritual dan tidak terbatas penalarannya.  Semakin banyak seorang sishya memfokuskan  arah studi dan meditasinya ke makna yang dikandung oleh sloka  di atas, maka makin banyak yang akan diresapinya.
4 bagian Sang Jati Diri (Atman) adalah aspek-aspek sehari-hari secara duniawi bagi seorang manusia, yaitu alam kesadaran, alam mimpi dan alam tidur lelap (jumlah 3 tahap). Diatasnya baru hadir tahap keempat yang disebut Thuriya, yaitu tahap kesadaran akan  Hakikat Yang Maha Esa. Bagi yang awam seakan-akan hadir 4 bagian ini,  padahal bisa berarti Yang Maha Esa secara hakiki hadir di dalam keempat alam ini.

Sloka - 3      “Seperempat tahap ini (Pada) disebut Vaiswanara yang mencakup aktivitas tahap-tahap kesadaran, yang sadar akan obyek-obyek dunia eksternal, yang memiliki tujuh organ  perangkat dan 19 mulut (bibir), yang menikmati berbagai obyek-obyek kasar duniawi ini.”
Keterangan : Alam atau tahap-tahap ini disebut sebagai pengalaman oleh para resi guru, dan setiap pengalaman ini dibagi dalam tiga faktor utama yaitu :
Yang mengalami, yang dialami, dan hubungan antara yang mengalami dan yang dialami. Dan yang terakhir ini disebut juga sebagai mengalami secara terus menerus. Sehari-harinya setiap insan manusia berinteraksi dengan ketiga alam ini dan ketiga faktor yang eksis bersama-sama ini. Sekilas ketiga alam ini berlainan dan tidak berkelompok secara bersama-sama. Upanishad ini untuk selanjutnya akan membahas semua ini secara terperinci.
Ego kesadaran manusia disebut Vaisnawara, dalam bahasa Sansekerta atau Viswa. Ego ini menikmati seluruh alam kesadaran dan seluruh aspek/obyek-obyek sensualnya. Juga semua fenomena sensual dinikmatinya, contoh: suara, rasa, bau dan sebagainya.  Dalam alam sadar semua faktor dan fenomena ini bisa dinikmati oleh seluruh organ-organ sensual kita (indriyas). Viswa ini diilustrasikan seakan-akan berorgan 7 dan bermulut 19, seakan-akan seekor ular naga yang mengerikan bentuknya, padahal hanya kata-kata kiasan saja, namun pada hakikatnya berarti dalam, ibarat naga yang menjerat kehidupan kita dengan yang serba duniawi ini, melalui jerat indriyas.
Mulut disini berarti berbagai perangkat konsumsi  yang masing-masing adalah lima perangkat persepsi, lima perangkat berbagai tindakan (pelaksanaan), lima aspek Prana, ditambah sang pikiran, budhi, egoisme dan chitta (keterikatan).
Sloka-mantra di atas menyatakan bhwasanya Atman adalah Brahman, dengan kata lain itu bisa diartikan sang ego individual adalag Ego Totalitas (Absolut). Dengan kata lain “Sang Jati Diri yang terbatas” adalah “Sang Jati Diri Yang Maha Tak Terbatas (Bentuk Universal).”
Para resi guru mengistilahkan fenomena ini sebagai Vyasthi, yaitu mikrokosmos atau buana alit, dan Samasthi yaitu makrokosmos atau biana agung.  Diterangkan di Upanishad ini bahwa sang Atman didalam tahap kesadaran bermanifestasi melalui raga kasar ini yaitu Vaiswanara yang juga berperangkat 7 buah. Sekali lagi ditegaskan bahwa buana alit adalah Vaiswanara dan buana agung adalah Virat (kata lain untuk bentuk Universal).
Chastra-widhi menyatakan Sang Jati Diri Vaiswanara ini mencakup kepala (daerah bercahaya), mata (surya), udara sebagai nafasnya, antariksa (bagian perutnya), ginjal (air), bumi (kaki) dan mulut (api yang disebut sebagai Ahavaniya). Ungkapan-ungkapan ini pastilah membingungkan bagi para pemula, namun tidak bagi yang telah mempelajari Bhagavat-Gita dan berbagai Upanishad lainnya.
Sloka mantra berikutnya berbicara tentang mimpi.

Sloka - 4      “Pada yang kedua disebut Taijasa, berbagai aktivitasnya disebut tahap (alam) mimpi. Tahap ini sadar akan kehidupan internal dari berbagai obyek-obyek lembut (halus) yang berasal dari berbagai aktivitas mental.”
Keterangan: Sloka sebelumnya berbicara akan alam sadar manusia, sloka di atas menyatakan kekuatan yang sama itu bisa menjauhi dunia eksternal dan mengidentifikasikan dirinya  ke tahap (alam) mimpi dan berinteraksi dengan alam ini dan juga dengan berbagai obyek lembut yang berasal dari badan halus manusia itu sendiri. Tahap ini disebut Taijasa, dan ketujuh perangkat dan 19 mulut yang dimilikinya bersifat sama dengan uraian  di sloka sebelumnya di alam sadar. Kedua tahap ini yaitu Vaiswanara dan Taijasa, sang ego di alam sadar dan sang ego di alam mimpi, adalah 2 bagian integral manusia. Kesadaran sejati atau rasa eling yang berinterasi dengan raga kita memainkan peran sebagai Vaiswanara  dalam alam sadar, dan faktor yang sama ini juga sewaktu ke alam mimpi, terserap oleh obyek-obyek dan fenomena  halus di alam mimpi ini, dan berubah menjadi sang (si) pemimpi (Taijasa) itu sendiri. Demikianlah kedua Pada  ini dijelaskan, kita akan memasuki Pada yang ketiga yaitu alam tidur.

Sloka - 5      “Itulah tahap tidur-lelap, dimana yang  tertidur ini tidak mendambakan obyek apapun juga, dan iapun tidak menyaksikan mimpi apapun juga. Pada ketiga  ini disebut Prajnya yang tahapnya adalah tidur lelap. Di tahap ini seluruh pengalaman bersatu dan tidak  bisa dibeda-bedakan, yang sebenarnya adalah kesadaran dalam bentuk homogeneou (kesatuan secara keseluruhan), tahap ini merupakan pintu gerbang yang mengantar manusia ke arah dua tahap kesadaran yaitu alam sadar dan alam mimpi.”
Keterangan: Ternyata alam tidur lelap adalah tahap kekosongan yang tidak kosong, seperti antariksa yang mengelilingi seluruh alam semesta ini. Tahap homogeneous ini merupakan kesatuan dari berbagai kesadaran, disebut juga Prajnyanaghana, para resi juga menyebutnya sebagai alam kebahagiaan (Anandamaya) karena di tahap ini manusia bisa lepas dari berbagai suka dan duka yang mengikatnya, kemudian lepas dari alam ini, kita ibaratnya mendapatkan energi baru, seperti alat yang telah direcharge lagi. Sebenarnya tubuh kita adalah teknologi penciptaan yang  amat menakjubkan, sayang manusia karena kebodohannya merusak raga ini dengan obat terlarang dan perilaku serta minuman keras yang merusak.
Dari tahap tidur lelap ini kemudian seorang manusia diantar ke alam mimpi, lalu diproyeksikan kembali ke alam sadar dan kemudian ke alam mimpi lagi dan seterusnya ke alam tidur lelap.  Selama orang masih hidup maka proyek ini berjalan terus.  Demikianlah Pada ketiga telah diuraikan secara manis sekali di sloka mantra di atas, selanjutnya mantra sloka berikutnya akan berbicara mengenai Sang Prajnya.

Sloka - 6      “Inilah Tuhan (Sarreswara) dari semuanya; Yang memahami semuanya; Inilah yang mengendalikan bagian-bagian alam; Inilah sumber dari segala-galanya. Dan Ini adalah Itu yang merupakan asal-muasal  dari semua ciptaan dan kedalamNya juga, semua ini akhirnya akan melebur kembali.”
Keterangan: Kata Ini dan Itu adalah sebuatan halus yang sangat bernuansa halus dalam sabda-sabda para resi untuk menjelaskan akan Keberadaan dan Hakikat Tuhan Yang Maha Esa (Sarreswara) secara sederhana sekali.  Mereka, para resi teramat bijak senantiasa menyebut Yang Maha Esa dengan kata-kata seperti : Ini, Itu, Yang, Nya, Dia dan sebagainya. Kata Sarreswara (Tuhan) di sloka ini menggambarkan Kesadaran Maha Hakiki yang hadir di dalam semua ciptaanNya. Dari Beliau semua ini berasal, dan kepadaNya juga semua ini akan melebur kembali.
Selanjutnya akan hadir Karika (Tafsiran) dari Sri Gaudapadiya. 
K A R I K A  
1.         “Viswa, Pada yang pertama adalah dia Yang Maha Hadir, Yang merasakan obyek-obyek eksternal yang kasar (disebut sebagai Yang Sadar). Taijasa, Pada yang kedua adalah dia yang memahami bagian dalam, badan halus (disebut sebagai yang bermimpi). Prajnya adalah dia yang berbentuk kesatuan kesadaran. Dia  adalah ketiga-tiganya yang dikenali di ketiga Pada (tahap-tahap kesadaran) ini.”
2.         “Viswa bekerja melalui mata kanan. Taijasa bekerja melalui sang pikiran, dan Prajnya bekerja melalui spasi yang ada di hati sanubari. Demikianlah, Satu Jati Diri ini diperkirakan bekerja dari tiga titik pusat sebagai tiga fenomena yang berlainan.”

3.         “Pahamilah ketiga lapis pengalaman-pengalaman (hidup) ini; Vaiswanara senantiasa merasakan obyek-obyek sensual yang kasar (badan kasar); Taijasa menikmati obyek-obyek yang lembut yang berasal dari badan halus, dan Prajnya menikmati yang bersifat kebahagiaan (Ilahi).”

4.         “Pahamilah ketiga faktor ini sebagai tiga lapis pemuasan; Vaiswanara terpuaskan oleh obyek-obyek  kasar (luar), Taijasa terpuaskan oleh obyek-obyek yang halus, dan Prajnya mendapatkan kepuasan dari yang bersifat kebahagiaan Ilahi (Anandascha).”

5.         “Seseorang yang mengalami kedua perihal ini, yaitu yang merasakan dan yang dirasakan, sesuai dengan yang telah dijabarkan sejauh ini, sebagai yang berhubungan dengan tiga tahap kesadaran, (maka) insan tersebut tidak akan terpengaruh sewaktu ia merasakan masing-masing obyek ini, yang berasal dari ketiga tahap (alam) ini.”

Keterangan: Membaca sebuah buku masak memasak tidak berarti lalu seseorang bisa langsung memasak. Diperlukan latihan terus menerus, diperlukan juga ketekunan dan teknik memasak dan perlahan-lahan seseorang akan trampil memasak.  Demikian juga didalam kehidupan kita sehari-hari, dari satu Pada ke pada yang lainnya dibutuhkan waktu, disiplin dan ketrampilan tersendiri untuk suatu waktu nanti merealisasikan Kesadaran Yang Paling Hakiki, yaitu Sang Atman yang juga dikenal sebagai Prajnya ini.  Latihan meditasi yang berkesinambungan, guru-resi dan berbagai masukan spiritual  yang positip harus senantiasa  hadir didalam berbagai Pada ini, barulah dengan karuniaNya, insan yang berusaha ini dapat merealisasikan Kebahagiaan Ilahi ini, yang bersifat tanpa batas.  Sekali terserap kedalamNya, maka kehidupan sehari-hari hanya dilakukan demi lestarinya kehidupan itu tanpa terikat kepada hasilnya.

6.         “Selama ini telah ditegaskan bahwa sesuatu itu hanya bisa berasal dari sesuatu lainnya yang eksis (bukan yang non-eksis). Sang Prana memanifestasikan berbagai hal yang bersifat halus; Sang Purusha menciptakan makhluk-makhluk yang memiliki kesadaran, yang juga memiliki ego, didalam berbagai bentuk ciptaan-ciptaan, secara terpisah-pisah.”

Keterangan:  Menurut Sri Gaudapada dan para resi lainnya, dari aspek realitas (Prana)  timbul hal-hal yang bersifat halus dan gaib di dunia ini, dan dari aspek kesadaran Ilahi (Purusha) lahirlah seisi dunia yang berwujud ini.

7.         “Ada sementara peneliti dalam bidang penciptaan dunia ini berpendapat bahwasanya ini adalah pancaran dari kekuatan Kemegahan Yang Maha Kuasa itu sendiri yang bersifat Super Manusia; sedangkan ada pendapat  lain yang mengatakan bahwasanya dunia ini sifatnya sama saja dengan mimpi atau ilusi.”

Keterangan:  Sekarang kita akan mulai menyimak berbagai argumentasi yang paling diajukan di forum Sri Gaudapada ini, oleh sebagian resi guru yang teramat agung dan piawai dari sekte-sekte yang berbeda aliran dan pendapatnya mengenai Hakikat Yang Maha Esa.
Secara pribadi, konon dikatakan bahwasanya Sri Gaudapadiya tidak mengakui keberadaan ciptaan-ciptaan ini. Menurut beliau, Realitas Yang Maha Suci ini tidak diciptakan dan dunia inipun tidak pernah diciptakan olehNya. Semua yang kita lihat dan pahami  ini adalah proyeksi kita sendiri. Teori non-penciptaan ini disebut Ajatawada. Konon dikatakan teori ini sinkron dengan filosofi permulaan ajaran Vedanta dan Yoga Vashista. Namun Ajaran Vedanta berkembang terus dari zaman ke zaman, dan dibawah Sri Shankara Acharya, ajaran Vedanta memasuki dimensi yang baru. Beliau mengakui adanya Realitas  relatif yang terbungkus dengan berbagai obyek-obyek duniawi dan makhluk yang kita lihat dan rasakan sehari-hari. Sedangkan para resi lainnya berpendapat pada hakikatnya kedua teori ini sama saja isinya, dan kalau digabungkan malahan akan menambah khazanah dan wawasan kita semua.
Ada ahli yang berpendapat bahwasanya dunia ini sebagai sebuah mimpi yang panjang, seperti yang akan diterangkan oleh Sri Gaudapadiya selanjutnya di karya ini juga. Sedangkan ada ahli non-penciptaan yang percaya bahwa hidup ini adalah sebuah mimpi panjang, namun mimpi ini bukan ilusi tetapi betul-betul  eksis (sebenar-benarnya ada) dan berjalan terus secara abadi. Mimpi itu benar-benar ada dan yang bermimpi juga ada.

8.         “Para ahli yang percaya akan penciptaan ini berpendapat bahwa manifestasi ini terwujud karena Kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa, sedangkan yang lainnya berpendapat, bahwa Waktu adalah suatu perihal yang benar, dan menyatakan bahwa Sang Waktu adalah penyebab semua manifestasi penciptaan-penciptaan ini.”
9.         “Yang lainnya berpikir bahwasanya dunia ini diciptakan demi kenikmatan Yang Maha Esa, kemudian yang lainnya lagi berpendapat bahwa dunia ini hanya sebuah benda permainan dari Tuhan Yang Maha Esa. Namun bagi Sang Atman Yang Bercahaya Gilang-Gemilang, Beliau ini tidak berhasrat apapun juga, karena (sebenarnya) apakah yang tidak mungkin didapatkanNya?
Keterangan: Demikianlah Sri Gaudapadiya telah mengemukakan berbagai teori akan Hakikat Yang Maha Esa dari segala arah, namun diakhir sloka ini beliau menegaskan bahwa sebenarnya Tuhan itu tidak membutuhkan apapun juga,  semua ini hanya teori-teori manusia saja. Dengan ini Karika dari Sri Gaudapadiya diakhiri untuk sementara, dan kita kembali ke Mandukya Upanishad, ke sloka 7, dimana kita akan mendapatkan penjelasan akan  tahap kesadaran alam Thuriya. 
            Kembali ke : 
MANDUKYA UPANISHAD 
Sloka - 7      “Tahap (alam) ini bukanlah sesuatu yang sadar akan bagian dalam dunia yang bersifat subyektif, bukan juga sesuatu yang sadar akan dunia luar, juga bukan sesuatu yang sadar akan kedua-duanya ini, juga bukan kesatuan kesadaran, juga bukan bentuk kesadaran yang sederhana, juga bukan tidak memiliki kesadaran.  Tahap ini tidak terlihat oleh indriyas yang manapun juga, tidak terhubungkan dengan apapun juga, tidak bisa diterangkan oleh pikiran, tidak bisa ditembus, tidak terpikirkan, tidak bisa dijabarkan, semata-mata adalah Sang Jati Diri itu sendiri, jauh dari semua bentuk fenomena, bersifat shanti (damai) dan non-dual. Alam ini disebut sebagai tahap keempat Thuriya. Ini adalah Sang Atman dan (Tujuan) yang harus dicapai dan disadari.”

Keterangan: Ada yang tersirat di sloka ini, yaitu Sang Atman itu jauh dari segala-galanya. 
Kembali ke Karika:

10.     “Di dalam sesuatu yang dikatakan Tidak Berubah-ubah ini, yaitu Yang Maha Kuasa, terdapat akhir keseluruhan dari segala bentuk penderitaan; Sesuatu yang disebut Thuriya, Yang Maha Bercahaya Gilang-Gemilang secara Abadi dan Maha Hadir.”
11.     “Viswa dan Taijasa, kedua-duanya ada dibawah pengaruh “sebab dan akibat”. Namun Prajnya hanya ada dibawah pengaruh “sebab”.  Kedua faktor “sebab dan akibat” ini tidak hadir di tahap Thuriya.”
Keterangan: “Sebab dan Akibat” adalah elemen-elemen hukum karma. Secara spiritual “sebab” juga merupakan manifestasi dari kebodohan atau kekurang-pengetahuan  (Avidya) dari sifat asli kita sendiri.
 12.     “Prajnya tidak memahami apapun juga yang berasal dari kebenaran atau non-kebenaran, tidak juga Prajnya faham akan apapun yang berhubungan dengan Sang Jati Diri ataupun non-jati diri; Prajnya tidak memahami apapun juga. Namun Thuriya ini abadi dan senantiasa adalah Yang Maha Tahu (dan) Yang Maha Menyaksikan.”  
13.     “Faktor ketidak-pahaman akan dualitas bersifat sama rata baik di tahap tidur maupun di tahap Thuriya, namun, insan yang tidur, terkondisi di dalam tidurnya, berada didalam bentuk “penyebab”, (dan) faktor ini . . . yaitu tidur dan penyebab (Avidya, kebodohan) tidak hadir di dalam Thuriya.”

Keterangan : Secara sederhana sloka-mantra  ini menyatakan bahwa  alam tidur masih  berada di bawah faktor-faktor duniawi yang diliputi oleh Avidya, yaitu kebodohan atau kekurang pengetahuan. Dan Faktor ini tidak eksis di alam Thuriya, karena alam ini adalah alamnya Sang Pencipta itu Sendiri, Yang Maha Mengetahui.

14.     “Viswa dan Taijasa, kedua-duanya ini berhubungan dengan berbagai keadaan mimpi dan tidur; Prajnya adalah tahap tidur tanpa mimpi. Mereka-mereka yang memahami Kebenaran tidak merasakan tidur maupun mimpi di tahap Thuriya.”

15.     “Mimpi adalah sebuah tahap dimana Realitas tidak bisa dipahami secara tepat (pemahaman yang menyimpang), sedangkan tidur adalah tahap dimana Realitas tidak dapat dipahami karena kebodohan (Avidya).  Sewaktu pengetahuan yang salah dikedua tahap ini menghilang, (maka) tercapailah tahap Thuriya.

Keterangan: Secara psikologis dan filosofis, pernyataan diatas adalah fantastis sifatnya. Renungkanlah dengan baik: Seandainya Avidya dapat ditumpas maka efeknyapun tidak akan hadir di dalam kehidupan kita pribadi, dan itu berarti insan ini terangkat ke alam Thuriya, alam Yang Maha Esa itu sendiri.


16.     “Sewaktu  sang jiwa yang bersifat individual (tertidur dibawah pengaruh Sang Maya yang tidak bermula) ini, terjaga dari tidurnya, maka sang jiwa ini manyadari akan faktor Non-dualitas yang hadir di dalam dirinya, yang bersifat tanpa mula dan tanpa mimpi.”

Keterangan: Dari saat kita dilahirkan sampai saat ini, kita hidup dalam keadaan “tertidur”, yaitu alam-sadar yang terbungkus oleh Sang Maya (materi duniawi). Tahap ini disebut tahap ketidak-pahaman akan Realitas.  Sewaktu seseorang melalui upaya shadananya berhasil “bangun” dari tidurnya (tidur duniawi) ini, maka ia akan sadar bahwa sebenarnya Sang Realitas (Kebenaran Hakiki) ini bersifat non-dual (diluar faktor dan fenomena negatif-positif), tanpa mula dan tanpa mimpi.
Para resi di berbagai upanishad dan Sruthis selalu bersabda tanpa henti-hentinya “bangun dan bangkitlah”. Demikian juga seluruh ajaran Sanathana Dharma senantiasa menyiratkan demikian, “Wahai manusia, janganlah lelap dan terbius oleh ayunan tidur Sang Maya ini”.  Melalui meditasi dan renungan yang berkesinambungan, seseorang akan mencapai tahap Thuriya ini, dimana Sang Maya tidak hadir.”

17.     “Seandainya  pruralitas yang selama ini kita pahami betul-betul bersifat realitas, maka keadaan tersebut akan menghilang suatu saat. Dualitas ini dipahami sebagai ilusi dari Sang Maya semata-mata. Yang Maha Kuasa (Realitas) adalah satu-satunya yang bersifat Non-Dualitas.”

Keterangan: Yang dimaksudkan sebagai pruralitas adalah alam-semesta dan seluruh isinya, seluruh ciptaan ini, dan yang dimaksud dengan dwidasas adalah dua unsur yang saling bertentangan dalam harmoni yaitu positip-negatip, baik-buruk, panas-dingin dsb. Di sloka ini dikatakan seandainya alam-semesta dan segala isinya itu benar-benar eksis maka suatu saat nanti akan tidak eksis dan begitupun sebaiknya. Itu  hukum alam! Dwandas adalah produk Sang Maya, dan Yang Maha Kuasa  (Realitas) berada jauh dari fenomena ini. Beliau adalah  Satu-satunya yang keberadaanNya disebut Non-dual semata-mata (advaitan paramathatah).

18.     “Seandainya ada yang berkhayal atau berpikir akan adanya berbagai unsur di alam-semesta ini, maka semua itu akan menghilang. Keterangan ini diberikan untuk tujuan mengajar para sishya.  Dualitas yang baru saja diperbincangkan ini juga akan sirna sewaktu Kebenaran Tertinggi tercapai.”

Keterangan: Stanza kedelapan belas ini sementara mengakhiri ulasan Sri Gaudapada, dan kita kembali lagi ke Mandukya Upanishad sloka ke 8. Para pembaca yang budiman, sudilah maklum akan gaya penulisan buku ini, yang aslinya memang ditulis dari Mandukya ke Karika dan sebaliknya ini.


Sloka - 8      “Dari pemahaman alfabet, Atman yang sama ini adalah Aum.  Aum dengan Pada-pada  (bagian-bagian)Nya akan kita pelajari dari segi suara atau Aksara. Pada-pada disini adalah aksara (suara) dan aksara-aksara ini adalah Pada-pada. Aksara ini adalah A, U, dan M”.

Keterangan: Kalau sebelumnya sampai sloka 7 Mandukya Upanishad ini menerangkan mengenai bagian (Pada) dari Sang Atman, maka ternyata sekarang ini akan diterangkan melalui pemahaman aksara dan suara. Dalam bahasa Sansekerta ketiga Pada ini  disebut sebagai tiga Matras.  Satu Pada adalah ¼ bagian dari keseluruhan Atman.

Sloka - 9      “Seorang yang bersifat Vaiswanara yang tahap-tahap aktifitasnya berpola tahap kesadaran adalah A, aksara pertama dalam komposisi AUM, dan aksara ini adalah yang selalu utama dalam (suara dan pembicaraan) atau selalu di depan (yang pertama). Faktor-faktor ini adalah biasa di kedua keadaan ini. Barangsiapa menyadari hal ini akan mencapai berbagai hasrat-hasratnya dan menjadi utama (pertama diantara semuanya (yang lain-lainnya).”

Keterangan: Sekarang ajaran Mandukya menekankan atau menambahkan sebuah makna baru yang bersifat duniawi sekali. AUM dijelaskan secara duniawi, baru A saja sudah bermakna utama atau prima, apalagi ditambah U dan M yang secara psikologis saja sudah pasti akan memberikan dampak sugesti yang bersifat suci dan spiritual.  Sama dengan sugesti yang kita ciptakan sewaktu memuja kepada arca ini dan arca itu, benda-benda keramat dan lain sebagainya. Sugesti dapat menghadirkan kesucian, ketakutan, kecemasan bahkan kebahagiaan dan kesembuhan.
Demikian juga seandainya A-U-M  ini dijadikan fokus meditasi kita, dan disimbolkan sebagai manifestasi Hyang Maha Esa, atau Bhur-Bwah-Swah ataupun Tri Murti (Brahma-Vishnu-Shiva), maka dampaknya akan muncul. Dan lagi tidak menghadirkannya, apapun tidak akan muncul dihadapannya. Para resi konon mengatakan A adalah bagian dari AUM yang diutarakan oleh seorang jabang bayi yang baru lahir. Ada yang mengatakan teriakan jabang bayi yang pertama adalah  bernada uah, uah. Ada yang mengatakan oeh, oeh dan sebagainya, tetapi  para resi yakin suara pertama jabang bayi apapun kebangsaannya adalah Aum, Aum dan Aum, dan A adalah yang dominan di aksara ini.

Sloka - 10  “Seseorang yang tergolong Taijasa, yang tahap aktivitasnya adalah tahap mimpi, adalah U, aksara kedua dalam komposisi AUM (OM), yang menandakan superioritas atau juga bersifat “ditengah-tengah keduanya”.  Barangsiapa yang paham akan hal ini akan mencapai ilmu pengetahuan  yang dahsyat (superior) dan akan diperlakukan secara sama rata oleh semuanya dan insan ini akan memiliki turunan yang dari waktu ke waktu akan paham (akan) Sang Brahman.”

Sloka - 11  “Prajnya, yang tahap aktivitasnya adalah tahap tidur lelap, adalah M, aksara ketiga dari AUM, akara ini adalah ‘timbangan’  dan juga “sesuatu dimana semuanya menjadi kesatuan (satu)”.  Seseorang yang memahami identitas “Prajnya” dan M ini akan mampu menyadari sifat sejati dari berbagai benda dan manusia di dunia ini, dan memahami (menerangkan) semuanya di dalam dirinya.”

Kembali ke Karika:
19.     “Sewaktu identitas Viswa dan suara A dijelaskan (maka) perihal yang sama diantara kedua-duanya adalah “pertama” pada posisinya masing-masing; faktanya: kedua-duanya memang serba utama.”

20.     ”Jelas sekali terlihat bahwa Taijasa bersifat sama dengan U diantara AUM, persamaan kedua-duanya adalah sifat “superioritas”, alasan selanjutnya adalah ciri khas mereka adalah posisinya yang berada ditengah-tengah.”

21.     “Identitas Prajnya dan M mempunyai persamaan yang nyata, kedua-duanya bersifat “timbangan”. Alasan yang lainnya, demi menunjang identitas itu adalah karena “semuanya menjadi satu” di Prajnya dan di M.”

22.     “Seseorang yang paham tanpa ragu-ragu kaidah-kaidah sama yang hadir didalam ketiga tahap (alam) ini, akan dipuja dan dikagumi oleh semua makhluk; dan sebenar-benarnya insan ini adalah seorang resi yang mulia (teragung).”

23.     Suara aksara A membantu yang bermeditasi mencapai tahap Viswa yang terbentuk dengan baik. Sedangkan yang bermeditasi ke U, akan mencapai Teja (Tejasa, kekuatan pikiran dan budhi) yang telah terbentuk dengan baik, dan yang bermeditasi ke m akan mencapai Prajnya. Di tahap yang “tidak bersuara (beraksara)” tidak ada pencapaian (tidak ada yang harus dicapai).”

Keterangan: Ternyata menurut para resi guru yang handal, memang kalau meditasi difokuskan ke salah satu aksara atau suara AUM maka akan timbul semacam karunia spiritual yang tinggi seperti disaratkan oleh sloka-mantra Mandukya Upanishad berikutnya.

Kembali ke Mandukya:
Sloka - 12  “Sesuatu Itu yang tidak memiliki bagian-bagian (Pada), tidak bersuara, yang tidak dapat dijabarkan, jauh berada di atas seluruh indriyas, akhir dari seluruh bentuk-bentuk fenomena, senantiasa berada dalam kebahagiaan (Ilahi) dan adalah AUM yang non-dual; adalah (alam) tahap yang keempat dan sebenarnya sama dengan Sang Atman. Seseorang yang memahami perihal ini akan meleburkan dirinya ke dalam Jati Diri Yang Maha Agung . . . Sang individu ini terlebur ke dalam Keseluruhan.”

Keterangan: Secara  mikrokosmis (buana alit), alam keempat ini bisa hadir tanpa disengaja oleh sadhaka yang sedang bermeditasi secara serius. Menurut para resi guru, sewaktu seseorang didalam meditasinya  yang khusyuk mengucapkan mantra AUM berulang-ulang, maka spasi kosong diantara satu AUM ke AUM yang lainnya bisa juga diartikan sama dengan tahap keempat yang dituju oleh para sadhaka, dan kalau si sadhaka beruntung terhubungkan  secara langsung ke Sang Atman dalam kekosongan ini, maka jatuhlah berkahNya. Spasi ini eksis di dalam keheningan dan disebut spasi Thuriya.  Sebenarnya mantra AUM adalah mantra meditasi tertinggi , lihat Bhagavat Gita, khususnya bab VI yang membahas meditasi spiritual ajaran langsung dari Sri Kreshna  kepada umat manusia. Japa Gayatri adalah japa-mantra yang tertinggi, namun untuk meditasi AUM adalah yang tertinggi. Namun semua ini harus dilakukan tanpa pamrih dan pengharapan sama sekali.
Dengan ini berakhirlah seluruh sloka-mantra Bab I mengenai Mandukya Upanishad. Dan selanjutnya kita kembali  akan mempelajari uraian Sri Gaudapadiya dalam bentuk Karikanya. Kita kembali lagi ke Karika.

Kembali ke Karika:
24.  “Mantra AUM (Omkara) ini harus dipahami secara Pada dari Pada, tidak perlu diragukan bahwa pada-pada ini sama dengan suara (morae).  Setelah menggapai seluruh makna Omkara ini, maka tidak perlu lagi memikirkan hal-hal yang lainnya.”
Keterangan: Sloka ini menerangkan Sri Gaudapada yang sedang menjabarkan teknik-teknik meditasi yang harus difokuskan ke Omkara. Teknik-teknik ini mencakup naik-turun nada AUM dari nada tinggi ke nada rendah, namun teknik ini sebenarnya membutuhkan tuntunan seorang guru yang handal.

25.  “Bersihkan (mandikan) pikiran dengan raungan AUM; Kenalilah sang pikiran melalui suara AUM; AUM adalah Brahman Yang Maha Gagah Berani (Perkasa). Barangsiapa yang senantiasa terjalin dengan AUM, tidak akan pernah  kenal dengan rasa takut dalam bentuk apapun juga.”

26.  ”Om adalah sebenarnya Brahman (bagian bawah) dan Beliau dinyatakan juga sebagai Brahman Yang Maha Kuasa. Pranawa (AUM) ini bersifat  tanpa asal, tanpa manifestasi berikutnya, tanpa sesuatu apapun diluarnya, dan tidak berubah-ubah.”

27.  “AUM adalah sebenar-benarnya permulaan (Adi), bagian tengah (Madhyana) dan akhir (Anta) semuanya. Memahami AUM seperti ini, maka seseorang pasti segera akan mencapai Realitas  Yang Maha Kuasa itu.”

28.  “Pahami AUM sebagai Iswara (Penguasa), Tuhan, Yang senantiasa hadir di alam pikiran semuanya; Seseorang yang bijak yang telah memahami AUM sebagai Yang Maha Hadir, tidak akan pernah khawatir (akan sesuatu hal apapun juga).”

29.  Seseorang yang memahami AUM, yang tanpa suara dan (juga bersuara ini) dan senantiasa damai karena jauh dari pengaruh sifat-sifat dualitas, maka orang tersebut adalah seorang suci yang benar, bukan yang lain-lainnya.”
  
Dengan ini Sri Gaudapadiya mengakhiri Karikanya, yang mengulas Bab Pertama Mandukya Upanishad ini.













BAB II 
VAITHATHYA PRAKARANA
(Non-realitas yang berasal dari dunia yang bersifat obyektif)

Sloka - 1      “Kaum bijak menyatakan bahwasanya semua obyek mimpi bersifat ilusi, semua obyek ini berlokasi di dalam badan dan juga karena kehadiran obyek-obyek ini terbatas di dalam spasi yang amat ketat.”

Keterangan: Sri Gaudapadiya ingin menjelaskan bahwa menurut pendapat para resi yang bijak, maka raga manusia ini merupakan sebuah wadah yang menyimpan alam mimpi secara sangat padat, ketat dan terbatas spasinya. Oleh karena itu beliau berteori bahwa alam mimpi itu bukan hal yang bersifat realitas.

Sloka - 2      “Sehubungan dengan singkatnya waktu (mimpi) maka tidak mungkin yang bermimpi itu mengunjungi dan melihat-lihat obyek-obyek mimpinya. Juga sewaktu ia sadar dari tidurnya, ia tidak berada di ruang di mana ia menyaksikan adegan-adegan mimpinya ini.”

Keterangan: Seseorang yang bermimpi, sebenarnya  dibatasi sekali oleh durasi waktu mimpi itu sendiri, karena singkatnya waktu mimpi itu sendiri, yang kadangkala bisa terasa panjang sekali, bahkan terputus-putus.  Lokasi didalam mimpinya  bisa saja ribuan kilometer jauhnya, bahkan ke loka-loka lainnya, namun begitu sadar dari tidurnya ia segera saja menyadari bahwasanya ia tidak pernah bergerak jauh dari tempat tidurnya.  Sebab itu Sri Gaudapada berteori (menyatakan) bahwa fenomena mimpi ini bukan suatu hal yang bersifat realitas, karena dibatasi oleh waktu dan ruang (spasi).

Sloka - 3      “Berdasarkan alasan-alasan logika yang penuh disiplin (ketat), Sruthi yang menyatakan bahwa kereta-kereta kuda tersebut tidak eksis, (namun) diterima dan diilusikan oleh yang bermimpi. Oleh karena itu para resi mengatakan bahwa Sruthi sendiri juga menyatakan bahwa pengalaman-pengalaman mimpi itu sebenarnya adalah bersifat ilusi, demikian juga Sruthi menyabdakannya melalui logika dan alasan-alasan (yang dapat diterima oleh akal).”

Keterangan: Sekali lagi kami ingatkan, yang disebut Sruthi adalah jajaran Shastra –Widhi suci dari Veda ke Bhagavat-Gita. Salah satu dari naskah suci ini adalah Brihadaranyaka Upanishad yang dalam salah satu penjelasannya mengenai ilusi dan mimpi menyatakan seandainya seseorang  bermimpi mengendarai kereta kuda padahal memiliki saja tidak, maka sewaktu ia terjaga dari  mimpinya ia merasa kehilangan kereta dan kuda-kudanya, namun kenyataannya tidak ada yang hilang karena memang di alam-sadar orang tersebut memang tidak memiliki kereta tersebut., jadi kereta dan kuda-kudanya hanya ilusi belaka, kata Sri Gaudapada.
Sri Shankara Acharya, dalam karyanya yang disebut Brahma Gyanavali menyatakan bahwa semua benda di dunia ini dapat dibagi didalam dua golongan, yaitu ilusi benda-benda duniawi, dan dunia ilusi yang diilusikan oleh kita semua ini.  Vedanta berpendapat bahwa insan yang berilusi sebenarnya adalah bentuk Kebenaran, sedangkan yang diilusikan  berbentuk tambahan-tambahan (superimposisi). Jadi dengan kata lain seluruh dunia dan kita semua  adalah hasil ilusi belaka!

Sloka - 4      “Berbagai obyek-obyek yang muncul didalam mimpi bersifat ilusif karena obyek-obyek ini dipancarkan untuk hadir (eksis). Dengan alasan yang sama, berbagai obyek yang dilihat di alam sadar ini sama saja sifatnya, seyogyanya dianggap ilusi juga.  Perbedaan satu-satunya adalah, terbatasnya spasi di alam mimpi karena semua obyek mimpi terlihat di dalam diri sendiri.”

Keterangan: Sri Shankara Acharya dalam hal ini berkomentar sama: “Baik dalam mimpi maupun dalam kesadaran, ada suatu persamaan yang utama yaitu: obyek-obyek ini terlihat!

Sloka - 5      “Orang-orang yang berpikiran luas berbicara tentang persamaan alam-sadar dan alam mimpi berdasarkan adanya kesamaan dalam obyek-obyek ini yang diterima dikedua tahap ini, dan berdasarkan alasan-alasan yang telah diuraikan di sloka-sloka di atas.”

Keterangan: Sekali lagi, menurut teori di Vedanta, dunia dan obyeknya ini adalah superimposisi yang ditambahkan kepada Sang Atman, oleh karena itu berbagai obyek ini tidak eksis secara sendiri-sendiri (independen) dari substratum (sumber atau Atman). Jadi berbagai obyek-obyek duniawi yang terrealisasi ini adalah permainan sang pikiran belaka. Hanya Atman itu sendiri yang bersifat abadi, dan merupakan Realitas Yang Maha  Hadir.”

Sloka - 6      “Sesuatu yang bersifat non-eksis pada permulaannya dan pada akhirnya juga bersifat non-eksis bahkan pada saat ini juga. Berbagai obyek ini ibaratnya berbagai ilusi yang kita lihat, namun obyek-obyek ini dianggap sebagai hal yang nyata.”

Keterangan: Sri Gaudapada menyatakan disini, bahwasanya benda/obyek apa saja yang tidak pernah eksis sebelumnya, tidak akan eksis pada saat ini, maupun pada saat/masa-masa yang akan datang.

Sloka - 7      “Obyek-obyek di alam sadar dapat membantu kebutuhan-kebutuhan kita, hal ini bersifat kontradiktif dengan alam-mimpi. Oleh karena itu tanpa ragu-ragu dikatakan bahwa semua obyek-obyek ini bersifat ilusif . . .  baik di alam sadar maupun di alam  mimpi . . . Karena memiliki permulaan dan akhir.”

Keterangan: Ternyata ada oposisi/bantahan yang ditujukan kepada teori Sri Gaudapadiya  dan teori Sri Shankara Acharya. Oposan ini menambahkan bahwa di alam sadar kita bisa membuat masakan yang enak, dan masakan tersebut betul-betul eksis,  tetapi di alam mimpi itu tidak nyata. Namun ada persamaannya, karena ada permulaan dan ada akhir untuk setiap benda dan kehidupan ini, secara tersirat ini disebut ilusi, baik alam sadar maupun alam mimpi.

Sloka - 8      “Berbagai obyek yang didapatkan oleh seseorang yang bermimpi bersifat tidak selaras dengan alam sadar, obyek-obyek ini sudah pasti mampu hadir sesuai dengan jalan pikiran orang yang bermimpi itu, dan jalan pikiran ini ibarat jalan pikiran mereka-mereka yang tinggal di swarga-loka. Sang pemimpi ini yang menggabungkan dirinya dengan dunia mimpinya, mengalami berbagai pengalaman seakan-akan ia diperintahkan agar pergi (berkelana) dari satu lokasi ke lokasi lainnya dan menyaksikan berbagai obyek-obyek yang hadir di tempat tersebut.”

Keterangan: Sloka ini memuat pendapat yang bertentangan dengan ilustrasi yang terdapat di Vedanta. Vedanta menyatakan bahwa alam-sadar bersifat sama dengan alam mimpi, yaitu sama-sama  tidak realistis. Namun yang berpendapat lain menyatakan alam-mimpi  itu tidak realistis, dan tetapi alam sadar tidak bisa diperbandingkan secara keseluruhan dengan alam mimpi, karena di alam mimpi kita sering mengalami berbagai pengalaman yang aneh, bahkan ramalan atau kejadian di masa depan diproyeksikan lebih awal di dalam suatu mimpi, juga berbagai firasat dan peringatan  dapat hadir lebih awal di dalam mimpi, disamping fenomena-fenomena aneh seperti melayang, alam gaib dan lain sebagainya yang tidak lazim terjadi di alam sadar. Jadi kesimpulannya alam mimpi itu tidak bersifat realistis dan berbagai obyek di dalamnya juga tidak bersifat realistis. Sebaiknya alam sadar ini memiliki ritme dan sebuah bentuk keharmonisan, dan selalu bergerak sesuai dengan sifat-sifat alaminya; disimpulkan bahwa alam sadar tidak bisa begitu saja diperbandingkan dengan alam mimpi.

Sloka - 9   -10 “Di alam mimpi apapun yang diimajinasikan oleh sang pemimpi di dalam pikirannya bersifat ilusif dan apapun yang dikenali olehnya di luar mimpi terkesan seakan-akan bersifat realistis. Namun sesungguhnya kedua faktor ini tidak benar . . . kedua-duanya ini adalah mimpi, Demikian juga di alam sadar, apapun yang diimajinasikan sang pikiran dianggap ilusif dan yang dialami di luar pikiran terkesan seperti benar, padahal kedua faktor ini harus dianggap tidak realistis melalui jalan pikiran yang rasionil.”

Keterangan: Dengan dua seloka ini, Sri Gaudapadiya menyatakan pendapatnya melalui dua aspek kehidupan ini, yaitu obyek-obyek dan dunia-pikiran. Di alam mimpipun kedua faktor ini hadir.  Di alam mimpi, orang yang bermimpi dan menerima dunia obyek dari mimpi-mimpinya seakan-akan bersifat realistis, namun secara logika dan jalan pikiran yang logis seharusnya berbagai imajinasi pikiran itu dianggap sebagai ilusif (asat).

Sloka - 11  “Seandainya berbagai obyek yang dikenali di kedua alam ini bersifat ilusif, lalu siapakah (apakah) yang mengenali semua obyek yang bersifat ilusif ini dan siapa (apa) lagi yang mengimajinasikan semua ini?”

Keterangan: Lagi-lagi ada oposan yang bertolak belakang pendapat dengan kaum Vedantin (Pengikut Vedanta).

Sloka - 12  “Keputusan Vedantik adalah seperti berikut ini: “Sang Atman, yang bercahaya dari Dirinya Sendiri, melalui kekuatan-kekuatan yang timbul dari delusi (maya)Nya sendiri, berimajinasi da dalam Dirinya , oleh Dirinya, akan seluruh obyek-obyek ini, dan berbagai pengalaman di berbagai alam, baik alam yang di dalam maupun yang diluar dinikmati oleh si individualNya Sendiri. Hanya beliau semata-mata yang paham akan obyek-obyek yang telah diciptakanNya.”

Keterangan: Pada sloka 10 dan 11 ini, Sri Gaudapada menjawab tuntas para oposan ini. Namun tidak begitu mudah untuk memahami makna jawaban ini sesungguhnya. Sang Atman harus dipahami dulu HakikatNya, dan hal ini bukanlah suatu proses yang mudah bagi seorang sadhaka.

Sloka - 13  “Tuhan Yang Maha Esa, Sang Atman, dengan pikiranNya yang tertuju keluar, berimajinasi akan berbagai obyek yang hadir di alam dalam dan di alam luar yang hadir di dalam jalan PikiranNya sebagai Vasanas atau Samsakaras atau berbagai bentuk nafsu. Kemudian Sang Atman sekali lagi menunjukkan pikirannya ke dalam dan memikirkan (mengimajinasikan) berbagai ide/ pengalanan dan obyek.”

Keterangan: Atman di atas, adalah personifikasi dari kesadaran setiap individu yang hadir dalam setiap jiwa.

Sloka - 14  “Kedua faktor ini adalah imajinasi semata-mata.  Semua yang dikenali (dipahami) di dalam (hadir) selama dikenali, oleh masa berlakunya pikiran tersebut; demikian juga dengan berbagai hal yang dirasakan yang menghubungkan kedua titik waktu ini.  Tidak ada alasan lain untuk membedakan yang satu dengan yang lainnya.”

Keterangan: Sloka  di atas adalah suatu pendapat yang beroposisi terhadap teori Vedantin. Menurut pendapat di atas, maka dunia (alam)  dalam pikiran itu hanya dikuasai oleh satu masa (waktu) saja, dan alam luar berbagai obyek terkungkung oleh dua titik sang waktu.
Menurut mereka (kaum oposan ini), alam sadar itu sifatnya lebih realistis karena bersandarkan  dua masa sang waktu, sedangkan alam mimpi hanya hadir di dalam pikiran saja (satu titik sang waktu) dan hanya selama masa pikiran itu berlangsung. Di luar itu, tidak eksis lagi.

Sloka - 15  “Berbagai imajinasi yang bersifat subyektif yang hanya hadir di dalam sang pikiran, yang dipahami sebagai yang tak termanifestasi, juga berbagai hal lainnya yang hadir di dunia luar dalam bentuk termanifestasi obyek-obyek; kedua-duanya ini adalah imajinasi belaka, yang berbeda diantara keduanya adalah organ-organ sensual (indriyas), yang melalui indriyas inilah dunia luar seakan-akan terpahami.”

Keterangan: Sri Gaudapada menerangkan di sloka ini seluruh jawaban untuk suara oposan yang berpendapat bahwa ada perbedaan diantara dunia (alam) pikiran di dalam dan di dunia (alam) obyek di luar. Dunia pikiran bersifat “tidak termanifestasi” sedangkan “dunia luar” yaitu obyek-obyek di dalam kehidupan ini bersifat “manifestasi”, jadi menurut mereka di luar ini lebih berbobot daripada dunia pikiran.
Sri Gaudapada menjawab, dengan menyatakan disini bahwasanya kedua faktor tersebut di atas adalah imajinasi belaka, karena dibawah pengaruh berbagai indriyas sendiri. Semua fenomena dan faktor-faktor ini bisa (dapat) bermanifestasi atau sebaliknya sesuai dengan permainan/pengaruh dari berbagai indriyas ini.
Menurut beliau, pertama-tama imajinasi individu-individu yang berbeda-beda yang dikenal dengan nama Jivatma Bhavana (ide-ide ego sentris). Setiap egosentris yang berhubungan dengan setiap AtmanNya ini lahir dengan konsep yang berbeda-beda. Sewaktu sang pikiran menanjak naik ke alam kesadaran yang tinggi maka naik juga elemen-elemen egosentris yang terkesan realistis ini dan lalu beradaptasi dengan menyelaraskan sifat-sifat, berbagai karakter, pelaksanaan sehari-hari sesuai dengan media yang terproyeksikan yaitu kondisi pikiran (mental-condition).
Begitu proyeksi egosentris ini bersentuhan dengan Sang Atman, delusi ini menciptakan berbagai jenis delusi-delusi lainnya yang mengentalkan elemen-elemen kebatilan (yang bersifat asurik, iblis) dan menjauhkan kita semua dari Hakekat Yang Maha Benar, dan makin lama egosentris ini makin menjerumus ke dalam dunia mimpinya sendiri yang berbentuk nama, rupa yang saling menunjang sesamanya (dengan kuat).

Sloka - 16  “Pertama-tama, sifat-sifat egosentris (Jiva-Bhavana) diproyeksikan dan kemudian menyusul setelah itu berbagai imajinasi dari berbagai elemen, baik yang berciri obyektif dan subyektif. Begitu sifat ilmu-pengetahuannya, demikian juga sifat memorinya.”

Keterangan: Timbul pertanyaan kini, seandainya semua yang bersifat obyektif dan subyektif adalah imajinasi belaka, maka seperti apakah bentuk dari sumber dari segala imajinasi ini?
Pada saat ini yang berbantah pendapat dengan teori Vedantin mulai menyadari akan sesuatu hakikat yang sifatnya lebih tinggi dari kedua faktor tersebut di atas.  Hakikat yang lebih tinggi ini tidak mungkin pikiran adanya, karena pikiran itu sifat dan bentuknya masih materi; bukan juga Sang Atman karena Beliau adalah Pengetahuan, dan tidak mungkin di dalam Pengetahuan itu hadir delusi (Begitu sifat ilmu-pengetahuannya, demikian juga sifat memorinya). Seandainya pengetahuan tidak ada, maka tidak akan eksis juga memori. Memori kita semua eksis berdasarkan fondasi ilmu-pengetahuan (dalam hal ini berdasarkan fondasi (tingkat) atau kualitas ilmu-pengetahuan kita masing-masing).

Sloka - 17  “Ibarat seutas tali  dalam kegelapan, dianggap sebagai seekor ular, demikian juga Sang Atman (senantiasa diibaratkan) dalam berbagai bentuk.”

Keterangan: Perumpamaan di atas sangat populer di Sanathana Dharma dan sering dipergunakan dalam berbagai ajaran spiritual.

Sloka - 18  “Sewaktu sifat asli tali ini terungkap, maka berbagai ilusi mengenai tali inipun menghilang dan kemudian sadarlah kita bahwa sebenarnya itu hanyalah seutas tali yang  tidak pernah berganti-ganti bentuk; dekikian juga sifat dari Sang Atman, yaitu Ilmu Pengetahuan Yang Maha Murni.”

Keterangan: Di dalam kegelapan atau situasi yang remang-remang sering kita merasa (berilusi) bahwa benda panjang dihadapan kita adalah seekor ular, namun sewaktu terang baru kita sadar bahwa yang kita lihat itu adalah seutas tali atau benda panjang lainnya.

Sloka - 19  “Sang Atman diimajinasikan dalam berbagai variasi yang tak terhitung, seperti prana dan lain sebagainya. Hal ini terjadi karena kekurang-pengetahuan yang diakibatkan oleh Sang Maya yang berasal dari Sang Atman Yang Bercahaya dari Dirinya Sendiri, melalui Sang Maya ini Sang Atman menyesatkan dirinya.”

Keterangan: Dari sloka ini  kita mendapatkan sebuah teori tambahan dari kaum Vedantin bahwasanya Sang Atmanlah penyebab dari semua kebodohan dan kegelapan kita. Berbagai ajaran Upanishad sebenarnya menuntun kita ke tahap: Hakikat Yang Maha Esa, demikian juga dengan Upanishad yang satu ini. Di sloka-sloka berikutnya hadir 35 pandangan akan penciptaan ini yang diberikan melalui sudut pemikiran yang berbeda-beda. Di zamannya Sri Gaudapada itu sendiri, semua pandangan ini dianggap asing dan tidak bersifat filosofis.
Sri Gaudapada dengan sangat bijaksana menuliskan semua pandangan ini di dalam uraian Karika ini demi kita semua tanpa memilah-milahnya. Beliau betul-betul adalah seorang resi yang mulia, dan tanpa Karika ini  mungkin kita telah kehilangan suatu kesempatan  besar. Semoga  amal perbuatan beliau ini mendapatkan Karunia Yang Maha Esa secara setimpal. Om Tat Sat.
Sedemikian demokratisnya beliau ini sehingga beliau menerima pendapat apa saja, walaupun sifatnya tidak rasional demi  ilmu-pengetahuan yang dikembalikan ke kita semua.  Karena hal sama selalu terulang dari waktu ke waktu.

Sloka - 20   “Mereka-mereka yang mengenal (memahami) Prana tersebut Sang Atman sebagai Prana, yang mengenal Bhutas menyebutNya sebagai Bhutas; mereka-mereka yang mengenal Gunas (sifat-sifat) alami menyebut Sang Atman sebagai Gunas; dan mereka yang mengenal Thatwas, menyebutnya sebagai Thatwas (3 unsur Realitas yaitu: Atman, Avidya dan Shiva).”

Keterangan: Kaum Vaiseshikas yakin bahwa Realitas yang hadir dibalik semua nama dan ciptaan-ciptaan ini adalah Prana. Prana disini diidentikan  dengan Hairanyagarbha (Pencipta, yang di Vedanta dikenal dengan nama Suthratma).
Mereka-mereka yang yakin akan kepercayaan ini memujaNya sebagai Realitas Yang Maha Utama dan mereka menyebut Hundu Dharma dengan nama Hiranyagarbhakas.
Ada empat teori yang berbeda-beda di sloka di atas mengenai Sang Atman, demikian juga dengan sloka-sloka berikutnya.
Teori Charraka (berorientasi ke materi/bhutas), teori ini disebut juga Lokayathas, penganut teori ini tidak mau menerima adanya ether sebagai salah satu elemen penciptaan di dunia ini, bagi mereka hanya ada 4 bhutas saja, yaitu udara, api, air dan tanah.
Teori Sankyas di atas mengatakan: Dunia ini berasal dari tiga sifat gunas yang masing-masing berintikan unsur (physic dan psichological) seperti a) non-aktivitas, b) aktivitas, dan c) tidak aktif.  Menurut mereka, Pralaya (kiamat) adalah suatu bentuk penghancuran dunia ini yang menyisakan kondisi manifestasi yang bersifat homogeneous sewaktu ketiga gunas  ini memasuki tahap equilibrium. Pada saat keselarasan equilibrium ini terganggu atau diganggu, maka gunas ini lalu hancur berantakan ibarat rumah yang disusun dari kartu, ke dalam nama dan bentuk (rupa) yang berbagai ragam ini dan menghasilkan pruralitas alam-semesta ini!
Di India hadir aliran Saivas (Pemuja Shiva) yang percaya akan Eksistensi Yang Maha Esa (Realitas) berdasarkan tiga faktor utama, yaitu yang disebut tiga bentuk Tatras: Sang Atman – Avidya (kegelapan-kebodohan) – Shiva.

Sloka - 21  “Mereka-mereka yang terbiasa dengan empat bagian Padas menyebut Sang Atman sebagai Padas;  Mereka-mereka yang terbiasa dengan berbagai indriyas menyatakan bahwa dasar-dasar dunia ini adalah berbagai obyek-obyek sensual ini; mereka-mereka yang terbiasa dengan berbagai loka (planet dan sebagainya) menyatakan bahwa Sang Realitas adalah Loka-loka itu Sendiri dan mereka-mereka yang mengenal para dewata (Devas) juga menyatakan bahwa Sang Realitas adalah gabungan dari para dewa-dewa ini.”

Keterangan: Penjelasan lengkap mengenai 4 bagian Padas telah hadir pada permulaan karya ini, lihat keterangan mengenai Om Upasana di awal buku ini.
Menurut Vatsayana dan pengikut-pengikutnya, Realitas terakhir adalah berbagai obyek sensual dalam bentuk berbagai suara, bentuk, bau-bauan, rasa dan sentuhan.
Menurut Panarikas (mythologis), Sang Realitas terdiri dari tiga dunia (loka) yang disebut “Bhur”, “Bhuva” dan “Suvah”.
Menurut Meemamsakas, penganut-penganut penuh disiplin dari berbagai Vedas, Dewa Agni, Indra dan lain-lainnya, maka gabungan dari semua dewa-dewi ini adalah Realitas  yang Abadi. Para dewa-dewa ini oleh para penganut ini dianggap sebagai Penjaring dari berbagai karma dan pahala-pahalanya (Karmaphaladatas).

Sloka - 22  “Mereka-mereka yang memahami berbagai Vedas menyebutNya sebagai Vedas; mereka-mereka yang mengenal berbagai bentuk pengorbanan menyebutNya sebagai Pengorbanan suci. Mereka yang memahami sang penikmat menyatakan Beliau itu sebagai Sang Maha Penikmat, dan mereka-mereka yang memahami berbagai obyek kenikmatan menyebutNya sebagai obyek berbagai kenikmatan.”

Keterangan: Para Vedins yakin bahwa Tuhan itu adalah berbagai Veda-veda itu sendiri.
Para penganut aliran Bodhyanas menyatakan bahwa berbagai bentuk pengorbanan (yagnas) adalah Sang Realitas. Tanpa pengorbanan agung dari Sang Pencipta, tidak mungkin alam-semesta ini bisa tercipta pada mulanya, dan pengorbanan tersebut dilakukan secara tulus dan oleh bakti yang dilandasi paham-paham ajaran Veda. Bagi para ahli lainnya, pendapat ini dinilai tidak filosofis, jadi tidak benar karena mana mungkin benda-benda duniawi menciptakan Yang Maha Esa.
Pandapat kaum Sankhyas menyatakan Sang Realitas adalah penikmat. Menurut mereka ini, Sang Atman bukanlah pelaku juga bukan tuhan, sebaliknya Beliau adalah Penikmat (dari semua bentuk kehidupan dan seluruh ciptaan ini).
Ada juga kaum Sapukaras (juru masak), yang beranggapan bahwa Sang Penikmat itu adalah Sang Realitas atau sebaliknya (bukan Penikmat).

Sloka - 23  “Mereka-mereka yang memahami unsur-unsur lembut, menyebutNya  sebagai Yang Lembut; mereka-mereka yang memahami wujud-wujud (benda) kasar menyebutnya sebagai Yang Kasar (padat, penuh, berbentuk) dan mereka-mereka yang memuja sebuah bentuk menyebutNya sebagai seseorang yang berbentuk dan mereka-mereka yang yakin akan yang tidak berbentuk menyebutNya sebagai Kekosongan.”

Keterangan: Kaum Naiyayikas (pemaham logika) menyatakan dunia ini adalah modifikasi (parinama) dari realitas Yang Maha Utama. Parinama  ini terdiri dari tiga faktor yaitu sesuai dengan dimensi realitas yang dikenal; yang pertama bersifat atomik (Anu-Parinam), yang kedua ukurannya sebesar raga manusia itu sendiri (Madhyama-Parinam) dan yang ketiga bersifat universal (Vibhu-Parinama). Menurut teori yang pertama: Realitas adalah bentuk terkecil dan terlembut di alam-semesta ini yang juga hadir di dalam relung hati sanubari yang paling dalam. Kata lembut disebut Sukshma (Suksuma) dan sifatnya adalah terkecil dari yang terkecil (atom) . . . Anuparinam.
Penganut aliran Lokayathas (materialis) berpendapat, raga ini adalah  Realitas yang Utama yang terutama di dalam kehidupan ini. Penganut aliran ini terbagi dalam tiga aliran kepercayaan. Yang pertama percaya bahwasanya badan atau raga ini adalah Realitas Utama, mereka ini disebut Deha-Atma-Vadins. Yang kedua percaya bahwasanya berbagai indriyas adalah Sang Realitas Utama, mereka ini disebut Indriya-Atma-Vadins, sedangkan aliran ketiga berkeyakinan bahwa Sang Realitas adalah sang pikiran itu sendiri. Mereka dikenal dengan nama Man-Atman-Vadins.
Kaum Agamikas adalah penganut berbagai agamas …. Mereka yakin Sang Realitas memiliki bentuk-bentuk suci dan berbagai nama seperti Maheswara (dengan Trisulanya), sebagi Vishnu dengan Cakranya, atau sebagai  Sri Krishna dengan serulingnya.
Adalah satu golongan Buddhis yang disebut Nihilis telah berketetapan bahwasanya Realitas Yang Maha Utama adalah Non-eksistensi yang memproyeksikan semua bentuk dan nama di alam-semesta ini.

Sloka - 24   “Mereka-mereka yang percaya akan Sang Waktu (Kala) menyebutNya sebagai Sang Waktu, yang percaya akan antariksa menyebutNya sebagai Sang Hyang Antariksa (Disa). Para alkemis dan ahli-ahli sulap menyebutnya sebagai Vada (ilmu fisika) dan mereka-mereka yang memahami berbagai dunia ini menyebutNya sebagai Bhuvanan (gabungan dari berbagai loka, dunia).”

Keterangan: Para ahli astrologi dan astronomi di jaman tersebut yakin bahwa dunia (alam-semesta) ini lahir dari Faktor  Eternal yang disebut Kala (Sang Waktu), mereka yakin alam-semesta ini ditunjang oleh Sang Kala dan akan menyatu kembali ke dalam Sang Waktu. Oleh karena itu, bagi mereka faktor utama adalah Sang Kala. Namun banyak ahli yang tidak sependapat, karena menurut mereka sang waktu selalu berubah-ubah, jadi tidak mungkin bisa bersifat abadi.
Kaum Swarodayavadins adalah golongan pemikir yang sangat piawai dalam membaca hal-hal yang berhubungan dengan masa-masa yang akan datang dan implikasinya dengan berbagai swara (suara dan nada) yang dihasilkan oleh para fauna-fauna dan berbagai elemen/fenomena di dunia ini. Mereka ini mampu menghitung  dan mendeteksi berbagai suara di alam ini dan meramalkan hal-hal yang akan terjadi.  Bagi mereka ini arah mata-angin (desa) adalah basis Abadi dari kehidupan yang serba pruralistik ini. Golongan ini juga terdiri dari Dhatuvadins (atau mantravadins) yang melakukan kegiatan magis mereka dengan menggunakan berbagai perangkat seperti kristal, mantra-mantra, ramu-ramuan dan lain sebagainya. Seni magis ini mereka sebut Vada, dan bagi para alkemis ini, Faktor Kebenaran di alam-semesta yang serba berubah-ubah ini adalah Yang Terutama.

Sloka - 25  “Mereka-mereka yang percaya akan sang pikiran (mana) menyebutNya Sang Mana; mereka-mereka yang yakin akan sang intelek murni menyebutNya sebagai Sang Budhi, mereka-mereka yang percaya akan inti sang pikiran menyebutNya sebagai Chit (Chittam); dan mereka-mereka yang mengenaliNya sebagai Kebenaran menyebutNya sebagai Dharma dan Adharma.”

Keterangan: Penganut Sang Buddhi di atas, disebut juga Budhis. Ada juga golongan Buddhis lainnya yang menyebut Yogachaeas, yang yakin bahwa Chit (Buddhi tertinggi yang hadir di dalam Sang Pikiran) adalah Sang Realitas Abadi. Mereka ini yakin, tanpa Chit yang merupakan Prinsip bercahaya, maka seseorang tidak akan dapat mencapai persepsiNya. Ketiga kategori pemuja ini masuk dalam satu wadah Buddhis yang berorientasi ke unsur-unsur materi, yang agak berbeda persepsi keyakinannya.
Kemudian ada golongan  meemsakas (baca mimsakas) yang yakin bahwa Dharma dan Adharma (Punya dan Papa), adalah realitas yang bersifat fundamental dan merupakan basis alam-semesta ini. Bagi mereka alam-semesta ini terkendali oleh faktor kebajikan dari masa lampau dan faktor masa kini akan menentukan masa depan alam-semesta  di masa-masa yang akan datang.

Sloka - 26  “Sementara ahli berpendapat bahwasanya Sang Realitas ini terdiri dari 25 golongan (kategori), ada yang mengatakan 26 dan ada juga yang berpendapat bahwa jumahnya tidak terbatas.”

Keterangan: Bagi kaum Sankhyan di India, Yang Maha Esa mengekspresikan ManifestasiNya dalam 25 bentuk fenomena yang dinilai dengan mula-prakriti dan kemudian bermodifikasi seterusnya dan berjumlah 25 kategori penunjang kehidupan di seluruh alam-semesta ini. Namun yogin lainnya berkata 26 manifestasi, para yogin ini beraliran Patanjali. Kemudian ditambah satu lagi yaitu Ishwara Thatwa. Sedangkan aliran Pasupatas menyatakan unsur-unsur ini ada 31 dan lengkapnya sebagai berikut:
1) Shiva                2) Sukh            3) Sada-Shiva  4) Ishwara        5) Vidya
6) Purusha            7) Maya           13)Prakriti Yang Tak Bermanifestasi
14) Mahat            15) Ahamkar    16) Manas
5 organ indriyas; 5 organ segala tindakan; 5 thanmatras = 31 dan 5 unsur maha panca butha = 36.
Di atas ini Sri Gaudapada menyebut 31 kategori, padahal masih ada unsur Sang Waktu (8), raga (12) dan sebagai implikasi Sang Maya (7). Namun ada juga yang berpendapat bahwasanya Yang Maha Esa itu tidak terbatas manifestasiNya.

Sloka - 27  “Bagi mereka-mereka yang gemar menyenangkan hati orang lain yaitu kaum Lukikas, menyebutNya sebagai “tindakan yang membahagiakan dunia ini”, bagi kaum Ashramas yang setia, mereka menyebutNya sebagai Ashramas; bagi ahli tata-bahasa, Beliau dikategorikan sebagai pria, wanita dan banci; dan ada lagi yang menyatakan Beliau ini Para dan Apara (Brahman minor dan Brahman major).”

Sloka - 28  “Para pengagum penciptaan ini menyebutNya sebagai Penciptaan, yang percaya akan kiamat (laya) menyebutNya Sang Kiamat, dan yang percaya akan bentuk pemeliharaan menyebutNya Sang  Pemelihara (Pengayom).  Sebenarnya semua pemikiran ini hanyalah (berbagai) imajinasi Sang Atman.”

Sloka - 29  “Bagi seorang Sadhaka, maka ia mengenaliNya seperti yang diajarkan oleh gurunya. Sang Atman senantiasa menyelaraskan Dirinya dengan berbagai hasrat para pemuja-pemujaNya, dan melindungi mereka (dengan bentuk tersebut). Dengan demikian sang Pemuja akan meyadari Hakikatnya . . . sebagai satu-satuNya bentuk Kebenaran.”

Keterangan: Seperti halnya Sri Krishna  di Bhagavat-Gita, maka Sri Gaudapada pun dengan sangat liberal menyatakan bahwa Yang Maha Esa menyelaraskan DiriNya untuk dipuja dalam bentuk dan agama/ajaran apapun juga. Lalu untuk apa kita ribut sesama agama? Atau dengan umat lain?  Tuhan sendiri tidak protes dan malahan berkenan, mengapa harus kita-kita yang selalu merasakan diri kita benar dan yang lainnya salah?

Sloka - 30  “Sang Jati Diri, walaupun tidak memisahkan diri dari kesemuanya ini, terkesan terpisah dan jauh keberadaanNya. Seseorang yang hanya dengan memahami makna ini saja, seyogyanya akan mampu memahami makna dari berbagai Veda tanpa keragu-raguan sedikitpun.”

Sloka - 31  “Ibarat mimpi yang berasal dari berbagai ilusi, atau “istana kediaman bidadari Morgana” yang terlihat di langit, demikian juga alam-semesta ini diamati oleh para Vedantin yang telah penuh dengan pengalaman (Kebijaksanaan dan ilmu-pengetahuan).”

Sloka - 32  “Tidak ada pralaya (kiamat), juga tidak ada kelahiran; tidak juga hadir keterikatan, ataupun seseorang pencari kebijaksanaan, ataupun ada seorang pencari kebebasan, araupun seseorang yang telah dibebaskan. Hanya inilah Kebenaran Yang Maha Utama.”

Keterangan: Bagi yang telah mencapai Kemanunggalan dengan Sang Jati Diri maka semua fenomena spiritual  diatas pun tidak eksis lagi. Baca Ashtavakra-Gita yang berisikan intisari dari sloka ini.

Sloka - 33  “Sang Atman (Jati Diri) ini diimajinasikan sebagai yang tidak  nyata dan juga sebagai Yang Nyata. Berbagai obyek diimajinasikan di dalam Non-dualitas Itu Sendiri. Oleh karena itu dikatakan bahwaanya, Sang Non-dualitas ini adalah bentuk Kesucian yang Tertinggi.”

Sloka - 34  “Berbagai lapisan pruralitas ini tidak eksis seperti yang diidentifikasikan dengan Sang Atman. Namun Ia juga tidak dapat lepas dari bebas merdeka dari DiriNya Sendiri. Ia tidak terpisahkan dari Sang Brahman, tidak juga Non-pruralitas berpisah DariNya. Demikian kata para kaum bijaksana yang telah memahami berbagai Upanishad.”

Sloka - 35  “Oleh para resi-resi suci yang agung yang berasal dari kurun masa yang lampau, yang tidak memiliki keterikatan, rasa takut (khawatir) dan kemarahan, yang telah mempelajari kebenaran berbagai Upanishad secara mendalam, maka kaum suci ini disadari sebagai “Sesuatu” yang secara total lepas dari berbagai imajinasi dan bebas (merdeka) dari berbagai lapisan ilusi, Beliau juga dipahami sebagai Eksistensui Yang Abadi dan Non-dual HakikatNya.”

Keterangan: Penjelasan di atas ini sebenarnya termuat di sebuah kitab ajaran yang disebut Prakarana Granth yang berisikan berbagai instruksi hasil ajaran para guru resi yang mengkhususkan mengajar para peniti jalan shadana. Sri Gaudapadiya secara tidak langsung mengisyaratkan kepada para murid-muridnya agar mempelajari berbagai Upanishad dan kitab-kitab suci yang bernuansa adi-luhung  agar mampu menjangkau HakikatNya.

Sloka - 36  “Oleh karena itu setelah menyadari akan Hakikat Sang Atman yang bercirikan demikian, persatukanlah dirimu denganNya. Setelah menyadariNya secara penuh sebagai Realitas yang bersifat Non-dual, kemudian bergeraklah di dalam kehidupan ini penuh dengan kesadaran hakiki.”

Keterangan: Kesadaran yang hakiki berarti orang yang saat ini, nantinya secara murni tidak akan berpihak ke agama ataupun ajaran-ajaran lainnya, karena ia sadar bahwa Yang Maha Esa sebagai Hakikat Tertinggi tidak terjangkau oleh nalar manusia yang terikat dengan berbagai dogma, kepercayaan dan keyakinan. Ia sadar bahwasanya hanya Yang Maha Esa saja yang mampu hadir di berbagai ajaran dan agama sebagai tujuan tertinggi.

Sloka - 37  “Seorang suci yang telah mengendalikan dirinya, seharusnya berada di atas semua bentuk pujian dan kehormatan (yang diarahkan kepadanya), juga diatas berbagai ritual ….. diatas berbagai agama dan lain sebagainya. Baginya hanya Sang Atman saja yang menjadi penyandang raganya dan ia hanya berpasarah diri dalam memenuhi berbagai kebutuhan fisiknya ini.”
  
Sloka - 38  “Setelah memahami Kebenaran tersebut di dalam raganya maka di dunia (alam) eksternal ia menyatu dengan Sang Realitas; dan selanjutnya (senantiasa) menyerap berbagai bentuk kebahagiaan dariNya dan ia tidak pernah tersesat dari Kebenaran ini.”

Dengan berakhirnya sloka tersebut di atas maka
Berakhirlah Bab Kedua dari
Gaudapada Karika ini.

BAB III
ADWAITA PRAKARANA
(Penjelasan mengenai Faktor Non-dualisme)

Pada kedua bab sebelumnya Sri Gaudapada secara jelas dan terperinci menerangkan berbagai ekspresi dari berbagai agama-agama di jaman tersebut. Di bab pertama beliau menerangkan eksistensi agung dari Sang Realitas yang bersifat non-dual, keterangan yang diberikan berdasarkan skripsi-skripsi yang telah beliau pelajari. Kemudian di bab kedua kita diberikan sajian berupa berbagai argumentasi dari berbagai aliran (agamas) untuk membuktikan sifat ilusif dari dunia yang serba pruralistik ini. Di bab ini beliau menuntun kita ke arah fenomena dunia yang serba pruralistik ini yang ternyata sebaliknya tidak bersifat ilusif. Bab ini penuh dengan berbagai sitiran dari berbagai skripsi suci dan juga menuntun kita ke arah meditasi kita sehari-hari.
Konon, di bab yang akan kita ikuti ini (bab III), tersirat adanya ajaran unik yang hadir dalam Vedanta yang disebut “Asparse Yoga”. Yoga ini tersirat juga di ajaran Sang Buddha Gautama.
Di akhir bab III, Sri Gaudapada meneriakkan ajaran filosofinya mengenai non-penciptaan. Di sloka tersebut mengungkap seluruh sari pati ajaran Karika ini hanya dalam dua kalimat yaitu:

“Tak ada satu jiwapun yang pernah dilahirkan; tidak ada alasan apapun juga untuk melahirkannya.
Itulah kebenaran yang tertinggi, yaitu tidak ada sesuatupun yang pernah lahir.”


ADWAITA PRAKARANA
Dimulai

Sloka - 1      “Setiap ego individual yang sedang meniti jalan bakti (upasana) berimajinasi bahwasanya ia terhubungkan ke Sang Brahman, yang diperkirakan olehnya telah memanifestasikan DiriNya. Insan (Ego) ini disebut memiliki budhi yang rendah, karena insan ini berpikir bahwa sebelum terjadi penciptaan, maka semua ini bersifat Realitas yang belum dilahirkan.”

Sloka - 2      “Oleh karena itu, akan kuterangkan padamu, akan Sang Brahman ini, yang  lepas dan merdeka dari berbagai keterbatasan, yang tidak pernah dilahirkan dan bersifat homogeneous (sama jenis), dan dariNya ini sebenarnya tidak ada yang dilahirkan, walaupun terkesan berbentuk berbagai manifestasi yang tidak ada habis-habisnya.”

Sloka - 3      “Sang Atman yang mirip dengan Akash (ether) bermanifestasi dalam berbagai bentuk ego, dan dapat dibandingkan dengan spasi/ruang dalam bejana. Sekali lagi, spasi dalam bejana dikatakan diproduksi oleh spasi-total, oleh karena itu disebutkan bahwasanya bentuk-bentuk kasar (kasat mata) diciptakan dari Sang Realitas. Inilah ilustrasi bagi dunia dalam bentuknya yang bermanifestasi.”

Keterangan: Di dalam filosofi Vedanta terdapat analogi tentang spasi total (kehampaan alam-semesta) dan ruangan hampa, contoh ruang hampa dalam gerabah seperti pot, bejana, tempayan dan sebagainya. Spasi total adalah antariksa, ether, langit yang mengelilingi kita, sedangkan ruangan dalam bentuk  dan ukuran apapun juga adalah sebagian kecil dari kehampaan total alam-semesta ini.

Sloka - 4      “Sewaktu jambangan yang terbuat dari gerabah ini pecah, maka spasi (ruang) dalam gerabah ini menyatu kembali dengan Akash (kehampaan alam-semesta), demikian juga setiap ego (individu) menyatu kembali dengan Sang Atman.”

Sloka - 5      “Mengisi ruang kosong gerabah dengan asap atau tanah tidak berarti lalu seluruh ruang hampa di alam-semesta jadi terisi. Demikian juga halnya  akan kebahagiaan dan penderitaan di dalam hati seseorang tidak harus menjadi penderitaan dan kebahagiaan semuanya. Pengalaman jiwa seseorang tidak harus jadi pengalaman semua yang lain.”

Sloka - 6      “Di sana-sini terdapat berbagai perbedaan di dalam berbagai bentuk, fungsi dan nama, namun di alam-semesta yang tak terterangkan ini tidak terdapat semua perbedaan ini. Demikian juga halnya  dengan kebenaran, Beliau hadir secara sama-rata di dalam berbagai individu ciptaan-ciptaanNya.”

Sloka - 7      “Spasi hampa di dalam sebuah gerabah bukanlah hasil ataupun sebagian dari spasi total alam-semesta; demikian juga dengan halnya  setiap ego (jiwa, individu) yang bukan hasil dari Roh tersebut dan juga bukan sebagian dari Roh ini.”

Sloka - 8      “Ibarat langit yang terkesan penuh polusi (dari sudut pandang anak-anak bodoh), demikian juga Sang Atman (sering) terkesan diliputi oleh noda-noda dari sudut pandangan orang-orang yang kurang berpengetahuan.”

Sloka - 9      “Sang Atman yang bersemayam di dalam setiap raga, di dalam proses setiap kelahiran, kematian atau perpindahan (reinkarnasi), sebenarnya tidak berbeda dengan fenomena spasi hampa di dalam sebuah bejana.”

Sloka - 10  Setiap perangkat (organ-organ kehidupan) seperti badan, pikiran dan intelek terciptakan akibat pemahaman yang salah mengenai hakikat sejati Sang Jati Diri. Tidak ada sebuah alasan rasional apapun yang dapat dipergunakan untuk menyatakan realitas (semua) ini, apakah yang satu lebih superior daripada yang lainnya, ataukah yang satu sederajad dengan yang lainnya.”

Sloka - 11  “Sang Jati Diri Yang Maha Agung yang bukan lain dan bukan tidak adalah Sang Brahman yang berciri Non-dual, adalah Sang Jati Diri dari ke lima unsur  seperti fisik, mental dan lain sebagainya seperti yang telah diterangkan di Taittireeyaka Upanishad. Beliau Yang Maha Agung ini adalah seperti yang telah diterangkan sebelum ini oleh kami, yaitu ibarat spasi hampa total di dalam semesta ini.”

Sloka - 12  “Keterangan mengenai berbagai bentuk pasangan dari Akasa (ether) yang juga hadir di bumi, juga di dalam perut seseorang, walaupun berbagai ragam sebutannya, sebenarnya adalah sama bagi Sang Brahman; demikian menurut ajaran yang terdapat di Madhu Brahman, dimana Beliau dikenal sebagai Adhyatma dan Adhi-Daiva.”

Keterangan: Yang disebut berbagai pasangan di sloka ini adalah pasangan-pasangan dari buana-alit dan buana-agung, spasi gerabah versus spasi alam semesta, dan di Madhu Brahmana, fenomena ini disebut sebagai Adhyatmik dan Adhydaivik.

Sloka - 13  “Karena identiras Sang Jiwa dan Sang Jati Diri (Atman) diantara mereka berdua ini selalu diperdebatkan di berbagai skripsi, maka dikatakan bahwasanya non-dualitas adalah satu-satunya hal yang bersifat rasional dan tepat.”

Sloka - 14  Perbedaan antara Sang Jiwa dan Sang Atman yang telah dijabarkan secara ritual di dalam Veda yang berhubungan dengan Alam-Semesta ini, dapat bersifat figuratif karena berhubungan dengan keterangan mengenai yang mengantisipasi hal-hal yang akan terjadi. Keterangan mengenai konsep dualistik ini (sebenarnya) dapat tidak berarti apapun juga secara literal.”

Keterangan: Di dalam bab yang mengulas Karma-Kanda di Veda (bagian ritualistik), terdapat berbagai keterangan seperti di atas.

Sloka - 15  “Berbagai pernyataan yang diilustrasikan oleh berbagai contoh dari bumi, besi, cahaya dan lain sebagainya . . . Yang berhubungan dengan penciptaan dunia ini ataupun sebaliknya . . . memang dapat  menerangkan keberadaan (fenomena) penyatuan antara Sang Jati Diri secara perseorangan dengan Sang Jati Diri Yang Bersifat Universal. Sebenarnya hal-hal yang berhubungan dengan fenomena yang beragam-ragam ini tidak eksis sama sekali.”

Keterangan Di Brihadarayaka Upanishad, banyak disajikan contoh-contoh seperti misalnya penciptaan dunia ini dari berbagai elemen yaitu tanah, besi dan lain-lainnya. Sedangkan pesan-pesan di dalam Vedanta menyiratkan “melalui dunia ini menuju ke dunia yang lain.”  Sloka di atas  menyatakan bahwa seluruh penciptaan ini sebenarnya berasal dari delusi semata-mata (Pelajaran ini).

Sloka - 16  “Berdasarkan berbagai tahap dan kadar intelektual yang berbeda-beda seperti misalnya jiwa yang bersifat di bawah, di tengah  dan di atas, maka kehidupan ini dapat dibagi-bagi diantara tiga tahap skripsi-skripsi suci yang berdasarkan prinsip-prinsip kasih sayang yang mengajarkan penalaran semacam ini agar bermanfaat bagi mereka-mereka yang belum mencapai penerangan.”

Keterangan: Bagi penganut Vedantin, upaya-upaya utama pada mulanya adalah ajaran-ajaran penuh disiplin (Upasana), agar jalan pikiran dan budhi mereka menyatu, untuk kemudian diarahkan ke level  yang lebih tinggi. Sruthi pada mulanya mengajarkan kita akan berbagai bentuk penciptaan yang bersifat pruralitas yang tercipta dari Kebenaran. Namun teori ini diajarkan berdasarkan kasih sayang bagi para pemula yang masih kurang pengetahuannya akan Hakikat yang sesungguhnya (sejati).

Sloka - 17  “Kaum dualis bersiteguh pada hasil-hasil kesimpulan mereka sendiri dan menganggapnya sebagai kebenaran. Jadi mereka sering berdebat satu dengan yang lainnya, namun kaum Advaitin tidak pernah berkonradiksi diantara mereka sendiri.”

Keterangan: Yang disebut kaum dualist adalah golongan kepercayaan seperti kapila, Kanada, Jaina dan lain-lainnya.

Sloka - 18  “Non-dualitas adalah Realitas Utama yang sejati; dualitas  adalah efeknya. Kaum dualis merasakan hadirnya dualitas baik di dalam Yang Maha Hakiki dan di dalam berbagai fenomena (dunia ini). Oleh sebab itu, non dualisme adalah sebuah filosofi yang tidak bertentangan dengan posisi kaum dualis.”

Sloka - 19  “Sang Brahman yang non-dual dan tidak berganti-ganti ini, sebenarnya tidak dilahirkan, dan terkesan berubah-ubah karena terbungkus oleh ilusi atau Sang Maya, jadi bukan bersifat de facto. Karena, seandainya perubahan ini benar maka Sang Brahman Yang Maha Abadi akan berubah menjadi tidak abadi.”

Keterangan: Sebagian manusia dikarenakan oleh ilusinya sendiri merasakan Tuhan itu berganti-ganti bentuk, contoh: berbagai dewa-dewi, fenomena alam, berbagai bentuk Tuhan dan agama, ajaran, aliran kepercayaan dan sebagainya. Padahal Beliau adalah Hakikat Yang Maha Murni yang tak mungkin terjangkau oleh berbagai teori dan ajaran mulut manusia sebetapa canggihnya manusia tersebut.

Sloka - 20  Kaum dualis bersikeras bahwasanya Sang Atman yang tidak pernah dilahirkan dan tidak berubah-ubah bentuk ini, menjalani perubahan bentuk. Bagaimana mungkin Zat yang bersifat konstan dan abadi ini dapat berubah menjadi benda mati (mengenal kematian).”

Sloka - 21  “Yang Abadi tidak bisa berubah menjadi tidak abadi dan sebaliknya yang tidak abadipun tidak bisa menjadi Abadi, karena pada hakikatnya tidak pernah terjadi bahwa sesuatu itu dapat berganti-ganti sifat bawaannya yang dominan (utama), jadi dikatakan sesuatu itu senantiasa bersifat sama.”

Sloka - 22  “Bagiamana mungkin seseorang yang percaya bahwa unsur Abadi yang utama  berubah menjadi tidak abadi, tinggal di dalam KeabadianNya setelah berubah bentuk, kemudian mempertahankan bentuk utamanya yang bersifat immutabilitas (tidak bisa diganti).”

Sloka - 23  “Kedua bentuk pandangan bahwasanya, ciptaan ini adalah realitas dan juga sebaliknya telah diajarkan oleh Sruthi secara seimbang. Apa yang telah didukung dan dinyatakan Sruthi ini dan telah difahami secara logika adalah yang dapat diterima sebagai Kebenaran bukan hal-hal yang lainnya.”

Sloka - 24  “Melalui (konsep-konsep) seperti yang terdapat  di berbagai sloka-sloka di berbagai skripsi suci, contoh: “tidak ada bentuk jamak di sini”, atau, “melalui ilusi Sang Maya, dan sebagainya” . . . kita memahami behwasanya Sang Atman walaupun tidak dilahirkan, terkesan berbentuk aneka ragam (vineka) melalui penalaran Sang Maya (yaitu ilusi duniawinya sang manusia itu sendiri).”

Sloka - 25  “Sekali lagi, sewaktu fenomena penciptaan ditolak (Sambuthi) maka terjadilah penolakan terhadap teori ini. Kasualitas akan Sang Atman sekali lagi tidak diterima oleh pernyataan seperti ini :” Siapakah yang mampu mengakibatkanNya untuk lahir?”

Keterangan: Tersirat di sloka ini behwasanya hukum karma (sebab dan akibat) hanya bisa eksis dalam jalan pikiran manusia. Hukum ini tidak berlaku untuk Sang Pencipta, Beliau ini tidak dilahirkan dan tidak melahirkan!


Sloka - 26  “Berhubungan dengan ketidak-mampuan skripsi-skripsi suci untuk menerangkan Hakikat Sang Atman dengan jelas maka sering sekali skripsi-skripsi suci ini menyatakan: “Ia adalah bukan ini, bukan juga itu,”. . . dua bentuk  ekspresi ini selalu disajikan demi memahami Sang Atman. Oleh karena itu, Sang Atman yang tidak dilahirkan ini saja yang eksis . . . bukan bentuk dualitasNya.”

Sloka - 27  “Beliau (Zat tersebut) yang selalu Maha Hadir terkesan melahirkan (atau dilahirkan) melalui penalaran konsep yang salah (delusi). Menurut sudut pandang Realitas, maka hal ini tidaklah benar. Mereka-mereka yang percaya akan fenomena kelahiranNya sebagai suatu hal yang benar, menegaskan bahwasanya sesuatu  yang dilahirkan, akan dilahirkan kembali (ad infinitum).”

Sloka - 28  “Yang Maha Tak Nyata, tidak bisa dilahirkan baik secara nyata maupun secara delusi (tidak nyata), konsep berpikir yang salah. Ibarat anak yang dikandung oleh seorang wanita yang mandul, tidak bisa dikatakan dilahirkan de facto ataupun dilahirkan melalui delusi.”

Sloka - 29  “Ibarat di dalam sebuah mimpi, sang pikiran bertindak melalui Sang Maya (delusi, ilusi) dan menampilkan  berbagai penampakan akan dualitas, maka demikian juga dalam tahap sadar (tidak tidur), sang pikiran terangsang oleh Sang Maya dan mengakibatkan penampakan berbagai dunia yang penuh dengan berbagai obyek-obyek duniawi.”

Sloka - 30  “Secara pasti dapat dikatakan bahwasanya Sang Pikiran yang bersifat non-dual terkesan berantakan di dalam pluralitas mimpi-mimpinya. Demikian juga, Sang Realitas yang bersifat Non-Dual nampak sebagai penuh dengan berbagai variasi di tahap (alam) sadar ini.”

Sloka - 31  “Apapun yang kita sadari (capai) di dunia ini baik yang bersifat bergerak maupun yang tidak bergerak, adalah tidak lain tetapi  persepsi dari sang pikiran itu sendiri . . . yaitu sang pikiran itu sendiri. Karena, pluralitas itu tidak mungkin dapat terpikirkan kalau sang pikiran mampu dikuasai.”

Sloka - 32  “Sewaktu sang pikiran tidak berimajinasi lagi karena telah memahami hakikat akan ilmu-pengetahuan tentang Kebenaran, yaitu Sang Atman (Kesadaran murni), maka sang pikiran itupun berhenti berilusi. Sang pikiranpun lepas dari berbagai ide-ide pemahaman demi memahami obyek-obyek yang dipahami ini.”

Sloka - 33  “Ilmu pengetahuan yang tidak dilahirkan dan bebas dari semua imajinasi selalu bersifat tak terpisahkan dari  yang mengetahuinya. Sang Brahman yang tak pernah dilahirkan dan Yang Tak Dapat Tersentuh adalah tujuan satu-satunya dari ilmu-pengetahuan ini. Yang bersifat tidak dilahirkan hanya dapat dipahami oleh mereka-mereka yang tak terlahirkan.”

Sloka - 34  “Pahamilah jalan pikiran (sifat) dari sang pikiran yang berada di bawah kendali yang sempurna . . . yang lepas dari semua imajinasi (Sankalpa) .  .  . yang berdasarkan pemikiran yang murni. Keadaan sang pikiran di dalam tahap tidur lelap berbentuk sangat luas dan berlainan dan tidak seperti pikiran terkendali secara damai.”

Keterangan: Tiga tahap (alam) telah dijabarkan di bab-bab sebelumnya, mulai sloka ini akan diterangkan mengenai alam Thuriya, yaitu tahap kesadaran yang tertinggi dimana berbagai faktor pluralistik tidak akan hadir. Namun bagi para resi dan sadhaka yang telah bertahun-tahun tidak mampu menembus ke alam ini, maka mereka bisa kembali ke alam duniawi dan berubah menjadi liar dan beringas, penuh dengan kebejatan dan pamrih. Ingat selalu, jalan shadana itu tidak dapat dipaksakan, bukan kita yang memilih Sang Dharma, namun sebaliknya Sang Dharma yang memilih kita. 

Sloka - 35  “Dalam tahap (alam) tidur lelap, sang pikiran tenggelam di dalam kebodohan belaka, namun di dalam pelaksanaan disiplin Vedantik, maka hal tersebut berbeda sekali. Oleh karena itu ada perbedaan diantara seseorang yang tertidur lelap dan seseorang yang telah memasuki alam kesadaran dalam menghayati berbagai fenomena kehidupannya. Jalan pikiran seorang Jnyani menjadi identik dengan Sang Brahman Yang Maha Gagah Perkasa; yang menjadi batas antara mereka berdua adalah (perbedaan) antara Sang Atman dan Sang Brahman belaka.”

Sloka - 36  “Sang Brahman tidak dilahirkan ditinjau dari sudut kondisi alam tidur dan alam mimpi, tanpa nama dan tanpa bentuk, senantiasa bercahaya dan maha hadir. Tidak diperlukan upacara apapun juga, dan dalam bentuk apapun yang harus dilaksanakan di altarnya Sang Brahman.”

Sloka - 37  “Sang Jati  Diri ini berada jauh dari berbagai ekspresi maupun kata-kata, jauh dari berbagai pelaksanaan sang pikiran. Beliau adalah yang serba damai, serba (senantiasa berkilauan, lepas dari berbagai pelaksanaan dan ketakutan (rasa khawatir). Beliau dapat dipahami (dicapai) melalui budhi-daya yang terkonsentrasi.”

Sloka - 38  “Di sana, di dalam Sang Jati Diri, yang merupakan pencapaian terakhir dari berbagai pelaksanaan sang pikiran, tidak hadir persepsi maupun projeksi diri ke dalam berbagai bentuk-bentuk ide.  Kokoh terserap kedalam Ilmu-Pengetahuan … Jnyani ini akan mencapai tahap yang tak tergoyahkan dan merupakan tahap kesatuan.”

Sloka - 39  “Yoga ini disebut Sentuhan dari yang tidak tersentuh, yoga ini sulit untuk dicapai oleh para pencari  kebenaran. Para yogin takut akan Jalan ini, karena  mereka ketakutan akan Itu (KehadiranNya) ……. Yang (sebenarnya) adalah tempat  dimana seseorang mampu merasakan tahap sebenarnya akan tidak hadirnya rasa kekhawatiran dalam bentuk apapun juga..

Sloka - 40  “Para yogin yang tidak meniti Jalan Ilmu-Pengetahuan seperti yang dinyatakan di dalam Karika ini akan berada (sepenuhnya) didalam kendali dari pikiran mereka dalam menghadapi rasa tidak-ketakutan, penghancuran berbagai penderitaan, dan juga ilmu-pengetahuan akan Sang Jati Diri dan kedamaian.”

Keterangan: Yang dimaksud dengan para yogin ini, adalah penganut hatha-yoga yang hanya mengandalkan pranayama dan berbagai gerak asanas (gerakan-gerakan dan posisi badan), yang sebenarnya diperuntukkan bagi kebugaran jasmani mereka. Fisik yang baik akan mengantarkan seseorang ke strata spiritual yang baik, namun kalau hanya terpaku kepada hatha-yoga saja tanpa meniti jalan-pengetahuan, maka jalan pikiran mereka akan tetap rapuh dan mudah terombang-ambing oleh berbagai aspek kehidupan ini.”

Sloka - 41  “Sang pikiran itu dapat dikendalikan, namun diperlukan usaha yang tidak ada habis-habisnya, ibaratnya mengosongkan sebuah samudra dengan menimba airnya setetes demi setetes dengan mempergunakan sehelai rumput kusa.”

Keterangan: Mungkin ada sebagian  sidang pembaca yang menanggapi dengan pesimis makna sloka ini, sepertinya  sia-sia saja usaha mengosongkan sebuah samudra, sudah setetes demi setetes, menggunakan  rumput kusa lagi, tentu saja tetesannya semakin kecil saja.
Ada sebuah kisah kuno, disebuah shastra yang dikenal dengan nama Hitopadesa, kisah ini sendiri termuat di sebuah bab yang disebut Tithipopakhyaha. Konon diceritakan di sini akan kisah seekor burung kecil yang menetaskan telur-telurnya di pasir  sebuah pantai. Namun disuatu saat air laut pasang, dan telur-telur ini terseret  semuanya ke laut. Sang burung kecil kehilangan ini, tidak mau menerima kenyataan ini, dan dengan menggunakan sehelai rumput kusa, sang burung setiap harinya berusaha menimba air laut tersebut setets demi setetes dengan harapan sang laut akan kosong suatu saat nanti, dan ia akan mendapatkan kembali telur-telurnya. Usaha ini secara diam-diam diperhatikan oleh Sang Garuda yang amat bersimpati kepada burung kecil ini. Sang Garuda menghampiri dewa laut dan mengancam akan menyerangnya kalau tidak mengembalikan telur-telur tersebut. Ternyata dewa laut ini sangat takut dan segan kepada Sang Garuda dan segera mengembalikan telur-telur ini kepada si burung kecil.

Pesan yang dikandung kisah ini jelas sekali: Walaupun mengalahkan sang pikiran itu adalah hal yang musykil dan tidak mungkin, namun seandainya seseorang itu beriman dan berusaha terus  secara berkesinambungan penuh dengan disiplin dan bhakti, maka Yang Maha Esa secara pribadi akan datang membantunya. Di Bhagavat-Gita, Sang Krishna menyatakan selangkah seseorang itu melangkah  ke arahnya, maka 1000 langkah Beliau maju menjemputnya, dan coba renungkan betapa besar, agung dan luasnya satu langkah Tuhan Yang Maha Esa ini. Kita berusaha tanpa pamrih di dalam kesehari-harian kita, biarkan Yang Maha Esa yang menentukan hasilnya; dengan melatih diri kita secara demikian, maka akan timbul hubungan denganNya, dan hubungan yang gaib ini penuh dengan kesadaran yang mencengangkan sang bhakta ini sendiri, ibaratnya ia tinggal di dunia ini, tetapi paada saat yang lain ia melihat dan juga hidup dan merasakan berbagai dimensi pikiran yang lain, karena sang pikiran yang tidak sibuk dengan berbagai suka-duka ini lalu secara otomatis masuk ke dimensi yang selama ini “tertutup” oleh kesibukan, kegalauan dan berbagai aktifitas kita, padahal di dalam kehidupan ini, ada keajaiban di dalam tubuh kita sendiri yang  harus kieksplorasi oleh kita sendiri!

Sloka - 42  “Sebuah jalan pikiran yang tidak tertarik akan berbagai keinginan (hasrat, nafsu), dan demikian juga sang pikiran yang menikmati kenikmatan dari “alam tidur yang menyeluruh, disebut Laya”, harus digiring di bawah disiplin yang ketat dan sempurna, dengan menyadarkan sang pikiran  ini melalui berbagai jalan-jalan yang seharusnya. Karena “alam trance (kesurupan) atau “alam tertidur lelap” yang disebuut Laya ini sama merugikan seperti halnya dengan berbagai cobaan dan gangguan berbagai nafsu dan keinginan.”

Keterangan: Di sloka ini, Sang Guru, yaitu Sri Gaudapada memperingatkan para sadhaka agar berhati-hati dengan shadananya. Walaupun seseorang telah menanggalkan berbagai hasrat dan nafsu-nafsunya, namun ada faktor lain yang pasti akan menjegal jalan dhyananya, yaitu yang disebut Laya (Kesurupan/trance atau tahap setengah tidur / setengah mengawang yang dapat membawanya ke alam-alam yang penuh dengan cobaan-cobaan yang bersifat negatif dan bahkan cenderung bersifat sidhi/kesaktian).

Sloka - 43  “Jauhkanlah sang pikiran dari berbagai kenikmatan dengan keyakinan bahwasanya berbagai indriyas ini sebenarnya terbungkus dengan teka-teki dan misteri. Dualitas yang tercipta (dari sang jalan pikiran) kemudian tidak akan mempu menembus persepsi kita seandainya kita secara terus menerus berrefleksi kepada Sang Brahman yang tak pernah dilahirkan dan tak pernah berganti-ganti (status dan bentuk ini.)

Sloka - 44  “Dalam tahap trance ini, kita menyadarkan pikiran kita; sewaktu terganggu, harus kita damaikan; sementara ini kita juga menyadari bahwasanya sang pikiran ini penuh dengan berbagai hasrat dan nafsu yang tak pernah puas (termanifestasikan), namun masih penuh dengan potensi tersebut. Seandainya sang pikiran telah mencapai tahap keseimbangan yang sempurna, maka kemudian  jangan diganggu lagi.”

Keterangan: Seandainya seseorang merasa telah mampu mengalahkan jalan pikirannya, maka ia harus berhati-hati, karena potensi nafsu di dalam pikiran itu sebenarnya besar sekali, potensi ini akan menyerang sang sadhaka melalui sifat-sifat animalistik (peri-kebinatangan) yang terpendam di dalam dirinya sendiri. Potensi yang menghancurkan ini hadir dalam samadhi setiap sadhaka pada saat-saat akhir penyempurnaan samadhinya, dan disebut Kashaya. Ini menunjukkan sebenarnya sebelum mengalami evolusi menjadi manusia kita mungkin adalah juga sejenis fauna, namun berbudi-daya lebih tinggi dari yang lain-lainnya, dan kehidupan sedang membawa kita ke evolusi masa depan. Seperti apakah bentuk dan tingkah laku manusia ini, evolusi dan kehendak Sang Pencipta saja yang akan menentukannya di masa depan.

Kembali ke sang sadhaka yang sedang mendaki shadananya, seandainya ia berhasil melampaui tahap yang sulit ini, maka ia akan berada langsung di depan pintu gerbang Sang Brahman, Sang Realitas. Sang Sadhaka kemudian tinggal “mengetuk” pintu ini. Tahap di pintu gerbang ini disebut tahap keseimbangan. Pintu ini dibuka olehNya, masa penantian ini harus dijaga secara hati-hati, agar jangan terganggu lagi pada saat yang paling akhir. Yang paling mampu  mengganggu kita adalah kita sendiri, demikian pesan Sri Gaudapadiya kepada para sadhakanya.

Sloka - 45  “Sang pikiran (dalam tahap samadhi ini) tidak boleh diajak menikmati Karunia Ilahi yang terpancar dari samadhinya. Melalui penalaran yang murni, ia harus melepaskan dirinya dari kenikmatan spiritual ini. Seandainya, sang pikiran, sekali mencapai tahap keseimbangan ini,  masih ingin keluar menikmati obyek-obyek di luar, maka sang pikiran ini harus disatukan kembali dengan Sang Jati Diri sekali lagi, melalui upaya-upaya dirinya sendiri.”

Keterangan: Ternyata, tahap karunia transedental Ilahi dalam samadhi juga masih merupakan sebuah ikatan yang bersifat kebahagiaan. Karena terbius oleh kenikmatan spiritual ini, sang sadhaka lalu “larut atau tenggelam di dalamnya.” Ia harus menyadarkan dirinya bahwa Sang Atman adalah tujuannya,  dan ia harus sekuat tenaga  keluar dari tahap kebahagiaan ini demi penyatuannya dengan Sang Atman. Ternyata jalan shadana ini tidak  mudah sama sekali  dan terkesan rumit dan musykil. Namun jangan putus asa karena Iswara Kripa (atau Guru Kripa = Karunia Yang Maha Esa) pasti diberkahkan kepada yang layak mendapatkannya. Bersyukur dan berterima-kasihlah kita kepada Sri Gaudapadiya yang sudi menuntun kita semua.

Sloka - 46  “Lepas dari ikatan-ikatan tahap trance (kesurupan) ini, dan juga dari segala ikatan-ikatan berbagai nafsu dan hasrat-hasratnya, maka sang pikiran ini lalu berubah menjadi tenang dan damai dan tidak mengembara lagi, sang pikiran ini lalu sebenar-benarnya telah merubah menjadi Sang Brahman.”

Keterangan: “Manusia tanpa pikiran adalah Tuhan (Brahman), Tuhan ditambah sang pikiran  adalah manusia (Atman).”
Sang pikiran hadir dalam keadaan (Asanti) tidak tenang, sedangkan Tuhan Yang Maha Esa hadir di dalam shanti. Pada saat pikiran sang sadhaka sudah tidak eksis lagi karena berada di bawah karunia total Yang Maha Esa, maka Sang Atman langsung melebur kembali  ke Sang Brahman. Pada saat itu Sang Atman sudah bersih dari kontaminasi pikiran dan berubah murni identik dengan asalnya, yaitu Sang Brahman. Di tahap ini terjadilah tarikan magnet yang dahsyat dan sang buana alit langsung melebur ke buana agung. Itulah hukum dan rahasia alam-semesta dan ciptaanNya yang berbentuk manusia.

Sloka - 47  “Karunia tertinggi ini didasarkan atas penemuan Sang Jati Diri. Ia merupakan bentuk kedamaian yang identik dengan pembebasan, tidak dapat diterangkan dan tidak pernah dilahirkan. Ia (beliau) ini kemudian diterangkan sebagai Sang Brahman Yang Maha Hadir, karena Ia satu (manunggal) dengan Sang Jati Diri yang tidak dilahirkan, yang merupakan tujuan dari pencari Ilmu  Pengetahuan Yang Hakiki.”

Keterangan: Sewaktu yang dituju selalu ini tercapai, maka terciptalah sejenis kedamaian yang sulit dijabarkan ke individu yang belum pernah mengalami fenomena ini.

Sloka - 48  “Tidak ada Jiwa . . .Makhluk-makhluk khusus yang berego-sentris . . . yang pernah dilahirkan. Tidak ada suatu sebab (alasan) yang dapat menciptakan berbagai jiwa ini sebagai hasil akibatnya. Inilah Kebenaran yang tertinggi yaitu tidak ada sesuatu apapun yang pernah dilahirkan.”

Keterangan: Ajaran  di atas adalah teori Ajatavada yang diajarkan oleh  Resi Vasishta (di Yoga-Vasishta) kepada Sri Rama, muridnya, ribuan tahun yang silam, sebelum hadir Bhagavat-Gita. Di ajaran ini, Resi Vasishta meramalkan kepada Sri Rama bahwasanya Beliau akan beravatara ribuan tahun kemudian sebagai Sri Krishna dan mencetuskan ajaran Bhagavat-Gita untuk zaman Kali-Yuga.
Pada sloka terakhir bab ini, Sri Gaudapadiya menyimpulkan inti-sari dari berbagai ajaran-ajarannya bahwasanya Yang Maha Esa itu tidak pernah dilahirkan, jadi tidak juga pernah melahirkan apapun juga. Semua yang kita rasa, alami dan saksikan, halunisasi belaka. Mencari-cari asal-usul Tuhan dan penciptaan ini sama seperti mencari jejak-jejak burung yang terbang di angkasa. Kaum Buddhist menyebut fenomena ini sebagai, “Soonya Vadins.”

Dengan ini berakhirlah Bagian ke lima dari Bab – 3





BAB IV
ALATHA SANTI
( MEMADAMKAN BARA API )

Para ahli dan peneliti agama Hindhu menyatakan bahwa bab ini sangatlah penting karena dianggap sebagai suatu karya tersendiri. Ada yang menyatakan bahwa seluruh Gaudapada Karika sebenarnya bukan hasil seorang pengarang, namun mungkin saja hasil banyak orang, yang kemudian diakumulasikan menjadi satu buku (dari aslinya berjumlah 4 buku). Ada juga yang menyatakan, karena buku ini dibuka dengan sebuah doa puja, maka bab  empat ini sebenarnya adalah karya yang khusus tersendiri. Ada lagi yang berkomentar bahwasanya bab IV ini penuh dengan pengulangan yang sudah dipaparkan pada bab-bab sebelumnya, yang memang benar demikian adanya.
Sri Gaudapada (Gaudapadiya) di bab ini berusaha menerangkan :
1)      Ketidak mampuan secara piawai dari aspek kasualitas melalui unsur dialektika;
2)      Menerangkan berbagai bentuk ilusi dari dunia pluralistik dengan memperbanding-kannya dengan pola-pola palsu yang diciptakan oleh Alatha (bara-api);
3)      Menekankan pemakaian istilah-istilah Buddhist bahwasanya Yang Maha Kebenaran bersifat Non-dual (Eka, Esa) Tidak bermula dan senantiasa Abadi.
Oleh sebab itu di atas, banyak ahli juga menyatakan bahwa Sri Gaudapadiya mengajarkan filosofi Sang Buddha di buku ini, namun banyak sekali ahli lainnya yang membantah, karena Ashtavakra-Gita yang tahun sebelum karya ini telah hadir di zamannya Raja Janaka, dan itu sudah  ribuan tahun sebelum karya ini, atau lahirnya Sri Gaudapada itu sendiri. Kemudian ada yang berkata bahwa karya ini menyiratkan ajaran Vedanta di dalam Buddhisme, namun banyak juga yang berpendapat bahwa karya ini adalah sebuah bentuk Upanishad yang teramat unik dan sarat akan berbagai pengetahuan yang teramat spesifik dan sulit dimengerti oleh kaum awam, apalagi  untuk dicernakan begitu saja. Yang terakhir ini ternyata mengandung kebenaran dan kebenaran ternyata sulit untuk dijabarkan, dari masa ke masa, dari tempat ke tempat, apalagi dari satu persepsi ke persepsi yang lain, apalagi kalau ditunjang dari segi adat budaya dan tradisi yang sudah mengakar, yang salah bisa benar dan begitu juga sebaliknya.
Di bawah ini dihadirkan sebuah sloka yang menjelaskan hierarki dari para Acharyas, dari Sri Shankara Acharya dan para sishya-sishyanya. Menurut para ahli hierarki ini bermula dari dewa Vishnu, dan dari Beliau ini ajaran-ajaran yang diturunkan ke manusia mencapai kita secara berantai (estafet), dari satu ke yang lainnya dengan urut-urutan seperti berikut ini:  Sri Nayarana (Vishnu), Vasishta, Sakti, putranya Parasara, Vyasa, Suka, Gaudapada, Govindapada, Sri Shankara Acharya, Padmapada, Hashamalaka, dan Throtakacharya.
Ternyata guru dari Sri Shankara Acharya, yaitu Sri Govindapada adalah murid langsung dari Sri Gaudapada. Demikianlah ajaran ini diturunkan ke kita semua dari kurun waktu yang teramat silam ke masa kini dan seterusnya.

Sloka - 1      “Aku bersujud kepada yang terbaik diantara manusia, yang melalui jalan ilmu pengetahuan, yang mirip dengan antariksa, dan tidak berbeda-beda  dari obyek ilmu-pengetahuan, telah menyadari akan sifat dari berbagai Jati-Diri individual, yang juga mirip dengan antariksa itu sendiri.”

Keterangan: Dengan doa-puja ini Sri Gaudapada  memulai bab ke empat ini. Doa ini dihaturkan kepada gurunya sebagai tanda terima kasih dan sebagai wujud penghormatan, karena tanpa seorang guru pembimbing yang non-pamrih tidak mungkin Gaudapada mencapai status yang mulia ini. Konon ada juga yang berpendapat bahwa doa ini ditujukan kepada Sang Buddha Gautama; dan ada juga yang mengatakan bahwa doa ini ditujukan kepada Sang Hyang Vishnu (Narayana), karena sudah menjadi pengetahuan umum bahwasanya Sri Gaudapada ini adalah pemuja konstan dari Sri Vishnu di sebuah kuil di daerah Badrinath. Disanalah konon beliau mendapatkan dharsana Hyang Nayarana, Ishta Dewatanya. Karya Karika ini dianggap para ahli Hindhu Dharma sebagai ekspresi Sri Gaudapada, yang didapatkan dari berbagai pengalaman spriritualnya secara pribadi.

Sloka - 2      “Aku bersujud ke yoga yang disebut Asparsa ini, yang diajarkan melalui berbagai skripsi, yoga yang mempromosikan (menghantarkan) kebahagiaan kepada semuanya, yang langsung terbebaskan dari berbagai penderitaan dan pertentangan.”

Keterangan: Setelah menghaturkan sembah ke Yang Maha Esa, Sri Gaudapada kemudian menghaturkan sembah ke jalan yoga (ilmu-pengetahuan) yang dihayatinya selama ini. Di dalam Sanathana Dharma, Tujuan dan Jalan yang meniti ke Tujuan dianggap sama-sama penting dan sakral, jadi layak untuk dijadikan pujaan. Jalan ilmu pengetahuan adalah jalannya para Aryan yang sadar sekali akan hakikat Tujuan dan jalan ke Sang Tujuan ini. Mengenai Asparsa-yoga, telah diterangkan di bab sebelumnya, jalan ini ternyata dianjurkan oleh Sri Gaudapada kepada para nya, melalui karya ini.

Sloka - 3      “Banyak para peneliti yang berbantah-bantahan dantara mereka sendiri, ada yang menyatakan behwasanya sesuatu zat yang memang sudah hadir dari dahulunya ini sedang mengalami perubahan-perubahan evolusi; dan ada juga yang menyatakan (seakan-akan mereka ini sangat bijaksana) bahwasanya sebuah evolusi sedang berlangsung keluar Zat tersebut.”

Keterangan: Pandangan yang pertama adalah pandangan kaum Sankhyanas yang pada masa tersebut menyatakan, setiap benda yang eksis di alam-semesta ini diproduksi oleh suatu sebab, sedangkan pandangan kedua menyatakan teori  kaum Nyaya-Vaisheshikas, yang percaya bahwa setiap benda/perihal dan fenomena di alam semesta ini diproduksi atau tercipta dari sebab-sebab non-eksisten.

Sloka - 4      “Yang sudah eksis tidak bisa dilahirkan kembali, juga tidak mungkin bagi yang tidak eksis untuk eksis kembali. Demikianlah, berbantah-bantahan diantara mereka sendiri, tanpa disadari mereka menegaskan teori Adwaita dan mendukung teori non-penciptaan Yang Maha Hakiki.”

Sloka - 5      Kami menyetujui teori non-penciptaan yang berasal dari kaum Ajathi yang dideklarasikan oleh kaum dualis. Kami tidak berbantah-bantahan dengan mereka. Sekarang dengarkanlah dari kami apakah itu Realitas Yang Maha Utama yang lepas dari berbagai kontradiksi dan pertengkaran.”

Sloka - 6      “Kaum dualis yang selalu bertengkar diantara mereka ini selalu bersikeras bahwasanya yang tak dilahirkan . . . yaitu Zat yang tak berubah-ubah . . . Sang Atman, yang mengalami perubahan. Bagaimana mungkin suatu Zat yang tidak berubah-ubah dan abadi sifatnya berubah sifat menjadi tidak abadi?”

Sloka - 7      “Yang tidak abadi tidak bisa berubah menjadi abadi, demikian juga sebaliknya, karena tidak mungkin sesuatu berganti-ganti sifat.”

Sloka - 8      “Bagaimana mungkin bisa ia percaya behwasanya Zat abadi secara alami ini dapat berubah menjadi tidak abadi, (kemudian) bersikeras bahwasanya yang abadi ini setelah menjalani kelahiran mempertahankan sifatnya yang tidak berubah-ubah?”

Sloka - 9      “Kami mengerti akan istilah Prakriti atau sifat-sifat duniawi yang dominan dari berbagai benda, yaitu sewaktu berhasil dicapai, menjadi pelengkap total dari berbagai harta-benda ini; yaitu kualitas yang tidak berbentuk artifisial (imitasi atau palsu).  Dan tidak ada sesuatu apapun yang mampu menonjolkan sifatnya (yang asli).”

Sloka - 10  “Semua  zat yang bersifat egosentris, sesuai dengan sifat-sifat (aslinya) lepas dari berbagai kekotoran dan kematian.  Para jiwa yang berimajinasi, berpikir bahwa mereka ini dapat berubah-ubah bentuknya, dan dengan demikian, melalui pikiran mereka, mereka terkesan tersesat dari sifat mereka (yang sejati).”

Keterangan: Sang Atman adalah percikan Sang Brahman itu sendiri, jadi tidak mungkin dikotori oleh apapun juga, dan tidak mungkin dapat mati. Namun sewaktu terbungkus di dalam sesuatu bentuk jiwa, maka Sang Atman yang terbungkus oleh ilusi duniawi ini terkesan terbius dan sering tersesat dari sifatnya yang sejati dan sering berhalunisasi seakan-akan ia mengalami perubahan-perubahan terus-menerus sepanjang hidupnya.

Sloka - 11  “Mereka-mereka yang saling berbantahan ini, yang beranggapan bahwa akibat adalah sebab, berkata sebab itu lahir dari akibat. Bagaimana mungkin sebab itu berubah-ubah seandainya sebab lahir sebagai akibat? Bagaimana mungkin sebab bersifat abadi kalau sebab itu terkurung oleh berbagai modifikasi sang waktu?”

Sloka - 12  “Seandainya seperti yang dikau katakan, sebab itu identik dengan akibat, maka sifat-sifat akibat pastilah abadi dan tak terlahirkan. Lebih lanjut lagi, bagaimana mungkin sebab bersifat langgeng atau abadi seandainya ia tidak berbeda (identik dengan) dari akibat yang bersifat dilahirkan?”

Sloka - 13  “Tidak ada sebuah ilustrasi apapun di dalam kehidupan ini yang mampu mendukung kepercayaan bahwasanya akibat itu lahir dari sebab-sebab yang tidak dilahirkan. Sekali lagi, seandainya dikatakan bahwasanya akibat diproduksi oleh sebab yang sebenarnya bersifat dilahirkan (diciptakan), maka hal tersebut sama saja dengan melakukan kebohongan secara logika (Anavashta Dosh).”

Sloka - 14  “Bagaimana mungkin mereka-mereka yang bersikeras bahwasanya akibat adalah sebab dari sesuatu sebab, dan sebab adalah sesuatu sebab dari akibat yang mempertahankan sifat tanpa mula (kelahiran)nya baik bagi sebab maupun akibat.”

Sloka - 15  Mereka-mereka yang bersikukuh bahwasanya akibat adalah sebab yang berasal dari sebab dan sebab adalah sebab dari akibat; yang menerangkan, sebenarnya, (seakan-akan) adanya  sebuah evolusi (terbalik), yaitu ibarat kelahiran seorang ayah dari putranya sendiri.”

Sloka - 16   Seandainya sebab dan akibat dipertahankan secara semestinya, maka urutan sebab dan akibat ini harus ditetapkan.  Kalau seandainya dikatakan bahwasanya mereka berdua timbul pada saat-saat yang bersamaan, maka mereka ibaratnya adalah dua buah tanduk dari seekor fauna, yang tidak ada hubungannya dengan yang lainnya (walaupun ada di satu kepala).”

Keterangan; Sepasang tanduk memang tidak berhubungan satu dengan yang lain, namun kalau dipergunakan secara bersamaan dapat berakibat fatal. Pernyataan dari Sri Gaudapadiya   ini ditujukan sebagai sindiran kepada kaum Mimasaka yang senantiasa bersikeras dalam mempertahankan teori mereka. Sindiran ini sifatnya humoris.

Sloka - 17     “Sebab itu tidak bisa diwujudkan seandainya diproduksi dari akibat, (lalu) bagaimana mungkin sebab yang dikau akibatkan (timbulkan) yang bersifat tidak berwujud dapat melahirkan sesuatu akibat?”

Sloka - 18     “Seandainya sebab dilahirkan dari akibat dan juga seandainya akibat dilahirkan dari sebab, maka yang manakah yang dilahirkan dahulu, dan yang manakah yang bersandar kepada lainnya?”

Sloka - 19  “Ketidak-mampuan untuk menjawab“, “kebodohan akan sesuatu hal”, dan “Ketidak-mungkinan” untuk mengukuhkan sesuatu yang berhubungan dengan sebab dan akibat, secara jelas mempertegas pendirian kaum bijak untuk tetap bertahan pada teori non-penciptaan Yang Maha Hakiki (Ajati).”

Keterangan: Pernyataan di atas ini adalah ajaran inti dari Sri Gaudapadiya dalam karya ini, khusus bagi yang suka memperdebatkan hakikat Tuhan Yang Maha Esa,  yang merupakan Ajati (yaitu Hakikat Yang Tak Terciptakan).

Sloka - 20  Ada sebuah teori yang harus dibuktikan, yaitu hubungan antara sebuah benih (biji) tanaman  dan kecambah hasil dari benih tersebut. Ilustrasi-ilustrasi yang masih memerlukan pembuktian ini tidak bisa dipergunakan untuk menegaskan sebuah usul yang masih harus dibuktikan.”

Keterangan: Rupanya para penentang teori Sri Gaudapadiya mengajukan teori benih kecambah (sebab dan akibat) namun oleh Sri Gaudapadiya dijawab dengan sloka di atas ini. Menurut beliau, “sebab dan akibat” hanyalah merupakan kondisi sebuah unsur (sang benih) yang sama dengan sang kecambah, yang hadir pada dua tahap waktu yang berlainan. Perihal “benih” yang sama adalah “sebab dan akibat” dan juga “akibat yang menjadi sebab lagi”, yang berhubungan dengan waktu dan kondisi yang berbeda (mendatang). Jadi kita sebenarnya tidak tahu yang mana yang berasal dari yang mana pada awalnya, sang biji atau sang kecambah, seperti teori telur: ajam dulu atau telur dulu? Dilihat dari sudut kondisi dan waktu, maka yang satu bisa berubah menjadi yang lainnya dan begitu pula sebaliknya. Jadi Sri Gaudapadiya tidak mau menerima teori di atas sebelum teori ini dipastikan dulu.

Sloka - 21  Ketidak-mampuan untuk menunjukkan hubungan atau sebaliknya dari sebeb dan akibat ini jelas membuktikan tidak hadirnya evolusi atau penciptaan. Seandainya …….. akibat zat ego-sentris ini (sang jiwa) memang betul dilahirkan dari suatu sebab, lalu mengapa dikau tidak mampu menjabarkan secara pasti  hubungannya dengan sebab?”

Sloka - 22  “Tidak ada sesuatu apapun yang pernah dilahirkan, apakah itu dari dirinya sendiri, atau dari yang lainnya, atau dari kedua-duanya ini. Tidak ada sesuatu apapun baik  yang berbentuk makhluk hidup maupun yang tidak berbentuk makhluk hidup ataupun kedua-duanya yang pernah dilahirkan.”

Sloka - 23  “Sebab itu tidak bisa diproduksi dari sebuah akibat yang bersifat tanpa mula, juga tidak bisa akibat terlahir dari akibat itu sendiri. Sesuatu yang tanpa mula itu seharusnya bebas dari kelahiran.”

Sloka - 24  “Ilmu pengetahuan berciri subyektif harus mempunyai sebab yang berciri obyektif; kalau tidak, kedua-duanya haruslah tidak eksis. Oleh karena alasan  ini, juga didasarkan pada teori pengalaman penderitaan eksternal para Dwaitin, haruslah diterima.”

Keterangan: Teori pengalaman penderitaan eksternal para kaum Dwaitin menyatakan bahwa penderitaan itu sifatnya realistik, karena berasal dari dunia yang penuh dengan penderitaan ini. Dunia ini bersifat realistik kata mereka, maka begitu juga isinya. Argumen ini oleh  Sri Gaudapada dibalas dengan teori Buddhistik yang dicetuskan oleh kaum Vijnana Vadin. Teori Buddhistik ini hadir di sloka-sloka berikutnya (sloka 25, 26 dan 27).

Sloka - 25  Sejauh ini sesuai dengan alasan-alasan yang ada; maka fakta akan berbagai prularitas ini harus diterima (teori Yukti Dharsana). Namun dari susut pandang teori penganut Yang Maha Absolut (teori Bhuta Dharsana), dunia pruralistik dengan seluruh variasi-variasinya dan berbagai hubungannya ini bersifat ilusif.”

Sloka - 26  “Sang pikiran tidak melakukan kontak dengan berbagai obyek-obyek dunia ekstenal, tidak juga berbagai ide-ide yang tampil sebagai obyek eksternal berrefleksi ke sang pikiran. Kami tegaskan demikian, karena berbagai obyek bersifat non-eksis, dan berbagai ide, yang terkesan sebagai berbagai obyek dari dunia luar, tidak bersifat berjauhan dari sang pikiran.”

Sloka - 27  “Sang pikiran tidak memasuki hubungan kausal di dalam tiga periode waktu. Bagaimana mungkin sang pikiran dapat dipengaruhi oleh delusi, karena tidak ada alasan untuk terjadinya tipuan mental semacam itu.”

Keterangan: Sri Gaudapadiya sedang mencoba menerangkan, bahwasanya sang pikiran itu tidak bisa memasuki hubungan dengan apapun juga di tiga periode sang waktu, jadi beliau ini membantah adanya dunia yang realistik di manapun juga, tetapi iapun ingin membuktikan bahwa sang pikiran tidak akan terpengaruh oleh berbagai impresi walaupun ada dunia yang eksis ini. Ketiga periode sang waktu adalah: Periode permulaan (awal) dunia, waktu di tengah dan akhir zaman.

Sloka - 28  “Yang pernah dilahirkan …….. bukan berbentuk sang pikiran, juga bukan berbagai obyek yang dipersepsi oleh sang pikiran. Mereka-mereka yang bersikeras akan aspek-aspek kelahiran ini sebaiknya mencoba menemukan jejak-jejak burung di angkasa.”

Keterangan: Sri Gaudapada rupanya sudah tidak sabar lagi menghadapi kaum muda di hadapannya yang lebih condong teori dualis. Untuk membuat mereka faham ia harus mengulang-ulang secara tegas agar para pemuda ini dapat terpancing untuk berdiskusi dengannya penuh dengan pemahaman, dan tidak secara emosional maupun dengan menebak-nebak.

Sloka - 29  “Di dalam jalan pikiran para hadirin yang sedang berbeda faham ini, maka Itu (Yang Maha Esa) yang tak pernah dilahirkan ini dinyatakan telah lahir. Beliau akan senantiasa bersifat tak dilahirkan. Adalah tidak mungkin bagi sesuatu untuk berubah bentuk ke lainnya (sesuai dengan sifat-sifat aslinya yang dominan).”

Keterangan: Api itu sifatnya panas, jadi tidak ada itu yang disebut api dingin, atau es yang panas sekali. Demikian juga akan Yang Maha Pencipta, Beliau ini tidak pernah dilahirkan dan tidak akan pernah dilahirkan, karena memang sudah demikian hukum alam atau kodratNya Yang Maha Agung ini, jadi sia-sia saja mendiskusikanNya, kata Sri Gaudapadiya.

Sloka - 30  “Seandainya dunia ini diakui sebagai tak bermula …… seperti ditegaskan oleh para pembahas ini ….. maka dunia ini tidak dapat bersifat non-abadi. Moksha atau pembebasan itu tidak mungkin memiliki permulaan dan akan selalu bersifat abadi.”

Sloka - 31  Sesuatu yang bersifat non-eksis pada awalnya dan pada akhirnya, seharusnya juga bersifat non-eksis di tengah-tengah kedua periode sang waktu tersebut. Berbagai obyek yang kita saksikan adalah ilusi belaka, namun dianggap sebagai benar (realistik).”

Sloka - 32  “Argumentasi yang menyatakan bahwa berbagai obyek-obyek yang berada di alam-sadar, yang dianggap bermanfaat, hadir secara terbalik (sebaliknya) di alam-mimpi. Oleh karena itu, semua ini secara pasti diterima sebagai ilusi bagi para peneliti, karena dianggap mempunyai permulaan dan akhir.”

Keterangan: Banyak ahli di India percaya bahwa dunia mimpi itu bersifat realistik. Selama seseorang mampu bermimpi, maka mimpi mereka itu pastilah dianggap benar.  Perhatikan dan simaklah dengan naik argumentasi selanjutnya.

Sloka - 33  “Semua obyek yang dikenal  (dialami) di dalam berbagai mimpi bersifat tidak realistis karena semua ini disaksikan di dalam raga itu sendiri. Bagaimana mungkin menjabarkan berbagai benda yang telah dijabarkan sebagai eksis, berada benar-benar di dalam (raga) ?”

Sloka - 34  “Tidak mungkin bagi si pemimpi untuk pergi mendapatkan berbagai pengalaman obyek-obyek mimpinya karena terbatasnya waktu untuk melakukan perjalanan tersebut. Dan begitu ia sadar, ternyata ia tidak berada di tempat seharusnya ia berada di dalam mimpinya itu.”

Sloka - 35  “Si pemimpi, sewaktu ia terbangun dari mimpinya menyadari akan pembicaraan ilusif yang terjadi dengan seseorang atau dengan beberapa orang selama ia bermimpi. Lebih dari itu, ia tidak mendapatkan sesuatu  apapun juga yang berasal dari mimpinya itu.”

Sloka - 36  “Raga atau badan yang aktif berpartisipasi di kehidupan (alam) mimpi, seyogyanya dianggap tidak realistis (nyata) karena raga lainnya dari orang yang bermimpi ini dianggap tidur di atas ranjang, sedangkan raga satunya beraktifitas di dalam mimpinya. Sama halnya dengan raga (manusia ini, maka apa saja yang dikenali (dialami) di dalam mimpi seharusnya tidak bersifat realistis (nyata, benar).”

Sloka - 37  “Karena berbagai pengalaman dan obyek-obyeknya yang terdapat di alam mimpi ini mirip dengan berbagai pengalaman dan obyek-obyeknya di alam sadar, maka diperkirakan bahwasanya berbagai pengalaman di alam-sadar adalah penyebab berbagai mimpi. Didasari oleh pemikiran (alasan) ini maka berbagai pengalaman alam-sadar, yang dianggap sebagai penyebab mimpi,  nampak hadir seakan-akan nyata bagi orang yang bermimpi itu saja.”

Sloka - 38  “Karena penciptaan atau evolusi ini tidak dapat ditegaskan secara de facto maka semua (fenomena) ini dikatakan sebagai tidak pernah dilahirkan. Adalah tidak mungkin selamanya sesuatu yang bersifat tidak nyata dilahirkan dari sesuatu yang nyata.”

Sloka - 39  “Begitu terkesannya (terpesonanya) seseorang dengan berbagai obyek yang dilihatnya di alam-sadar ini, sehingga seseorang “melihatnya” juga di dalam mimpi-mimpinya ini, tidak ditemui lagi di alam-sadar (nya).”

Keterangan: Ada sesuatu yang tidak pernah didiskusikan dalam karya Upanishad ini, yaitu bagaimana menjabarkan sesuatu yang kita sakssikan di dalam mimpi, yang kemudian terulang lagi baik di dalam mimpi-mimpi berikutnya beberapa waktu kemudian, juga bisa terjadi persis dikehidupan alam sadar. Kemudian ada mimpi yang dapat menjadi petunjuk atau peringatan dini bagi seseorang, dan ini beragam sekali sifatnya. Terkesan semua orang yang berdebat ini termasuk Sri Gaudapada tidak mengacuhkan fenomena ini, padahal Smritis yaitu berbagai legenda Hindhu yang dianggap suci penuh dengan berbagai kisah-kisah mimpi yang menjadi petunjuk handal bagi yang mengalaminya.  [mohan.m.s ]

Sloka - 40  “Yang tidak nyata tidak dapat meyatakan yang tidak nyata sebagai sebab,  tidak juga Yang Nyata dihasilkan dari yang tidak nyata. Yang Nyata tidak mungkin adalah sebab dari Yang Nyata. (Lalu) bagaimana mungkin Yang Nyata dapat menjadi penyebab dari yang tidak yata?”

Sloka - 41  “Seperti seseorang yang berada di alam-sadar berbpikir bahwa alam ini bersifat nyata (melalui ilmu-pengetahuan yang salah) berbagai obyek yang sifatnya tidak dapat dijabarkan, demikian juga secara sama, di alam-mimpipun melalui ilmu-pengetahuan yang salah, seseorang mendapatkan bebagai obyek yang kehadirannya dimungkinkan hanya karena kondisi tersebut.”

Sloka - 42  “Seseorang yang bijaksana mendukung teori kasualitas ini. Hanya demi mereka yang khawatir akan Yang Maha Esa (Hakiki), yang Tak Diciptakan, mereka ini bersiteguh kepada teori realitas yang menikmati berbagai obyek (duniawi) dan berdasarkan cara berpikir dan iman mereka yang gemar melaksanakan berbagai upacara.”

Keterangan: Kepada para sadhaka pemula, para resi mengajarkan akan Hakikat  Yang Maha Esa dalam bentuk Kasualitas, agar mereka-mereka yang masih awam ini dan terikat pada berbagai  praktek upacara tidak bingung dan bimbang. Lambat laun para sadhaka dibimbing ke arah teori Akomisme (Ajata vada) ini. Kalau langsung diajarkan akan hakikat yang Maha Esa Yang Tak Berwujud, Yang Tak Terlahirkan, maka para sadhaka akan bingung dan kehilangan kepercayaan mereka akan pujaan yang mereka kenal secara tradisionil. Melalui tahap-tahap ritual, bakti dan upasana, baru kemudian dibimbing ke arah filosofi yang terkesan berat ini, yang tentu saja bukan merupakan “santapan rohani”  kaum awam. Itulah sebabnya seluruh karya ini dikhususkan bagi mereka-mereka yang telah melewati berbagai bakti, ritual dan upasana dalam bakti mereka ke Yang Maha Esa.

Pada mulanya memang karya ini terasa kacau dan membingungkan sekali, namun setelah mempelajari berbagai Upanishad, Bhagavat-Gita, karya-karya shahtra-widhi lainnya dan kembali mendalami ajaran ini, maka akan terbukalah wawasan intelektual (budhi) seorang sadhaka  yang sedang berorientasi ke penelitian mengenai Hakikat Tuhan Yang Maha Esa. Jadi karya ini sebaiknya difahami sebagai sebuah studi banding untuk bakat-bakat khusus saja.

Sloka - 43  “Mereka-mereka yang khawatir akan Sang kebenaran sebagai hakikat Non-manifestasi dan juga berdasarkan persepsi mereka akan dunia obyek-obyek dan berbagai fenomena ini, mereka tidak terpengaruh oleh pengaruh iblis karena mereka percaya akan teori kasualitas. Kalaupun ada pengaruh ini, maka pengaruh tersebut tidak begitu terlalu nyata.”

Keterangan: Pada mulanya teori kasualitas mengajar kita semua dengan berbagai praktek, cara berbakti, ritual, pemahaman akan simbol AUM dan sebagainya. Lama-kelamaan kita bertanya-tanya apakah benar semua ini benar-benar jalan ke Yang Maha Esa, dan seperti apakah Hakikat Beliau ini (Yang Maha Agung). Bagi para sadhaka, dalam tahap inilah baru ajaran Upanishad dari Sri Gaudapadiya ini bisa bermakna. Sering orang-orang bertanya, salahkah kita, kalau orang menyembah ke berbagai dewa-dewi, ataukah semua ini disesatkan oleh iblis?  Tidak!, jawab Sri Gaudapadiya, karena memang demikian prosesnya, dari kurang pengetahuan, menjadi faham secara benar, persisi sama seperti sekolah saja.

Sloka - 44  “Ibarat seekor gajah yang dihadirkan oleh imajinasi (seorang tukang sulap), dikatakan eksis (di depan mata para penonton), oleh karena (a) …. Hal tersebut dirasakan, (b) karena gerak-gerik sang gajah yang meyakinkan akan kehadirannya. Demikian juga dengan berbagai obyek duniawi ini yang  (a) …. Hadir karena dirasakan dan (b) karena memenuhi hasrat-hasrat manusia itu sendiri akan kebutuhannya untuk berbagai obyek duniawi tersebut.”

Sloka - 45  “Kesadaran murni yang terkesan dilahirkan, atau yang bergerak atau yang mengambil bentuk  sesuatu benda, sebenarnya tidak pernah dilahirkan, tidak bergerak dan lepas dari materi; beliau itu sifatNya Kedamaian Total dan Tunggal.”

Sloka - 46  “Demikianlah sang pikiran ini (sebenarnya) tidak terikat oleh kelahiran atau perubahan. Semua makhluk sebenarnya bebas dari kelahiran. Mereka-mereka yang telah menyadari (memahami) hakikat kebenaran ini tidak akan terpengaruh oleh ilmu-pengetahuan yang palsu ….yaitu berbagai penalaran yang salah akan Yang Maha Hakiki.”

Sloka - 47  “Ibarat alur bara-api sewaktu sedang bergerak terlihat lurus, berkelok-kelok, bergulung-gulung dan sebagainya, demikian juga  dengan kesadaran sewaktu bergetar akan terkesan seakan-akan ia adalah “yang menyadari” atau “yang disadarkan” dan lain sebagainya.”

Keterangan: Alur api (Alata) ini disebut-sebut di ajaran Maitrayam Upanishad sewaktu menggambarkan  Sang Hyang Brahman yang oleh masing-masing individu dipandang dan dihayati secara berbeda satu dari yang lainnya, sesuai dengan tahap kesadaran masing-masing individu itu sendiri; walaupun “Itu intinya adalah Tuhan Yang Maha Esa, dan itu adalah api.”

Sloka - 48  “Sewaktu tidak bergerak maka alur bara api akan lepas dari berbagai bentuk dan terkesan  diam. Demikian juga dengan kesadaran, sewaktu tidak tergetar  dengan berbagai imajinasinya akan lepas dari berbagai bentuk dan bersifat (terlihat) diam tanpa berganti-ganti bentuk.”

Sloka - 49  “Sewaktu alur api sedang berada dalam bentuk gerakan, maka berbagai bentuk alur apipun ttidak  akan pergi kemana-mana, tidak juga dapat dikatakan bahwasanya berbagai bentuk api tersebut telah menyatu ke api ini, sewaktu alur api berhenti bergerak.”

Sloka - 50  Berbagai bentuk alur api ini tidak berasal dari api tersebut karena memang bukan “benda” substantial. Demikian juga dengan kesadaran itu sendiri yang memiliki kesamaan dengan dua kasus tersebut di atas.”

Sloka - 51  - 52 “Sewaktu kesadaran dihubungkan dengan sefat-sifat, maka apa yang terlihat dan terkesan, tidak berasal dari manapun juga. Sewaktu kesadaran sedang aktif, maka berbagai kesan yang terlihat juga tidak pergi  kemanapun juga. Demikian juga dengan berbagai kesan yang terlihat, tidak juga pernah memasukinya; kesan-kesan yang nampak terlihat ini tidak pernah muncul dari Kesadaran tersebut karena tidak bersifat nyata; Semua fenomena ini berada di luar (jalan pikiran) dan kata-kata, karena memang tidak berhubungan dengan ikatan sebab-akibat.”

Sloka - 53  “Sesuatu benda fisik dapat saja merupakan produk dari benda yang lain; demikian juga sesuatu yang bersifat bukan benda bisa memproduksi sesuatu benda lain yang bukan juga bersifat benda. Demikianlah, pusat-pusat ego dikatakan tidak bisa bersifat benda maupun berbeda dengan benda.”

Keterangan: Ego-sentris seorang individu disebut bukan sebagai benda (Dravya), juga bukan “bukan benda (Anyabhava)”. Tidak ada sesuatu apapun yang dapat menciptakannya, demikian juga ia tidak dapat menciptakan  sesuatu.

Sloka - 54  “Demikianlah bentuk eksternal berbagai obyek indriyas, tidak diciptakan oleh sang pikiran, juga tidak bisa dikatakan bahwasanya sang pikiran sebaliknya diciptakan oleh berbagai indriyas ini. Oleh karena itu semua manusia yang bijak berprinsip bahwasanya non-penciptaan atau non-evolusi adalah Kebenaran Sejati.”

Sloka - 55  “Selama seseorang percaya kepada prinsip Kebenaran Sejati (hukum Kasualitas ini), maka selama itu pula ia akan menyadari berfungsinya hukum ini, namun sewaktu prinsip ini hilang dari jalan pikiran seseorang sadhaka, maka hukum sebab-akibatpun akan hilang darinya.”

Sloka - 56  “Selama seseorang percaya akan kasualitas yang berintikan berbagai kematian dan kelahiran (tanpa habis-habisnya), maka fenomena itu akan eksis. Namun sewaktu kepercayaan tersebut hancur oleh ilmu-pengetahuan, maka kelahiran dan kematian berubah menjadi tidak eksis lagi.”

Sloka - 57  “Konsep tentang kelahiran hanyalah sebuah pengalaman ilusif yang tercipta karena didasari oleh sebuah kebodohan (kekurang-pengetahuan), jadi sebenarnya tidak ada sesuatu apapun yang abadi. (Karena) semua ini berasal dan bersatu dengan Realitas Utama, maka dikatakan tidak ada yang pernah dilahirkan dan, tidak ada itu yang disebuat kiamat (penghancuran, kematian).”

Keterangan: Secara duniawi kita memang lahir dan mati, tetapi proses tersebut terulang terus secara sistematis, dan sifatnya malahan abadi. Dari sudut pandangan Sang Pencipta tidak ada lahir dan mati, yang eksis hanya prosesnya saja; dari sudut pandangan dan pikiran manusia semua fenomena ini dianggap ada, dan manusia ketakutan sendiri akan pralaya (kiamat, kematian).

Sloka - 58  “Berbagai elemen  (unsur-unsur) yang brhubungan dengan pusat-pusat ego disebut dilahirkan; namun dari sudut pandangan Realitas Utama, hal tersebut tidak dimungkinkan. Oleh karena itu dikatakan kelahiran itu sifatnya adalah obyek ilusi. Dan yang namanya ilusi itu bersifat tidak eksis.”

Sloka - 59  “Kecambah ilusi tumbuh dari benih ilusi. Kecambah ilusi ini tidak permanen maupun non-permanen sifatnya. Demikian juga dengan berbagai jiwa-jiwa (ini).”

Sloka - 60  “Unsur “permanen” ataupun “non-permanen” tidak dapat diaplikasikan kepada ego-ego yang belum dilahirkan. Sesuatu yang tidak bisa dijabarkan dengan kata-kata tidak bisa dibeda-bedakan sebagai benar ataupun salah.”

Sloka - 61  “Ibarat di dalam mimpi sang pikiran terkesan berperi-laku melalui delusi, dan memproduksi dualitas akan dirinya sendiri, demikian juga di alam-sadar ini sang pikiran ini terkesan melaksanakan berbagai hal melalui Maya dan memproduksi berbagai penampakan (hal, fenomena yang bersifat) pruralistik.”

Sloka - 62  “Tak ada keragu-raguan bahwasanya sang pikirang yang sebenarnya tidak non-dual sifatnya, memecah-mecah dirinya menjadi banyak di alam-mimpi. Demikian juga di alam sadar ini sang pikiran ini bersifat non-dual dan melakukan hal yang sama.”

Sloka - 63  “Berbagai bentuk kelahiran dari berbagai jenis telur, keringat, dan lain-lainnya, selalu terlihat oleh seseorang yang bermimpi sewaktu ia hidup di dalam mimpinya, ia kesana-kemari, ke 10 arah di dalam mimpinya ini, ---- (sebenarnya) semua ini tidak eksis, jauh dari sang pikiran si pemimpi tersebut.”

Sloka - 64  “Berbagai pusat-pusat sang pikiran yang berbeda-beda ini, yang adalah berbagai obyek sang pikiran itu sendiri tidak memiliki eksistensi mereka masing-masing selain dari pikiran itu sendiri. Demikian juga, pikiran sang pemimpi ini diterima sebagai obyek persepsi sang pemimpi itu sendiri. Oleh karena itu, pikiran sang pemimpi itu tidak terpisah dari sang pemimpi itu sendiri.”

Sloka - 65  - 66 “Berbagai bentuk kelahiran dari pusat-pusat ego yang dilahirkan dari berbagai unsur (jenis) telur, keringat, biji-bijian dan lain sebagainya, yang dirasakan oleh seseorang di alam sadar, di sepuluh arah, adalah hanya obyek sang pikiran dikala ia berada di alam sadar. Demikian juga, pikiran seseorang di alam sadar ini diterima sebagai berbagai obyek-obyek persepsi dari orang yang berada di alam sadar itu sendiri. Oleh karena itu, sang pikiran disebut tidak berpisah dari orang yang merasakan itu semuanya.”

Sloka - 67  “Kedua-duanya, yaitu sang pikiran dan berbagai pusat-pusat ego, adalah obyek-obyek persepsi bagi satu dengan yang lainnya; lalu bagaimana dapat dikatakan mereka ini lepas bebas satu dari yang lainnya? Kedua-duanya tidak memiliki ciri (tanda) tertentu yang dapat membedakan mereka, karena yang satu hanya dapat dikenali melalui yang satunya lagi.”

Sloka - 68  “Seperti halnya dengan jiwa di alam-mimpi merealisasikan dirinya sebagai mahluk dan kemudian sirna, demikian juga halnya dengan berbagai ego yang hadir di dalam alam-sadar kita, muncul kemudian hilang.”

Sloka - 69  “Seperti halnya dengan gabungan berbagai unsur merealisasikan dirinya dan kemudian berlalu, demikian juga halnya dengan berbagai jiwa yang terasakan kehadirannya di alam sadar, datang dan pergi.”

Sloka - 70  “Ibarat semua pusat-pusat ego yang bersifat artifisial (tidak asli) datang dan pergi, demikian juga dengan berbagai jiwa yang terasakan di alam-sadar datang dan pergi.”

Sloka - 71  “Tiada satu makhlukpun yang pernah dilahirkan; tidak juga ada alasan untuk penciptaan ini. Kebenaran Sejati  adalah behwasanya tidak ada sesuatu apapun dilahirkan.”

Sloka - 72  “Dunia yang bersifat dualitas ini dicirikan berdasarkan konsep hubungan antara subyek dan obyek, dan kemudian hal ini diterima oleh yang menerima konsep ini; semua ini adalah pekerjaan sang pikiran. Sang pikiran ini sekali lagi (sebenarnya) tidak pernah berhubungan dengan salah satu obyek apapun juga (ini). Oleh karena itu, sang pikiran ditegaskan sebagai abadi dan tak tersentuh.”

Keterangan: Teori Vedantin di atas ini menyatakan bahwa Sang Pikiran  adalah Sang Brahman itu sendiri, jadi bersifat abadi dan tidak dapat disentuh oleh fenomena maupun benda apapun juga.

Sloka - 73  “Sesuatu yang eksis berdasarkan kekuatan ilusi, pada hakikatnya tidak eksis. Sesuatu yang dikatakan eksis berdasarkan kekuatan pandangan yang didukung oleh berbagai aliran kepercayaan lainnya, sebenarnya (pada hakikatnya) tidak pernah eksis.”

Keterangan: Penjelasan di atas dapat dikategorikan mencengangkan atau menakjubkan untuk sementara ahli. Yang Maha Esa dan Hakikatnya yang oleh berbagai aliran kepercayaan di dunia ini (dari masa ke masa) itu disebut sebagai Yang Maha  Hakiki, tetapi kalau ada yang menentang teori ini, (yang tidak dipaksakan);  karena Hakikat itu eksis atau tidak bukan karena berbagai golongan menyatakan  pro dan kontranya, namun karena KehendakNya belaka! Yang Maha esa ini, sekali lagi bukan untuk diperdebatkan, namun untuk dihayati dan difahami.!

Sloka - 74  “Sang Atman, dikatakan sebagai tidak dilahirkan ditinjau dari sudut pengalaman dan pandangan sehari-hari. Bahkan dikatakan sebenarnya Sang Atman memang tidak pernah dilahirkan (eksis). Sang Atman terkesan hadir karena hal tersebut adalah kepercayaan dari berbagai aliran kepercayaan.”

Sloka - 75  “Manusia mempunyai persepsi kepercayaan yang “amburadul” sifatnya akan Realitas ini Yang Tidak Nyata ini. “Tidak ada dualitas. Seseorang yang telah menyadari akan ketidak-hadiran dualitas, tidak pernah dilahirkan kembali, karena sudah tidak ada alasan lagi untuk dilahirkan.”

Keterangan: Sri Gaudapada di sloka ini seakan-akan menyatakan konklusi terakhirnya akan sifat-sifat manusia yang agak “konyol  atau amburadul”. Sekali sebagian manusia ini berpersepsi, mereka langsung menjadi fanatik dengan kepercayaan tersebut, dan mereka ini atas nama agama, adat ataupun budaya bisa lebih “tuhan“ dari Yang Maha Esa itu sendiri.  Keperyaan ini disebutnya amburadul atau konyol (Abhinivesa), dan sebenarnya sangat menghancurkan sang individu maupun kelompoknya sendiri. Namun beliau juga berkata bahwasanya seseorang yang egonya telah mati dan mengenal Hakikat Yang Maha Esa (Realitas Sejati) dan memahamiNya, maka bagi insan ini tidak akan  berreinkarnasi, namun pada hakikatnya semua fenomena duniawi ini sudah bukan masalah lagi baginya!

Sloka - 76  “Sewaktu sang pikiran tidak mendapatkan suatu alasan utama atau yang tidak utama atau yang di tengah-tengah kedua faktor ini, maka sang pikiran ini berubah bebas dari kelahiran. Bagaimana mungkin bisa terjadi akibat kalau sebabnya tidak hadir?”
Sloka - 77  “Tahap ilmu-pengetahuan, atau non-evolusi dari sang pikiran yang tidak pernah dilahirkan dan tanpa hubungan apapun juga, bersifat absolut dan konstan.  Semua hal lainnya, oleh karena itu secara sama rata tidak dilahirkan, karena kemajemukan sebenarnya adalah proyeksi obyektif dari sang pikiran itu sendiri.”

Sloka - 78  “Setelah menyadari (memahami) ketidak-hadiran unsur kasualitas sebagai Sang Jati Diri (Atman), yaitu Kebenaran Yang Tidak Terbatas …… maka, sewaktu seseorang tidak menemukan sesuatu alasan atau sebab untuk bermanifestasi lagi …. maka orang tersebut akan mencapai pembebasan Sang Jati Diri yang lepas dari kekhawatiran, berbagai nafsu, berbagai hasrat dan ketakutan.”

Sloka - 79  “Oleh karena ikatan seseorang kepada benda-benda yang tidak nyata (duniawi), maka sang pikiran ini berlari mengejar berbagai obyek indriyas tersebut. Namun hal tersebut bisa berbalik sewaktu seseorang berubah tidak terikat lagi ….. memahami dirinya ……. sewaktu ia meyakini akan ketidak-nyataan semua obyek ini secara total."

Sloka - 80  “Jalan pikiran seseorang yang telah hancur dari berbagai ikatannya akan menarik dirinya dari berbagai godaan ……. Kemudian akan mencapai tahap Kemurnian yang tidak berubah-ubah. Faktor ini difahami oleh para kaum bijak sebagai sesuatu yang tidak bisa dibeda-bedakan (dibanding-bandingkan), tidak memiliki kelahiran, dan non-dual.”

Keterangan: Yang disebut faktor di atas adalah Tuhan Yang Maha Esa.

Sloka - 81  “Sang Jati Diri yang lepas dari kelahiran dan lepas (bebas) dari “tidur” dan “mimpi” mengungkapkan diriNya oleh diriNya juga; karena pada hakikatnya, ang Jati Diri ini, bersifat senantiasa bercahaya gilang-gemilang.”

Sloka - 82  ‘Karena sang pikiran selalu terikat kepada berbagai obyek  individual (duniawi), maka Kebahagiaan Ilahi (Sukham-avriyate nityam) itu selalu terselubung sifatnya, dan berbagai penderitaanpun muncul ke permukaan. Oleh sebab itu, Tuhan Yang Maha Esa (Bercahaya) ini sulit untuk direalisasikan.”

Sloka - 83  “Mereka-mereka yang masih bersifat “kekanak-kanakan” mengungkap (menjabarkan), Kebenaran ini sebagai: eksistensi, non-eksistensi ………dan, analisa mereka ini datang dari berbagai ekspresi seperti: yang permanen (abadi), yang tidak permanen (tidak abadi), yang memiliki sifat abadi dan tidak abadi, (keabadian dan ketidak-abadian).”

Keterangan: Aliran Vaisheshikas berpendapat bahwa Sang Atman itu jauh adanya dari raga, indriyas dan prana. Atman oleh mereka disebut Eksistensi.

Kaum Buddhis dari aliran  Kshanika Vijnana Vadine berpendapat bahwasanya sang Atman itu walaupun terpisah dari raga ini, bersifat identik dengan sang intelek (buddhi).

Menurut aliran Jaina, Sang Atman adalah “Eksistensi dan Bukan Eksistensi” (Asti-Nasti). Bagi mereka ini ukuran Sang Atman itu sama besarnya dengan  raga yang menyandangNya, dan sewaktu raga itu eksis, sang Atman pun ikut eksis. Sewaktu raga ini binasa, Sang Atmanpun tidak eksis. Yang terakhir adalah  kepercayaan dari salah satu aliran Buddhis yang disebut kaum Nihilis, menurut mereka tidak ada realitas yang dapat dibanding-bandingkan dengan sang Atman. Semua yang lain apakah itu makhluk hidup maupun benda mati  berakhir dengan kehancuran (kematian). Jadi bagi mereka “Penolakan Absolut” (Nasti-Asti) adalah “Kebenaran Yang Maha Utama.”

Sloka - 84  “Di sini terpapar empat pendapat alternatif yang berhubungan dengan sifat Sang Atman. Karena berhubungan dengan keterikatan seseorang kepada pendapat-pendapat ini, maka Sang Atmanpun terselubung dari pandangan orang-orang tersebut. Barangsiapa yang faham  bahwasanya Sang Atman ini tidak tersentuh oleh berbagai teori ini, sebenarnyalah yang merasakan (melihat dan juga memahami) Sang Atman.”

Sloka - 85  “Seandainya orang tersebut telah mencapai tahap Sang Brahman, sebuah tahap non-dualitas yang sempurna, yang tidak bermula tidak berakhir, dan tidak bertengah (masa diantara mula dan akhir) ……..maka apa lagi yang  harus dihasratkan?

Sloka - 86  “Kesadaran akan Hakikat Sang Brahman ini adalah dengan sendirinya merupakan kerendahan hati alami bagi Sang Brahman. Orang-orang yang sadar ini sifatnya selalu spontan. Mereka-mereka ini dikatakan telah mencapai kendali atas indriyas mereka secara sempurna ……, dan ini mereka dapatkan secara alami  (sebagai suatu kewajaran spiritual). Barang siapa yang menyadari akan hakikat Sang Brahman Yang Maha Shanti, maka orang tersebut akan berubah menjadi shanti (tenang dan damai).”

Sloka - 87  “Vedanta mengakui tahap empirik dari tahap alam-sadar dimana unsur pruralitas berhubungan dengan berbagai obyek dan ide-ide yang dikenal (selama ini). Vedanta juga mengakui tahap lembut lainnya dimana pruralitas dialami, dimana berbagai ide (faham, pikiran) berhubungan dengan berbagai obyek yang sebenarnya tidak eksis.”

Keterangan: Sri Gaudapadiya di sloka ini menyitir ajaran dari aliran kaum Buddhis yang disebut Yogacharas. Di dalam ajaran ini, alam sadar disebut Laukika,  dan alam-mimpi disebut sebagai Suddha Laukika. Mandukya Upanishad ini telah menerangkan kedua tahap ini sebelumnya.

Dalam tahap Laukika dan Suddha Laukika, terdapat hubungan antara  yang merasakan dan yang dirasakan  dan satu-satunya perbedaan (kelainan) adalah dalam tahap sadar, “orang yang sadar” merasakan berbagai obyek yang terkesan nyata, sebaliknya “orang yang bermimpi” merasakan berbagai obyek yang sebenarnya adalah ide  atau faham yang berasal dari pikiran yang terobsesi oleh alam mimpi ini.

Sloka - 88  “Dan ada lagi sebuah tahap lain dari kesadaran yang diterima oleh kaum yang bijak, pendapat ini bebas dari hubungan obyek-obyek eksternal dan juga bebas dari brbagai bentuk jalan pikiran yang hdir secara internal. Tahap ini jauh dari berbagai pengalaman empirik. Kaum bijak selalu menjabarkan ketiga-tiganya ini ….., yaitu sebagai ilmu-pengetahuan, ilmu-pengetahuan akan berbagai obyek, dan yang harus dipahami ….., yaitu Sang Realitas Utama.”

Sloka - 89  “Ilmu-pengetahuan dan ketiga lapis yang difahami ini, sewaktu dimengerti secara susunan yang benar, satu sesudah yang lainnya, maka seseorang yang memiliki naluri yang tinggi secara  spontan akan mencapai tahap ilmu-pengetahuan yang hadir dimana saja dan di dalam apa saja di kehidupan ini.”

Keterangan: Tahap yang dimaksud di  atas disebut sebagai tahap Thuriya dari Kesadaran Murni, seseorang yang mampu mencapai tahap ini disebut seorang yang suci  (Sant, Santa). Ia terserap ke dalam Sang Atman dan berubah menjadi Atman itu sendiri, dan mampu hadir dan faham akan berbagai fenomena di mana saja dan dalam bentuk apapun juga.

Sloka - 90  “Empat hal yang harus diketahui pada saat permulaan adalah  (1) hal-hal yang harus dihindari; (2) obyek (tujuan) yang harus direalisasikan; (3) hal-hal yang harus dicapai dan (4) berbagai jalan pikiran yang dirasakan sebagai tidak efektif; diantara ke empat ini, semua unsur-unsur tersebut di atas selain unsur yang harus direalisasikan, hadir hanya sebatgai imajinasi belaka.”

Sloka - 91  “Semua unsur sesuai dengan sifat-sifat alaminya bersifat tanpa mula dan tak terlihat, ibarat kehampaan (ruang angkasa). Tidak ada varietas sedikitpun di dalam unsur-unsur ini dilihat dari sudut manapun, maupun pada dimensi waktu apapun.”

Keterangan: Dalam tahap Thuriya, Kebenaran  Hakiki ini tidak tersentuh oleh unsur apapun, dalam bentuk apapun, maupun oleh sang waktu itu sendiri.

Sloka - 92  “Semua unsur-unsur ego-sentris, sesuai dengan sifat-sifat asli, telah terang (dicahayai) dari permulaan, dan mereka ini tak tergoyahkan sifatnya. Barangsiapa berdasarkan ilmu-pengetahuan ini, sudah merasa cukup dan tidak mencari ilmu-pengetahuan lain, maka ia seorang diri akan mampu menyadari (Hakikat) Kebenaran Yang Maha Tinggi.”

Sloka - 93  “Semua unsur-unsur ego-sentris yang dari permulaan dan dikarenakan oleh sifat alami mereka berciri sama, tidak dilahirkan dan bebas secara sempurna; sifat utama mereka adalah kesamaan dan tidak berbeda-beda satu dari yang lainnya. Oleh sebab itu, berbagai unsur ini sebenarnya tidak bukan dan tidak lain dari Sang Atman, yang tidak dilahirkan, selalu bersemayam secara mantap di dalam “Persamaan dan Kemurnian.”

Keterangan: Sekali lagi kami jelaskan bahwa yang dimaksud dengan ego-sentris  itu sama artinya dengan jiwa (individual).

Sloka - 94  “Mereka-meraka yang selalu bersandar pada konsep perbedaan, tidak akan pernah merealisasikan Kemurnian alami yang hadir di dalam Sang Jati Diri. Karena itu, mereka-mereka yang terserap di dalam faham pruralitas ini dan mereka-mereka yang membedakan setiap benda dan individu satu dari yang lainnya, disebut sebagai orang-orang yang berpikiran sempit (Kripanah).”

Sloka - 95  “Hanya mereka yang dapat disebut teramat bijaksana yang sangat teguh dengan iman mereka akan Hakikat Sang Jati Diri, Yang Tak Dilahirkan dan Senantiasa Sama; fenomana ini, tidak bisa difahami oleh manusia awam.”

Sloka - 96  “Kesadaran murni, intisari dari berbagai unsur (jiwa) yang berlainan dikatakan sebagai Jati Diri yang tak dilahirkan dan tidak berhubungan dengan obyek-obyek eksternal apapun juga. Ilmu-pengetahuan ini dikatakan tidak bersyarat (tidak bisa ditawar-tawar lagi), karena bagaimanapun juga tidak berhubungan dengan obyek-obyek lain dalam bentuk apapun juga.”

Keterangan: Teori di atas adalah kepercayaan kaum Naiyayaka, akan Sang Atman.

Sloka - 97  “Sedikit saja pemahaman akan hadirnya unsur-unsur pruralitas dalam Sang Atman oleh seseorang yang kurang pengetahuannya, akan menghalangi mereka dalam mendekati Beliau Yang Hakiki ini, di manakah kemudian akan ada kehancuran tirai penutup Hakikat Asli Sang Atman ini?”

Sloka - 98  “Semua jiwa (sebenarnya) bebas dari ikatan dan murni sifatnya. Mereka ini senantiasa bercahaya dan merdeka semenjak masa permulaan. Namun, tetap saja para kaum bijak menyebut para individu ini sebagai “mereka-mereka yang berkemampuan untuk memahami” …………Sang Jati Diri.”

Sloka - 99  “Ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang yang telah sadar, yang teramat bijak, tidak akan tersentuh oleh berbagai obyek (duniawi). Semua unsur, sama halnya dengan ilmu-pengetahuan juga tidak tersentuh oleh obyek-obyek apapun juga. Ini bukan pandangan Sang Buddha.”

Keterangan: Dua sloka terakhir ini adalah akhir dan konklusi Sri Gaudapadiya, pernyataan ini mirip dengan ajaran Sang  Buddha Gautama, yang juga berasal dari kurun waktu yang sama dengan Sri Gaudapadiya. Pada masa itu di India, kaum brahmana yang picik, sangat alergi terhadap ajaran sang Buddha Gautama. Sri Gaudapada menegaskan bahwa ajaran-ajarannya bukan berasal dari ajaran Sang Buddha, namun intisarinya memang sudah hakikatnya demikian (jadi tidak ada perbedaan antara Hindhu dan Buddha sebenarnya!). Filosofi Buddhis amat mendekati ajaran Advaita secara dialektik, namun ada perbedaan-perbedaan yang tipis diantara keduanya. Sang Budha sebenarnya tidak pernah mengajarkan bahwasanya  Yang Maha Absolut adalah Realitas Yang Terakhir.

Sloka - 100    “Setelah menyadari tahap Realitas Utama ini, yang hakikatnya sulit untuk digapai secara murni ….yaitu tidak dilahirkan, senantiasa sama, secara total bersifat ilmu-pengetahuan dan lepas dari pruralitas ……..maka kami menghaturkan puja hormat kami sebaik mungkin dengan kemampuan yang kami miliki.”

Keterangan: Demikianlah Sri Gaudapadiya menutup ajarannya ini dengan puja syukur penuh hormat kepada Sang Hakikat Yang Maha Utama. Dengan teramat rendah hati beliau berkata bahwasanya puja hormat  ini adalah minimum sifatnya dibandingkan dengan kemampuan Tuhan Yang Maha Esa di dalam bidang apapun juga. Dengan kata lain beliau  mengingatkan kita semua bahwa seberapapun tingginya ilmu yang kita miliki, sebenarnya tidak berarti apa-apa di depan Yang Maha  Esa. Jadi berhentilah berdiskusi akan kepercayaan orang lain, dan mempermasalahkan kepercayaan agama orang lain, namun sebaiknya senantiasa giatlah selalu memahami Sang Jati dirimu sendiri. Inilah intisari yang tersirat di ajaran yang terkesan amat rumit ini. Salam puja penuh hormat bagi Sri Gaudapadiya yang telah bersusah payah beryagna bagi umat  manusia melalui karya Karika Upanishad ini. Puja sujud dan hormat sekali lagi baginya dan Yang Maha Hakiki serta seluruh jajaran  resi Sanathana Dharma dari masa ke masa, sesuai dengan kemampuan yang teramat minim yang kami miliki secara duniawi ini.

“Tak Terikat, Tak Terikat, Tak Terikat Aku ini lagi dan lagi; Aku bersifat Absolut; Eksistensi Ilmu-Pengetahuan ……..Kebahagiaan Ilahi; Aku adalah Aku ……Yang Abadi, yang Tak Terbinasakan, Yang Tak Terhancurkan !!!”

OM SARVAM BHUTAM MANGGALAM
OM SHANTI SHANTI SHANTI
OM TAT SAT
Dengan ini berakhirlah karya Mandukya Upanishad dan Karika ini
semoga bermanfaat bagi semuanya.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar